Minggu siang bersama Sahabatku

Minggu pagi kemarin, aku memutuskan untuk mengikuti misa pagi di pastoran mahasiswa di dekat kampusku. Hal ini baru pertama kali kulaksanakan, setelah di setiap kesempatan aku memutuskan ke gereja yang lebih jauh jaraknya. Pagi itu sepertinya aku memiliki semangat yang lain untuk mengikuti misa di pastoran. Entah mengapa.

Dengan misa yang sederhana, Romo Yumar memimpin misa persiapan ujian tengah semester tersebut di dalam pendopo. Bersama anak-anak dari fakultas lain, aku pun mengikuti misa di pagi ini selama kurang lebih satu jam.

Sudah lama aku tidak bersua dengan teman, sahabat, sekaligus ayahku, Romo Yu; begitu sapaan hangat yang biasa ia terima dari teman-teman mahasiswa. Namun pagi hari kemarin, aku bersyukur untuk kesempatan baik ini, dimana aku bisa kembali diteguhkan olehnya.

Ya, buatku, beliau adalah sahabat terbaik yang telah menguatkan aku ketika mengalami segenap masalah sejak aku memasuki dunia kampus—bahkan beliau adalah tempat curhat aku soal cowok yang pernah aku suka, dan bagaimana masalah dalam keluargaku.

Continue reading “Minggu siang bersama Sahabatku”

Advertisements

Merayakan indahnya perbedaan

2kids

Mengapa kami diciptakan begitu berbeda Tuhan?

Dan perbedaan itu buatku selalu hangat dan menyenangkan.
Menggelorakan jiwa yang tengah layu,
Menerbitkan harapan bagi yang kehilangannya.

terkadang perbedaan itu
bisa menjadi dingin dan menusuk hati
Menciptakan sesak dan tangis.

Aku  sering lupa,
Bahwa aku yang pegang kendali akan rasa itu,
Dan aku bisa memilihnya, bebas.
Karena Kau menghadiahkannya, Tuhan.
Maka aku memilih untuk menghargai perbedaan itu;
Dan tetap ingin merasakan kehangatan di dalamnya.

Karena Kau menghadiahkannya, ya Tuhan.

17 Oktober 2009;

bersyukur untuk indahnya perbedaan.

cinta [sama] monyet!

Tahu tidak, teman-teman lebih bilang matamu itu sayu?

Tapi bagiku mereka indah

Keringatmu selepas bermain basket akan  selalu tercium harum

Canda dan tawa kita yang remeh terasa begitu penting

Dekatmu seperti menghantarkan puluhan capung  dalam perutku

hangat sentuhanmu di tengkukku seperti berbisik

Seakan seluruh lagu cinta mengiringi kisahku dan sang mentari

Akankah rasa itu selamanya?

Ah, hatiku memilih untuk tak banyak berpikir

Dan kamu tak pernah tahu itu

Di dalam sekotak nasi goreng yang kuhantar siang itu ke rumahmu

Dalam setiap rasa cemburuku

Kutaruh hatiku di sana

Sempurnanya angan terkadang membuatku sakit

Kamu tahu tidak?

Kamu pilih untuk tetap bermain dengan mereka

tatapanmu seolah berkata: aku cuma bermimpi

Dan aku sadar kamu cinta pertamaku

Tak ada penyesalan untuk apapun

Karena aku yang memilih,

karena aku yang  memiliki

akhir Oktober 2009

(bukan) Siti Nurbaya

berkebaya

“Huh, masih jaman ya, dijodohin, ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi, kan!”

Kita pasti hapal benar dengan rangkaian kalimat itu–yang sering jadi kalimat pamungkas di adegan-adegan favorit dimana pemainnya enggan dijodohkan, atau bahkan terjadi di antara kita: seperti halnya yang saya alami beberapa waktu yang lalu.
Setahun yang lalu, kira-kira bulan Juli, saya bersama keluarga ke Pekalongan untuk menghadiri pernikahan sepupu saya dari kakak perempuan papa, bibi saya.

Continue reading “(bukan) Siti Nurbaya”

100% Cina, 100% Indonesia

asian girl facing the wide world

Mbak Cina yah,?” Tanya seorang petugas Cleaning Service kampusku saat aku menyapanya di toilet—kira-kira dua tahun yang lalu. Dengan muka setengah kaget aku berusaha menjawab setenang mungkin—setengah hati aku sebenarnya ingin menjawab, “Iya, memang kenapa,mbak,?” Namun di saat itu aku malah mengikuti setengah hatiku yang lain dan menjawabnya dengan, “ ah, nggak, aku orang Manado. “Ah masa sih, Mbak, kok kayak orang Cina, jarang soalnya Cina yang masuk sini, “ lanjut CS itu dengan polosnya.

Continue reading “100% Cina, 100% Indonesia”

Simple Life Lesson from Rain..

hujan-by-arif-nug

Tangannya yang hitam dan kecil tengadah siap menadah hujan. di sebelahnya, aku pun berjongkok sembari menunggu hujan. Ada persamaan antara kami : kehujanan di siang hari itu; dan kami berteduh di pertokoan yang bersebelahan dengan rolling door tertutup di daerah Pancoran. Namun dia adalah seorang anak laki-laki berusia 9 tahun. Wajahnya senyum sumringah, sedangkan aku merengut menekuk bibir dan dahiku. Aku bête. Ayahku lupa membawa jas hujan saat menjemputku pulang. Ini bukan pertama kalinya kami kehujanan. Dua tahun yang lalu, aku ingat saat itu aku mengeraskan hatiku dan bersikap reaktif. Aku marah kepada ayahku. “Papi sih, apa salahnya sih, bawa jas hujan,?” Selang waktu berlalu, aku pun sadar bahwa apa yang kulakukan tak ada gunanya. Memangnya, papaku yang buat hujannya?

Continue reading “Simple Life Lesson from Rain..”