{Kembali} ke Titik Awal bersama.

Pernah kudengar seseorang mengatakan, bahwa kehamilan mengubah hidup kita sebagai seorang wanita.
Dan sekarang aku diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk merasakannya sendiri.
Ya benar, rasanya sungguh merupakan pengalaman yang mengubah hidupku.

Seperti halnya pernikahan yang telah kujalani dua tahun bersama suamiku, dimana aku merasakan seperti masuk ke ruang kelas kehidupan yang baru : kini aku kini tengah mempersiapkan diri menjadi seorang Ibu; sebuah pengalaman baru yang sangat menakjubkan!

Menjadi Ibu bagiku rasanya belajar menjadi superhero yang harus melepaskan ego kita dan (segera akan) belajar untuk merawat anak yang Tuhan percayakan pada kita, yang begitu tergantung dengan kita.

Seperti start dari nol kembali rasanya. Anehnya, hidupku malah lebih mantap menapak, seperti punya tujuan baru. Aku dan dia, sama-sama dari awal. aku dari awal menjadi seorang Ibu, dan dia mengarungi awal kehidupannya di bumi. : ) Terima kasih Tuhan untuk karuniaMu.

Aku begitu mensyukuri pengalaman hidupku saat ini.

Kini usia kehamilanku beranjak menuju ke 38 minggu. 2-3 minggu lagi, anak kami akan lahir.
Oh Tuhan, aku akan jadi Ibu!

Kusiapkan perlahan perlengkapan bayiku sejak usia kandunganku lepas dari 28 minggu. Tak sabar kami menantinya hadir. Aku bersyukur punya suami yang begitu supportif dan menyayangiku. Begitu juga dengan orang tua dan keluarga kami.

Anakku, mama papa tak sabar menantimu sayang : )

Advertisements

Mengapa “follow your passion” adalah saran yang menyesatkan

Mengapa “follow your passion” adalah saran yang menyesatkan.

Rebloging from Paramita Mohamad blog.

Lagi, dan lagi, sebuah artikel yang bagus dari Paramita Mohamad (yang sebenarnya telah saya temukan sebelum menemukan tulisan Cal Newport mengenai Passion). Enjoy reading it again and again, while i re-thinking and concerned about my truest calling of life, pursuit of happiness, and purpose of my life.

Enjoy it.

 

Paskah Tuhan dan kebangkitanku.

Tags

, ,

Berat ya tulisan ini nampaknya. Namun tidak seperti yang dibayangkan kok. Hanya ingin bersharing dan mendeklarasikan kembali makna hidup saya yang buyar karena berbagai problem khas peralihan remaja, menjadi seorang dewasa yang bertanggung jawab. Saya bersyukur buat pencapaian yang hingga saat ini saya peroleh. Dan semuanya itu hanya karena kasihNya. Saya sudah banyak meninggalkanNya. Seringkali menunda waktu doa malah. namun panggilanNya selalu menggema di hati saya. Jika kamu mendengarNya lebih banyak, pasti kamu juga merasakanNya. Masa Paskah ini, saya tidak pergi ke Gereja untuk Pengakuan Dosa. sedikit melewatkan momen itu. namun saya baru saja mengikuti Misa Jumat Agung. Yesus menyerahkan nyawaNya untuk menebus kita dari kuasa maut. wow. dan sekarang saya membuatnya nampak sedikit berat pembahasannya. : ) Yang hanya ingin saya katakan adalah, bahwa di masa yang saya jalani ini, saya sadar belum menjadi dewasa sepenuhnya. Banyak hal yang saya lakukan, belum dijalani dengan ‘sadar betul’. Bahkan, dalam kaitannya dengan dosa dan kesalahan yang saya alami, contohnya. Banyak hal kecil yang saya lakukan keseharian, seperti berbicara buruk tentang orang lain, yang saya tahu itu salah, tetap saya lakukan. Pertengkaran dengan pasangan yang saya alami karena kekerasan hati saya.  Menjadi dewasa, saya yakini bahwa seseorang perlu menyadari dan memilih pilihan hidup dengan ketegasan dan prinsip yang dianut. Lalu apa kaitannya dengan Yesus? Ya. karena Dia, sejak dilahirkan, tahu benar misi hidupNya, dan menjalaninya dengan penuh kefokusan, ketotalan, penyerahan diri pada BapaNya. Sebagai sahabatNya, kita tentu diajar untuk menjalani hidup seperti yang Ia ajarkan. Ya. Dan Paskah Tuhan yang Mulia ini, mengingatkanku untuk juga bangkit. untuk hidup lebih baik dan punya makna. Untuk hidup sesuai dengan kehendakNya. Semoga saya bisa, dengan daya yang diberikanNya. Untuk itulah saya masih diberi nafas hidup ini. Di akhir tulisan saya ini, saya sisipkan lukisan tangan, yang saya yakini dimaksudkan sang pelukis sebagai tangan Tuhan Yesus yang sedang mengatup untuk berdoa. jadi pengingat saya untuk selalu berdoa di dalam namaNya senantiasa. Amin.

Jesus Hand

Do Not Follow Your Passion. Growing it.

Tags

, , , , ,

Image

Tulisan ini saya temukan beberapa waktu yang lalu; yup, masih dalam upaya pencarian ke dalam diri , “Apa passion ku sesungguhnya?” yang tidak kunjung habis ini. Dalam hal ini, saya menilai diri saya parno, panikan dan concern serta percaya, bahwa kita, dengan mengetahui, mengenal, dan menjalani pekerjaan yang sesuai dengan passion kita, pasti akan dapat meraih kesuksesan. Saya manggut-manggut saat membaca buku dari Bung Rene Suhardono dalam bukunya Your Job is not Your Career, tanda persetujuan saya akan gagasannya tentang “Following Your Passion”.

Namun, saya kira, pandangan dari Cal Newport ini, melengkapi berbagai pendapat mengenai upaya pencarian terhadap Passion.

Follow a Career Passion? Let It Follow You

By CAL NEWPORT

IN the spring of 2004, during my senior year of college, I faced a hard decision about my future career. I had a job offer from Microsoft and an acceptance letter from the computer science doctoral program at the Massachusetts Institute of Technology. I had also just handed in the manuscript for my first nonfiction book, which opened the option of becoming a full-time writer. These are three strikingly different career paths, and I had to choose which one was right for me.

Cal Newport, a computer science professor at Georgetown, says many people lack a “true calling” but have a sense of fulfillment that grows over time.

For many of my peers, this decision would have been fraught with anxiety. Growing up, we were told by guidance counselors, career advice books, the news media and others to “follow our passion.” This advice assumes that we all have a pre-existing passion waiting to be discovered. If we have the courage to discover this calling and to match it to our livelihood, the thinking goes, we’ll end up happy. If we lack this courage, we’ll end up bored and unfulfilled — or, worse, in law school.

To a small group of people, this advice makes sense, because they have a clear passion. Maybe they’ve always wanted to be doctors, writers, musicians and so on, and can’t imagine being anything else.

But this philosophy puts a lot of pressure on the rest of us — and demands long deliberation. If we’re not careful, it tells us, we may end up missing our true calling. And even after we make a choice, we’re still not free from its effects. Every time our work becomes hard, we are pushed toward an existential crisis, centered on what for many is an obnoxiously unanswerable question: “Is this what I’m really meant to be doing?” This constant doubt generates anxiety and chronic job-hopping.

As I considered my options during my senior year of college, I knew all about this Cult of Passion and its demands. But I chose to ignore it. The alternative career philosophy that drove me is based on this simple premise: The traits that lead people to love their work are general and have little to do with a job’s specifics. These traits include a sense of autonomy and the feeling that you’re good at what you do and are having an impact on the world. Decades of research on workplace motivation back this up. (Daniel Pink’s book “Drive” offers a nice summary of this literature.)

These traits can be found in many jobs, but they have to be earned. Building valuable skills is hard and takes time. For someone in a new position, the right question is not, “What is this job offering me?” but, instead, “What am I offering this job?”

RETURNING to my story, I decided after only minimal deliberation to go to M.I.T. True to my alternative career philosophy, I was confident that all three of my career options could be transformed into a source of passion, and this confidence freed me from worry about making a wrong choice. I ended up choosing M.I.T., mainly because of a slight preference for the East Coast, but I would have been equally content heading out to Microsoft’s headquarters near Seattle. Or, with the advance from my first book, I could have hunkered down in a quiet town to write.

During my initial years as a graduate student, I certainly didn’t enjoy an unshakable sense that I had found my true calling. The beginning of doctoral training can be rough. You’re not yet skilled enough to make contributions to the research literature, which can be frustrating. And at a place like M.I.T., you’re surrounded by brilliance, which can make you question whether you belong.

Had I subscribed to the “follow our passion” orthodoxy, I probably would have left during those first years, worried that I didn’t feel love for my work every day. But I knew that my sense of fulfillment would grow over time, as I became better at my job. So I worked hard, and, as my competence grew, so did my engagement.

Today, I’m a computer science professor at Georgetown University, and I love my job. The most important lesson I can draw from my experience is that this love has nothing to do with figuring out at an early age that I was meant to be a professor. There’s nothing special about my choosing this particular path. What mattered is what I did once I made my choice.

To other young people who constantly wonder if the grass might be greener on the other side of the occupational fence, I offer this advice: Passion is not something you follow. It’s something that will follow you as you put in the hard work to become valuable to the world.

Cal Newport is the author of “So Good They Can’t Ignore You.”

So, saya garis bawahi dan highlight Penemuan saya yang teranyar soal apa yang disebut PASSION ini.

Passion is not something you follow. It’s something that will follow you as you put in the hard work to become valuable to the world.

Dengan bekerja keras untuk melakukan sesuatu yang berharga, bahkan bagi Dunia, maka passion itu tumbuh. Dan yup, mulailah saat ini saya mengevaluasi diri saya mengenai hal tersebut.

Image

Bagaimana denganmu, kawan? sudahkah dirimu menumbuhkan passionmu? menemukannya?

 

Selamat beristirahat, semoga Tuhan memberkati semua hal baik yang kita lakukan.

 

Sisi Terang dan Sisi Gelap Diri kita.

Tags

, , , ,

Membaca buku Sisi Terang dan Sisi Gelap, membuat saya perlahan belajar menemukan sisi gelap yang ada di diri; yang cenderung ditekan dalam kehidupan sehari-hari. Hari ini, saya mencoba mensarikan beberapa hal penting yang menjadi permenungan saya pribadi.

Belakangan ini saya merasakan kesulitan untuk mengontrol emosi negatif yang muncul dari dalam diri saya yang timbul akibat bereaksi terhadap sikap buruk rekan kerja atau atasan saya di kantor. Bahkan sebenarnya; saya juga melakukan refleksi diri; melihat ke belakang; dan menemukan kenyataan bahwa emosi negatif yang saya pribadi alami bahkan sejak saya kecil dan remaja dulu.

Being a nice person versus becoming Hulk. 

Is there a Hulk inside you?
Menjadi orang baik merupakan harapan yang dibebankan oleh masyarakat, agama, orang tua, guru, bahkan nusa dan bangsa meski kita di kala kecil belum paham benar seberapa luas dan besar tanggung jawab tersebut. Pada jalannya, dalam proses pendewasaan kita,  kadang “harapan mulia” tersebut, suka disalahartikan kita sendiri  (baca : saya pribadi) dengan bersikap nrimo tanpa mau berjuang buat keadilan dan keseimbangan diri kita sendiri. Bersikap baik dan menekan sisi diri kita yang malas, pemberontak, liar, tidak mau diatur, vokal, dan sebagainya, 
Dalam bukunya,  Pater Wolfgang menulis :
“supaya tampilan diri kita sungguh-sungguh mempersonakan, kita menggeser bagian-bagian dan sisi-sisi lain yang tidak sesuai dengan gambaran diri yang bagus itu. Hal-hal yang tergeserkan itu lambat laun menumpuk menjadi sisi gelap.”  p-11.
Beberapa tahun bertumbuh sebagai pribadi yang cenderung nrimo, berupaya untuk selalu mengalah, rupa-rupanya membuat saya seperti seseorang yang memiliki wajah baru, saya menemukan diri saya memiliki jiwa pemberontak dan amarah juga. Mungkin ada diantara teman-teman yang menyadarinya jauh lebih awal ketimbang saya, dan mungkin ada yang belum menemukannya.

Saya baru menyadari bahwa saya juga punya keterbatasan, dan emosi negatif yang sudah menumpuk dalam hati ini akhirnya mendobrak keluar dan BRAK ! sehingga amarah saya keluar tanpa bisa terkontrol lagi. 

Berhadapan dengan diri saya yang marah nampaknya menjadikan diri saya seperti seseorang yang tidak saya kenali.
Bahkan ketika saya belum menyadari  energi negatif yang membuncah dari dalam diri; saya mengeluarkan emosi negatif justru pada orang-orang terdekat. inilah yang membuat hubungan saya dengan orang terdekat justru memburuk. Suami saya bahkan mengandaikannya seperti ini “kamu kalau marah dengan meledak tuh bahaya,  kamu biasanya terlihat tenang, namun kalau kesenggol dikit emosimu, mungkin kamu bisa membunuh orang 1 mall dengan kamu dikasih senapan mungkin”. Dug. Pertama kali saya mendengarnya, saya hampir menyangkal lagi. Ah, saya tidak seperti itu! 
Namun sepertinya ada benarnya. Saya temukan juga setahun belakangan ini saya sering menekan stress saya hingga menjadi migrain dan kemarahan saya kepada suami menjadi muncul untuk hal-hal sepele karena persoalan kantor. Saya menyesali kemarahan saya, telah melukai orang yang justru paling mensupport saya. Namun ternyata menyesal tidaklah cukup jika tidak tahu bahwa seharusnya kita bersahabat dengan si sisi gelap saya itu, yang dikatakan oleh Pater  Wolfgang Bock, SJ  sebagai bagian dalam diri yang  tidak dapat dihilangkan dan dibuang dari diri kita, namun bisa diolah dan diajak turut serta dalam diri kita, diarahkan seperti seorang adik kecil kita, kita tuntun bersama-sama.
 
” Umpan balik jujur dari mereka yang mengenal kita cukup baik, sangat berharga untuk mengenal ciri-ciri khas, bentuk, rupa, tabiat, dan sifat sisi gelap kita; biarpun cara itu mungkin sangat tidak kita sukai. Bisa jadi kita memandang dengan marah serta berkata : “apa maksudmu, aku bukanlah orang semacam itu!” Namun tawaran umpan balik semacam itu membuka peluang untuk mengubah diri dan menjadi semakin peka terhadap proyeksi-proyeksi ke atas diri kita. Maka DIRI kita akan serta merta menolak; sedangkan JATI DIRI kita akan menyahut, ” Kalau demikian, aku mau memperhatikan hal itu. terima kasih.” p- 68.
 
Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati?

Pandangan atau pendekatan ilmu  relasi manusia yang serupa tentunya telah ditemukan oleh para Ahli, Psikolog, dan sebagainya untuk mengungkap emosi manusia, ego, dan dampaknya.
Namun saya suka gagasan yang dibawa oleh Pater Wolfgang Bock, SJ mengenai sisi Gelap dan Sisi Terang manusia. Dalam bukunya, Pater menegaskan pentingnya memiliki “kebugaran emosi” dan tidak memendam rasa atau menjadi agresif terpendam; melainkan belajar proaktif untuk mengolah energi dari sisi gelap kita yang ingin ‘tampil’ juga untuk menjadi lebih asertif, cerdik seperti ular, namun tetap tulus seperti merpati, yang elegan, tenang, tidak terburu nafsu. Tentu dengan menyadari jika kita menjadikan diri kita terlalu sabar misalkan, dengan tidak memberi ruang dan pengertian bahwa kita juga punya rasa amarah, ketidaksukaan, berusaha mengalahkan rasa itu semua; malah akan merugikan kita sendiri.  

Saya kira teman-teman juga pernah merasakannya. Kita di satu sisi berusaha sempurna tanpa cela dan emosi negatif, berusaha “do the best” di sisi itu; namun melupakan sisi atau bagian diri kita yang juga ingin beristirahat, ingin lebih santai (leha-leha) dan punya waktu, ingin hal lain ketimbang formalitas dan terlibat misalnya ke dalam politik kantor yang penuh hal-hal yang kita tidak sukai; atau bahkan sejak masa kecil cenderung ditekan oleh lingkungan sekitar kita, seperti orang tua, guru, misalnya ” heh, jangan males jadi anak! nanti udah gede kamu mau jadi apa!” ” heh, kamu bodoh skali!” “ih, kamu kayak banci!” 

 
 
Proyeksi sisi gelap dalam keluarga amat sering terjadi. Misalnya, orang tua melempar sisi gelapnya ke atas anak-anaknya karena mereka ibarat kambing hitam yang selalu tersedia dan tidak mampu membela diri.  Bahkan kita dapat menyimpulkan sejumlah watak dan sifat orang tua dari tingkah laku anak-anaknya. Anak menjadi jelmaan dan resapan sisi gelap orang tua dan memainkannya di depan sesama. Dengan bertumbuhnya anak menjadi seorang remaja, tertumpuklah padanya segala hal yang bukan orang tua, karena persona orang tua yang umumnya sangat positif, misalnya terhormat, sopan, jujur, setia, taat pada aturan; sedangkan sifat-sifat sisi gelap, terpantulkan pada anak-anak adalah yang negatif, misalnya kurang ajar, ribut, dan suka melawan. p- 66.
 
Mungkin pemahaman mengenai Sisi Terang, dan Sisi Gelap, bisa merupakan salah satu jawaban yang bisa diterapkan dari tingkat indvidu sampai ke hal-hal yang menjadi masalah di masyarakat. Mungkin saja, kasus pembunuhan dari Alm. Ade Irma terjadi akibat  tersangka Hafiz ternyata benar tertekan sisi gelap sang Ayah yang adalah seorang Dokter Kandungan yang pernah tersangkut kasus Aborsi; dimana citra sang Ayah memiliki sikap baik dan ramah di mata tetangga sekitar misalnya. Dalam hal ini, saya mencoba berhipotesis dengan sumber yang saya yakini. Namun yang saya katakan ini tentu saja tidak bermaksud untuk ikut menyimpulkan kasus itu, hanya dengan membaca buku ini.
 
Tahun awal pernikahan, dimana saya dan suami juga baru saling mengenal lebih dalam sifat dan sikap satu sama lain; membuat saya juga baru menyadari; bahwa sisi gelap saya cenderung sudah tidak dapat tertutupi lagi di depan mata suami. ini membuat saya cenderung merasa tidak nyaman rasanya. 
 
Wow. namun saat saya akhirnya menceritakan sedemikian rupa maksud dan apa yang terjadi dalam diri saya kepada orang terdekat dalam hidup saya, yaitu suami saya, saya seperti seolah sedang bercerita dan meminta pengertian kepada diri saya sendiri untuk menerima dan bersahabat dengan bagian gelap dari dalam diri kita itu. Sama halnya dengan suami saya. Ini yang membuat kami semakin saling percaya dan mengenal diri seutuhnya.
 
Biasanya kita menjumpai sisi gelap secara tidak langsung, misalnya pada kelakuan tidak sedap, di luar sana, dimana kita lebih aman mengamatinya.
Apabila kita bereaksi keras, entah terhadap sifat, sikap, atau gejala, terhadap kemalasan atau kebodohan, dan reaksi kita mendadak kagum atau benci, itulah sat sisi gelap kita menunjukkan diri. Sisi gelap perorangan mengandung segala macam kemampuan yang belum berkembang dan kekuatan yang belum terolah maupun terasah. 
Dia adalah bagian bawah sadar yang melengkapi dan mengimbangi Diri kita, serta mewakilkan unsur-unsur dan ciri khas yang tidak diakui oleh kepribadian sadar, sehingga seringkali ditelantarkan, dipendam, dilupakan. Namun, ia muncul dalam perjumpaan berhadapan muka, misalnya dalam perselisihan, dan pertentangan dengan sesama kita. Biarpun kita tidak bisa menatap sisi gelap secara langsung, ia muncul dalam aneka kesempatan dalam hidup sehari-hari, dalam dagelan atau dalam lelucon kasar, yang mengungkapkan perasaan dan sikap rendah mutu serta kurang ajar. Apabila dengan seksama kita meneliti apa yang menyebabkan kita tertawa, kita tahu kawan kita yang gelap itu sedang beraksi.
 
Ada berbagai macam cara dan kesempatan untuk kita dapat berjumpa dengan bayangan gelap diri kita, antara lain :
* Dalam perasaan dan tanggapan yang berlebihan (Aku tak mengira kau bisa berbuat demikian buruk).
* Dalam umpan balik negatif dari sesama (Ini ketiga kalinya, Anda datang terlambat”).
* Dalam reaksi beberapa orang mengenai hal yang sama. (“Kami bertiga merasa, Anda tidak terus terang waktu memberikan laporan.”)
* Kalau kita bereaksi karena sangat direndahkan dalam situasi tertentu (“Aku merasa malu sekali atas cara aku diperlakukan disini.”)
* Dalam kemarahan berlebihan atas kesalahan orang lain (“Masak, ia tidak mampu menyelesaikan pekerjaan itu pada waktunya?”) p-188-189
 
Di akhir bukunya, Pater Wolfgang menuliskan beberapa hal penting yang perlu kita ingat.
* Sisi Gelap, merupakan bagian integral diri manusia, maka perlu kita terima dan kita persatukan.
* Semakin mampu kita menerima diri kita apa adanya (namun dalam hal ini, secara mendalam, bukan terbatas
   pada nrimo seperti yang dijelaskan oleh saya diatas); semakin sedikitlah kita harus berpura-pura dan
   cenderung membuat kesan bahwa kita menjadi orang yang benar.
* Semakin kita bersedia memandang diri kita dengan segala ketidaksempurnaan, kita juga akan semakin
   mampu menerima sesama dengan ketidaksempurnaan mereka.
 
Saya pun tidak merasa sudah bersahabat baik dan mengenal lebih dalam lagi sisi gelap saya, dan pergi membawanya serta kepada Sang Terang. Namun saya bersyukur masih diberi waktu untuk membaca, merenungi, dan mudah-mudahan, bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Amin.
 
Selamat Hari Nyepi bagi kawan-kawan yang merayakan.
 
Tulisan ini tidak dimaksudkan menjadi resensi dari Buku yang menjadi inspirasi penulis dalam menulis artikel ini. Beberapa paragraf yang dituliskan penulis diambil langsung dari Buku tersebut, yang berjudul
Sisi Terang Sisi Gelap, karya Pater Wolfgang Bock, SJ, Penerbit OBOR, 2009.
Image

Why Generation Y Yuppies Are Unhappy ?

Tags

, , , , , ,

I found this article, and i’m getting more understand about myself, my generation, Y generation.Many thanks to the writer.

i hope yourself too, reader. Happy reading : )

                                                                                    ***

Say hi to Lucy.

2013-09-15-Geny1.jpg

Lucy is part of Generation Y, the generation born between the late 1970s and the mid 1990s. She’s also part of a yuppie culture that makes up a large portion of Gen Y.

I have a term for yuppies in the Gen Y age group — I call them Gen Y Protagonists & Special Yuppies, or GYPSYs. A GYPSY is a unique brand of yuppie, one who thinks they are the main character of a very special story.

So Lucy’s enjoying her GYPSY life, and she’s very pleased to be Lucy. Only issue is this one thing:

Lucy’s kind of unhappy.

To get to the bottom of why, we need to define what makes someone happy or unhappy in the first place. It comes down to a simple formula:

2013-09-15-Geny2.jpg

 

It’s pretty straightforward — when the reality of someone’s life is better than they had expected, they’re happy. When reality turns out to be worse than the expectations, they’re unhappy.

To provide some context, let’s start by bringing Lucy’s parents into the discussion:

2013-09-15-Geny3.jpg

Lucy’s parents were born in the ’50s — they’re Baby Boomers. They were raised by Lucy’s grandparents, members of the G.I. Generation, or “the Greatest Generation,” who grew up during the Great Depression and fought in World War II, and were most definitely not GYPSYs.

2013-09-15-Geny4.jpg

 

Lucy’s Depression Era grandparents were obsessed with economic security and raised her parents to build practical, secure careers. They wanted her parents’ careers to have greener grass than their own, and Lucy’s parents were brought up to envision a prosperous and stable career for themselves. Something like this:

2013-09-15-Geny5.jpg

They were taught that there was nothing stopping them from getting to that lush, green lawn of a career, but that they’d need to put in years of hard work to make it happen.

2013-09-15-Geny6.jpg

After graduating from being insufferable hippies, Lucy’s parents embarked on their careers. As the ’70s, ’80s, and ’90s rolled along, the world entered a time of unprecedented economic prosperity. Lucy’s parents did even better than they expected to. This left them feeling gratified and optimistic.

2013-09-15-Geny7.jpg

With a smoother, more positive life experience than that of their own parents, Lucy’s parents raised Lucy with a sense of optimism and unbounded possibility. And they weren’t alone. Baby Boomers all around the country and world told their Gen Y kids that they could be whatever they wanted to be, instilling the special protagonist identity deep within their psyches.

This left GYPSYs feeling tremendously hopeful about their careers, to the point where their parents’ goals of a green lawn of secure prosperity didn’t really do it for them. A GYPSY-worthy lawn has flowers.

2013-09-15-Geny8.jpg

This leads to our first fact about GYPSYs:

GYPSYs Are Wildly Ambitious

2013-09-15-Geny9.jpg

The GYPSY needs a lot more from a career than a nice green lawn of prosperity and security. The fact is, a green lawn isn’t quite exceptional or unique enough for a GYPSY. Where the Baby Boomers wanted to live The American Dream, GYPSYs want to live Their Own Personal Dream.

Cal Newport points out that “follow your passion” is a catchphrase that has only gotten going in the last 20 years, according to Google’s Ngram viewer, a tool that shows how prominently a given phrase appears in English print over any period of time. The same Ngram viewer shows that the phrase “a secure career” has gone out of style, just as the phrase “a fulfilling career” has gotten hot.

2013-09-15-Geny10.jpg

 

2013-09-15-geny11.jpg

 

To be clear, GYPSYs want economic prosperity just like their parents did — they just also want to be fulfilled by their career in a way their parents didn’t think about as much.

But something else is happening too. While the career goals of Gen Y as a whole have become much more particular and ambitious, Lucy has been given a second message throughout her childhood as well:

2013-09-15-Geny12.jpg

This would probably be a good time to bring in our second fact about GYPSYs:

GYPSYs Are Delusional

“Sure,” Lucy has been taught, “everyone will go and get themselves some fulfilling career, but I am unusually wonderful and as such, my career and life path will stand out amongst the crowd.” So on top of the generation as a whole having the bold goal of a flowery career lawn, each individual GYPSY thinks that he or she is destined for something even better —

A shiny unicorn on top of the flowery lawn. 

2013-09-15-Geny13.jpg

 

So why is this delusional? Because this is what all GYPSYs think, which defies the definition of special:

spe-cial | ‘speSHel |
adjective
better, greater, or otherwise different from what is usual.

 

According to this definition, most people are not special — otherwise “special” wouldn’t mean anything.

Even right now, the GYPSYs reading this are thinking, “Good point… but I actually am one of the few special ones” — and this is the problem.

A second GYPSY delusion comes into play once the GYPSY enters the job market. While Lucy’s parents’ expectation was that many years of hard work would eventually lead to a great career, Lucy considers a great career an obvious given for someone as exceptional as she, and for her it’s just a matter of time and choosing which way to go. Her pre-workforce expectations look something like this:

2013-09-15-Geny14.jpg

 

Unfortunately, the funny thing about the world is that it turns out to not be that easy of a place, and the weird thing about careers is that they’re actually quite hard. Great careers take years of blood, sweat and tears to build — even the ones with no flowers or unicorns on them — and even the most successful people are rarely doing anything that great in their early or mid-20s.

But GYPSYs aren’t about to just accept that.

Paul Harvey, a University of New Hampshire professor and GYPSY expert, has researched this, finding that Gen Y has “unrealistic expectations and a strong resistance toward accepting negative feedback,” and “an inflated view of oneself.” He says that “a great source of frustration for people with a strong sense of entitlement is unmet expectations. They often feel entitled to a level of respect and rewards that aren’t in line with their actual ability and effort levels, and so they might not get the level of respect and rewards they are expecting.”

For those hiring members of Gen Y, Harvey suggests asking the interview question, “Do you feel you are generally superior to your coworkers/classmates/etc., and if so, why?” He says that “if the candidate answers yes to the first part but struggles with the ‘why,’ there may be an entitlement issue. This is because entitlement perceptions are often based on an unfounded sense of superiority and deservingness. They’ve been led to believe, perhaps through overzealous self-esteem building exercises in their youth, that they are somehow special but often lack any real justification for this belief.”

And since the real world has the nerve to consider merit a factor, a few years out of college Lucy finds herself here:

2013-09-15-Geny15.jpg

Lucy’s extreme ambition, coupled with the arrogance that comes along with being a bit deluded about one’s own self-worth, has left her with huge expectations for even the early years out of college. And her reality pales in comparison to those expectations, leaving her “reality – expectations” happy score coming out at a negative.

And it gets even worse. On top of all this, GYPSYs have an extra problem that applies to their whole generation:

GYPSYs Are Taunted

Sure, some people from Lucy’s parents’ high school or college classes ended up more successful than her parents did. And while they may have heard about some of it from time to time through the grapevine, for the most part they didn’t really know what was going on in too many other peoples’ careers.

Lucy, on the other hand, finds herself constantly taunted by a modern phenomenon:Facebook Image Crafting.

Social media creates a world for Lucy where A) what everyone else is doing is very out in the open, B) most people present an inflated version of their own existence, and C) the people who chime in the most about their careers are usually those whose careers (or relationships) are going the best, while struggling people tend not to broadcast their situation. This leaves Lucy feeling, incorrectly, like everyone else is doing really well, only adding to her misery:

2013-09-15-Geny16.jpg

So that’s why Lucy is unhappy, or at the least, feeling a bit frustrated and inadequate. In fact, she’s probably started off her career perfectly well, but to her, it feels very disappointing.

Here’s my advice for Lucy:

1) Stay wildly ambitious. The current world is bubbling with opportunity for an ambitious person to find flowery, fulfilling success. The specific direction may be unclear, but it’ll work itself out — just dive in somewhere.

2) Stop thinking that you’re special. The fact is, right now, you’re not special. You’re another completely inexperienced young person who doesn’t have all that much to offer yet. You can become special by working really hard for a long time.

3) Ignore everyone else. Other people’s grass seeming greener is no new concept, but in today’s image crafting world, other people’s grass looks like a glorious meadow. The truth is that everyone else is just as indecisive, self-doubting, and frustrated as you are, and if you just do your thing, you’ll never have any reason to envy others.

this article posted in Hufftington Post,2013.

 http://www.huffingtonpost.com/wait-but-why/generation-y-unhappy_b_3930620.html

i set my running shoes and get ready to breakaway.

Tags

, , ,

Dear blogger,

i tried to continue my previous writing about my passion. I surf to the website Psychology today, and i found in love and new braveness in this article. if you feel-someway-lost in your age–you definitely not alone, and we just can change it NOW. So Check this out :

If You’re Lost in Your 20s

Life lessons for 20-somethings – as experienced by a former 20-something
Published on October 15, 2013 by Jen Kim in Valley Girl With a Brain
I feel lost

Everyone feels lost in their 20s.

It’s always an honor to correspond with my PT readers—particularly, when I hear how a blog post resonates with you.

A few months ago, Allison*, a 22-year old recent grad, wrote to me because she had read my “If You’re Turning 30 and Freaking Out” post. While she still has about a decade before turning the big 3-0, she confessed that she was already feeling lost.

As much as I dreaded entering my 30s, I remembered how fragile and turbulent my early 20s (heck, my entire 20s) were, which is why I was more than happy to share with her some of the things I know now that I wish I had known then.

Then just last week, Allison wrote me back with a life update, on her birthday of all days. Since our earlier emails, she had quit her job, started taking chances, and was finally starting to live her life the way she wanted to.

 I’m not saying my letter had anything to do with her new found self, but just in case it did, I’d like to share it with you anyway. 😉

Dear Allison,  Here are a few things I learned about my 20s: 

1) We are all different and follow different paths. We are not our friends, so do not compare our path to theirs.  

anthropologie dress

Does anyone want to buy me this Anthropologie dress?

2) It’s experience, not money that makes us happy and gives us purpose. I used to have a sick obsession with Anthropologie dresses. I would spend paychecks on dress binges, only to discover that the joy of a piece of clothing lasts three days, tops. Then I would inevitably move on to something else. I’m not saying that I don’t love Anthropologie dresses anymore (I still do), but I am at a point where I can control my urges, because I know that the “happiness” they provide is fleeting. Money has that same effect. Think about what makes you truly happy – what you need in your life to be fulfilled, loved, and truly happy. Is money on that list? 

3) You are 22. There is no such thing as settling. At 22, life is all about opportunities. If you want to switch careers, do it. What’s stopping you? I just quit my job last week, and it’s the most liberating thing I’ve done in a long time. I know how hard it is to look for a job while you’re already working 50+ hours a week. It’s incredibly stressful and time consuming, but if you want a different life, you must live a different life. 

4) Get used to being uncomfortable. I know some people like to coast through life and be complacent and just “OK” all the time. That’s fine if that’s what they want, but I have never been that type of person. I am constantly struggling and figuring out what is going to make me a better person, and then I go do it. Chances are, a lot of things are going to make you uncomfortable and scared. Just do it – be scared later.  

Braveheart Bravery

I’m pretty sure this guy was brave.

5) Be brave. I’m not saying you have to be optimistic all the time. Especially, if you’re not an optimistic person, then what’s the point? But everyone can be brave. Being brave means just standing your ground even when it’s uncomfortable and terrifying. It means that you are ready to take on a challenge, and that you are going to do your best to overcome it.  

I hope this doesn’t come across as cheeseball advice, although I’m sure it does. Your 20s are about experimenting and becoming independent – it’s about discovering YOU and everything about YOU.

Enjoy that & embrace that.  And lastly, STOP thinking about your ___________. Seriously! Get them out of your head. They have nothing to do with your happiness or success. Only you do.

So figure out what you want to do, then DO IT! 

*Name changed for privacy.

Have a nice day. 🙂

Antara passion ku, Jadi Ibu Rumah Tangga atau Tetap Bekerja

Tags

, , ,

Hi!

ImageDi Sabtu pagi hari ini, aku menjalani rutinitasku dengan bekerja di kantor.

Karena masih dalam suasana Lebaran (H+1), rasa malas ngantor merasuk, enggan rasanya tubuhku ini tadi bangun dan beranjak dari bed ku. suamiku setia, meski harus menahan rasa ingin bermalas-malasan juga, beranjak dari bed dan mengantarkan ku ke kantor selepas meminum white cofee dan menggigit habis roti buatanku.

Bekerja di Institusi Pelayanan Kesehatan seperti ku, walaupun di Management Office, membuat kita menghormati dan bertenggang rasa juga dengan teman-teman di front line yang memberikan pelayanan ke pasien–24 jam dalam sehari. (Unfortunately) kita tidak memiliki banyak kesempatan untuk cuti selain libur di tanggal merah. hehe.

Namun, tulisanku kali ini, bukanlah ingin  berbicara mengenai hal ini inu mengenai aturan perusahaan, pekerjaan dan kantorku. aku dedikasikan tulisanku ini bagi pencarian ku akan passionku, akan hasrat hidupku yang masih terus kulakukan hingga saat ini.

ImageAku menjalani hidupku kini sebagai seorang wanita muda yang baru saja berumah tangga, belajar membagi waktu untuk melayani keluarga, sembari bekerja from 8 to 5 setiap hari. i felt something wrong each day, sejak aku merasa aku belum menemukan pekerjaan yang jodohku, seperti hal nya aku menemukan pria yang menjadi suamiku saat ini.

And you know, waktu kita di jam produktif lebih banyak dihabiskan di kantor ternyata ketimbang bersama keluarga. so, aku percaya bahwa kita juga harus mencari jodoh yang paling tepat untuk pekerjaan kita; seperti layaknya suami kita. Namun, itu saja belum selesai, mengingat kita juga perlu berfikir antara ingin tetap bekerja, atau membangun usaha (berwirausaha) , atau menjadi full-time housewife and mommy.

mencoba membuka situs Parenting Indonesia, aku kemudian menemukan artikel ini. 

Jadi Ibu Rumah Tangga atau Tetap Bekerja?

Banyak perempuan yang tinggal di kota besar menunjukkan eksistensi dirinya melalui karir profesional. Pendapatan pribadi yang diterima setiap bulan merupakan bentuk kebanggaan sekaligus identitas sebagai individu yang mandiri. Namun hal ini sering berbenturan dengan peran lain ketika perempuan terikat dalam institusi pernikahan. Kewajiban pun berlipat ganda. Terlebih jika sudah memiliki keturunan. Tak sedikit perempuan mengaku mengalami dilema ketika dihadapkan kepada dua pilihan besar, yakni mengabdi sebagai istri dan ibu di dalam rumah, atau tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Prof. Dr. Ayub Sani Ibrahim SpKJ (K), penasihat Parents Indonesia, mengatakan, ada empat alasan paling utama saat seorang perempuan akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. “Pertama adalah jumlah anak. Semakin banyak anak, biasanya kemungkinan si ibu berhenti bekerja menjadi semakin besar. Kedua adalah tidak ada pengasuh atau orang yang bisa dimintai tolong untuk mengasuh si anak. Ketiga adalah permintaan suami, dan terakhir adanya dukungan keuangan yang cukup, yaitu dari pihak suami.”

Vira, 31 tahun, adalah salah satu contoh perempuan yang memilih untuk mengorbankan identitas profesionalnya di kantor demi turun tangan langsung dalam pengasuhan anak. “Saya sempat bekerja 8 tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti total. Saat itu, putra pertama saya sudah berusia 2,5 tahun dan mulai masuk playgroup. Kami tidak punya pengasuh. Selain itu, suami pun minta diurusi. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti.”

Tentunya tidak sedikit perempuan seperti Vira yang bersedia berkorban demi memenuhi tugas mulia sebagai seorang ibu. Tapi keputusan ini tetaplah tidak mudah. Ketika seorang perempuan bekerja yang telah berumah tangga memutuskan berhenti berkarir, itu berarti ada pendapatan dalam rumah tangga yang hilang. Selain itu, dibutuhkan kesiapan mental dalam menghadapi transisi besar, yakni dari lingkup dunia kerja menjadi dunia rumah tangga.

 

Sudah Mantapkah Mental Anda?

Pada kenyataannya, tidaklah mudah bagi seorang perempuan yang telah lama bekerja untuk begitu saja menjadi ibu rumah tangga. Patut diakui, lingkup dunia rumah tangga jauh lebih sempit dibandingkan lingkup dunia profesional. Di dunia kerja, seseorang dimungkinkan untuk berinteraksi dengan begitu banyak orang dengan beragam latar belakang. Sementara dunia rumah tangga tidaklah demikian. Si ibu umumnya hanya berinteraksi dengan anak, asisten rumah tangga, atau tetangga.

“Seorang ibu bekerja yang akan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga bisa diibaratkan seperti orang yang nanar. Maksudnya, jika mentalnya tidak benar-benar siap, dia bisa bingung, frustasi. Sudah seperti orang yang mau pingsan saja,” kata Ayub.

Ketika seorang perempuan bekerja memutuskan untuk total menjadi ibu rumah tangga, maka dia akan menghadapi suatu perubahan drastis dalam hidup. “Ruang publiknya saja sudah berbeda. Belum lagi merasa sendirian di rumah, ditinggal suami, sementara dia harus menghadapi anak. Selain itu, tanggung jawabnya juga menjadi jauh lebih berat karena harus mengurus suami dan anak sekaligus,” Ayub menambahkan.

Vira termasuk sebagai orang yang sempat stres dengan transisi ini. “Saat itu anak saya masih kecil. Ditambah lagi pembantu saya tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. Mau tidak mau saya harus mengurus semua. Rambut saya sampai rontok karena stres,” keluhnya.

Sisi keuangan juga menjadi pertimbangan vital sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja. “Saya selalu menyarankan, apabila penghasilan ibu menutup 50 persen kebutuhan keluarga, sebaiknya pertimbangkan lagi masak-masak mengenai keputusan untuk keluar dari kantor,” kata Rina N. Sandy RFA, penasihat keuangan dari Sarosa Consulting Group. Jika kebutuhan keluarga ditutupi pihak ayah dan ibu dengan perbandingan sama rata (50:50), maka sudah dipastikan bahwa penghasilan berkurang setengah jika si ibu berhenti bekerja. “Jika memang ingin tetap berhenti, sebaiknya si ibu mencari penghasilan tambahan.” Lebih jauh Rina mengatakan bahwa posisi keuangan keluarga akan aman jika penghasilan si istri hanya sepertiga atau bahkan seperempat dari penghasilan suami.

Pengaruh Terhadap Anak

Mungkin Anda pernah mendengar tentang suatu pendapat yang menyebutkan bahwa anak yang kedua orang tuanya bekerja akan tumbuh menjadi sosok yang lebih mandiri dibandingkan dengan yang tidak. Tanpa bermaksud untuk membantah pendapat ini, Ayub mengingatkan bahwa meskipun hal ini benar, tapi tidaklah menjadi jaminan.

Dalam beberapa kasus, memang ada anak yang menjadi mandiri karena ibunya bekerja. Tapi kemandirian yang dia capai berasal dari suatu proses trial and error. “Sesungguhnya, si anak limbung karena ibu yang menjadi tempat dia bergantung hanya punya sedikit waktu untuk berinteraksi dengannya. Akhirnya, si anak belajar dari pengalamannya sendiri dan lambat laun menjadi mandiri,” begitu penjelasan Ayub.

Sementara itu, anak yang diasuh oleh ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga juga belum tentu menjadi sosok yang manja. Ayub dengan bangga mencontohkan kesuksesan ketiga putrinya yang diasuh penuh oleh istrinya yang seorang ibu rumah tangga total. “Pada dasarnya, orang yang mengendalikan rumah tangga adalah perempuan, bukan laki-laki. Mandiri tidaknya seorang anak lebih dipengaruhi oleh bagaimana si ibu menjalankan perannya, dan ini tidak ada hubungannya dengan profesi, entah itu di kantor, atau sebagai ibu,” Ayub menegaskan.

Sama-sama Menguntungkan

Dihadapkan pada dua pilihan besar memang tidaklah menyenangkan. Terlebih ketika kedua pilihan tersebut dirasakan sama-sama signifikan, baik untuk Anda, maupun masa depan keluarga. Pada dasarnya, masing-masing pilihan tentu memiliki sisi plus minus dan tidak berefek sama pada kasus per kasus. Semua kembali kepada situasi dan kondisi Anda maupun rumah tangga yang sedang dijalani. Namun yang perlu diingat, kedua pilihan ini sama-sama memiliki keuntungan.

Ibu bekerja yang memutuskan untuk berhenti mungkin akan cemas dengan lingkup pergaulannya kelak, atau juga dengan laju inflasi yang terkadang tak bisa diprediksi. Tetapi tengoklah keuntungan besar yang bisa Anda raih apabila menjadi ibu rumah tangga. Dengan mengasuh anak tanpa bantuan orang lain, Anda punya kendali besar dalam tumbuh kembang anak hingga dia dewasa nanti. Andalah yang akan mentransfer ilmu berupa pendidikan usia dini, penanaman nilai yang dianut keluarga serta kematangan emosional ke diri anak.

Jika khawatir dengan lingkungan pergaulan yang menyempit, tetaplah tenang dan optimistis. Karena pada dasarnya, lingkungan pergaulan bisa dicari atau dibentuk sendiri. Beberapa cara yang dapat Anda lakukan adalah:

  • Pertahankan teman-teman lama. Jika perlu, luangkan waktu sekali seminggu atau sekali dua minggu untuk bertemu dengan mereka.
  • Bergabung dengan kelompok-kelompok tertentu. Di zaman modern sekarang, tidaklah sulit untuk mencari klub atau kelompok berdasarkan hobi tertentu. Carilah klub tersebut melalui internet lalu bergabunglah di mailing list mereka. Atau, Anda juga bisa sedikit menyibukkan diri dengan aktif di sekolah, lingkungan tempat tinggal, ataupun kegiatan sosial yang umumnya diselenggarakan di rumah-rumah ibadah.
  • Mencari pekerjaan tambahan. Pada dasarnya, ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Menerjemahkan buku, membuat transkrip, menjahit, membuka catering, bergabung dengan MLM hanyalah sejumlah kecil pekerjaan yang bisa dilakukan seorang ibu rumah tangga. Dengan demikian, Anda tetap bisa berkarya dan memunyai penghasilan sendiri.

Sementara ibu yang tetap bekerja umumnya khawatir dengan perkembangan anaknya kelak, terlebih karena dia memiliki waktu yang lebih sedikit untuk berinteraksi dengan sang buah hati. Memang menyewa babysitter adalah hal yang paling mudah. Tapi itu tetap bukan satu-satunya pilihan. Karena Anda bisa memercayakan tumbuh kembang anak dengan:

  • Melibatkan keluarga. “Entah itu orang tua sendiri, saudara kandung, ipar, ataupun mertua, yang pasti tidak perlu ragu untuk meminta bantuan keluarga,” saran Diba, 34 tahun, seorang ibu rumah tangga. Ibu dari seorang putra berusia 4,5 tahun ini memberi alasan bahwa keluarga adalah pihak yang lebih bisa dipercaya dalam hal pengasuhan anak, bahkan lebih dari babysitter.
  • Menitipkan ke daycare. Daycare bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan, khususnya bagi orang tua bekerja. Karena di daycare, anak tidak hanya disediakan tempat beristirahat maupun makan, tapi juga aktivitas lain seperti bermain ataupun belajar seni dan olahraga. Carilah daycare yang tempatnya strategis dan mudah dijangkau, baik dari arah rumah ataupun dari kantor Anda.

So, kembali lagi ke diriku. Aku harus memutuskan dengan penuh pertimbangan mengenai masa depanku, career, rumah tangga kami, dan kelak, anak-anak nanti yang dianugerahkan Tuhan.

Back to work 🙂

10082013

Buoy and brain.

Tags

Image

Masih di kantor, sore ini rasanya saya sedikit ngantuk dan letih.

Sedikit bosan, saya berhenti sejenak dari rutinitas di belakang meja kantor saya,

mengambil gelas minum saya yang berwarna hijau cerah, saya pergi ke pantry.

sembari ngomong ngawur sambil lalu saja, saya katakan ke teman saya,

“gue harus banyak minum biar otak gue ga nyangkut”

dan seketika itu juga, saya tertawa kecil sendiri, mengapa saya bisa ngomong seperti itu, dan tiba-tiba di pikiran saya langsung muncul pelampung di laut. it’s unique how brain can work to make a corellation-eventhough it’s not too corellated or not correlated at all– like that.

Saya bayangkan otak saya seperti pelampung itiu, berenang-renang dalam kepala.

 

Critical_Thinking

Dengan lihai jari saya mengklik -klik tab di menu Mozilla Firefox, lalu mengetikkan kata human brain volume dan menyiapkan juga tab yang membuka penjelasan di Wikipedia tentang buoy di Google.

Instead of reading all of the section at the Human Brain at Wikipedia – encyclopedia,

saya lebih tertarik untuk men scroll down halaman Wiki itu ke bawah, dan menemukan fakta yang membuat saya ingin sekali mencatat dan mensharingkannya disini.

The brain consumes up to twenty percent of the energy used by the human body, more than any other organ.

Nah, ini dia penjelasan menurut saya, mengapa kita seringkali cepat merasa lapar ketika tengah fokus seratus persen untuk mengerjakan sesuatu yang membutuhkan pemikiran kita.

[37] Brain metabolism normally relies primarily upon blood glucose as an energy source, but during times of low glucose (such as fasting), the brain will primarily use ketone bodies for fuel with a smaller requirement for glucose. The brain can also utilize lactate during exercise.

Wow, ternyata otak kita dapat memilih sumber energi yang dia dapat gunakan untuk bermetabolisme, sesuai dengan apa yang tengah kita alami seperti saat-saat berpuasa dan berolahraga.

Although the human brain represents only 2% of the body weight, it receives 15% of the cardiac output, 20% of total body oxygen consumption, and 25% of total body glucose utilization.[40] The need to limit body weight in order, for example, to fly, has led to selection for a reduction of brain size in some species, such as bats.[41] The brain mostly uses glucose for energy, and deprivation of glucose, as can happen in hypoglycemia, can result in loss of consciousness. The energy consumption of the brain does not vary greatly over time, but active regions of the cortex consume somewhat more energy than inactive regions: this fact forms the basis for the functional brain imaging methods PET and fMRI.[42] These are nuclear medicine imaging techniques which produce a three-dimensional image of metabolic activity.

Otak kita membutuhkan glukosa, oksigen, dan aliran darah untuk tetap hidup.  Konsumsi glukosa dibutuhkan untuk membuat otak tetap hidup dan bekerja. tubuh butuh air, oleh karena itulah saya, diperintahkan oleh otak, untuk mengambil air minum segera di pantry.

Nah, kalau bagian yang terakhir, sebenarnya tidak ada di wikipedia, hanya mencoba sedikit ilmiah 😀

masih banyak sepertinya fakta tentang human brain yang harusnya dapat disharingkan, namun mengingat bahwa tulisan ini bukan sebuah article science, kini saya senang sekali untuk mengakhiri tulisan ini, dan pergi mencari sedikit penganan di kantor sesuai dengan perintah otak 🙂

 

12062013