asian girl facing the wide world

Mbak Cina yah,?” Tanya seorang petugas Cleaning Service kampusku saat aku menyapanya di toilet—kira-kira dua tahun yang lalu. Dengan muka setengah kaget aku berusaha menjawab setenang mungkin—setengah hati aku sebenarnya ingin menjawab, “Iya, memang kenapa,mbak,?” Namun di saat itu aku malah mengikuti setengah hatiku yang lain dan menjawabnya dengan, “ ah, nggak, aku orang Manado. “Ah masa sih, Mbak, kok kayak orang Cina, jarang soalnya Cina yang masuk sini, “ lanjut CS itu dengan polosnya.

Maksudnya tentu saja bukan masuk toilet (hehe) namun masuk ke fakultas tempat aku menempuh studi hingga memasuki tahun ketiga saat ini. Aku tahu mengapa ia mencurigaiku sedemian rupa. Aku berkulit putih, dan memang aku keturunan Cina. Tapi aku menolak untuk menjawab jujur, karena saat itu aku begitu parno dan merasa jika aku menjawab jujur, hal itu akan menjadi berlanjut. Tapi apa iya akan berlanjut? Memang bagaimana lanjutannya? Jujur saat itu aku tidak paham benar akan isi hati dan pikiranku yang tidak sinkron. Karena gemar mempelajari (sedikit-sedikit) ilmu Psikologi, akupun tahu bahwa perasaaku adalah bagian dari prasangka (prejudice) yang tumbuh subur baik di pihak kaum asli masyarakat Indonesia yang kemudian disebut pribumi, dengan masyarakat keturunan Tiong Hoa di Indonesia. Ini bukan masalah prasangka searah; namun kita sama-sama tahu bahwa ini masalah saling berprasangka buruk. Tidak perlu dibahas disini, namun yang perlu kita pahami bersama adalah bahwa rahasia umum tersebut bukanlah sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan, dievaluasi keberadaannya, dan terus menerus diperbaiki.

Awal tahun 2009 yang lalu, aku mengikuti sebuah pelatihan pembinaan Character di Bintaro. Di saat briefing, teman perempuan kami yang keturunan Cina dengan peserta pria yang baru kami kenal. Sederhana, saat itu si pria mengeluh tak membawa shampoo, dan teman perempuan ku langsung menimpalinya santai dengan berkata, “Gue bawa dong, tapi gue ga mau ngasih, kan gue Cina, jadi gue pelit, haha.. “ Aku pribadi tahu pasti bahwa saat itu ia sedang bercanda. Dan menurutku, keadaan saat itu sedemikian lumer, non formal, dan tercipta kesatupahaman diantara kami sedemikian rupa hingga becandaan model itu di saat yang sama dianggap oleh teman-teman wajar dan lucu. Dalam benakku, teman perempuanku itu sangatlah berani dan bebas untuk mengatakan itu—berbeda dengan aku yang banyak kompromi dan tertutup saat menghadapi situasi yang kuhadapi di awal cerita. Namun apakah itu sungguh benar bahwa kita turut memperkenalkan bahwa Cina identik dengan pelit? begitu pula halnya dengan teman-temanku yang santai dengan joke yang masih berbau suku, “dasar Cina lo, pelit,!” atau “dasar Batak lo, kasar banget,!” “ah, lemot banget sih, Wa, Jawa..” baik di pembicaraan santai maupun di jejaring sosial-maya seperti Facebook.

Komunitas hasil pelatihan character yang aku dan teman-teman ikuti memang plural, meski tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar dari kami adalah keturunan Cina, kemudian, Jawa, Ambon, dan Batak. Joke-joke konyol yang menyangkut ras tetaplah muncul dalam pergaulan kami—meski aku yakin sebagian besar bahkan semua dari kami tahu pasti itu Cuma bercanda dan tak perlu dimasukkan dalam hati. Namun apa yang terjadi jika itu lestari dan mengarah ke hal yang negatif sampai di luar komunitas?

Ketika peristiwa Mei yang kelabu terjadi; kaum keturunan merasakan banyak kesedihan, dan trauma yang besar hingga saat ini. Namun tidak bermaksud mengungkit trauma itu tanpa bermaksud membenahinya, iklim demokratis dan kebebasan yang menyangkut perbedaan suku, kepercayaan, agama dan latar belakang perlahan mengakar dan bertumbuh di Indonesia—haruslah didukung seratus persen untuk diwujudkan.

Teringatku akan perkataan dari Pak Boediono, wakil Presiden terpilih Indonesia 2009-2014 di televisi, beberapa bulan yang lalu sebelum ia dilantik dalam acara ‘mengenal lebih dekat sosok Pak Boediono’ yang dihadiri kaum pengusaha Tiong Hoa Indonesia. Hal yang banyak diajukan untuk dijadikan materi tanya jawab saat itu adalah pendapat beliau seputar multikulturalisme, bagaimana agar keberadaan warga keturunan Tiong Hoa di Indonesia dihormati, dan anggapan negatif yang tumbuh di masyarakat selama berpuluh-puluh tahun. Dengan gaya yang wise, hati-hati, namun terkesan sabar dan apa adanya, pak Boed, begitu ia biasa disapa, menjawab*), “Seperti yang banyak saya utarakan di kampus ke mahasiswa saya, bahwa sudah tugas kaum muda (termasuk kaum muda keturunan dalam konteks ini, sebab mengacu pada konteks pertanyaan dan jawaban yang diberikan oleh Pak Boed saat itu.red) dalam pergaulan untuk menunjukkan perbedaan, bergaul dengan siapa saja, tidak mengelompok, dan menunjukkan bahwa kita bisa bekerjasama dalam artian positif,”

Secara pribadi aku ingin sekali menunjukkan kebanggaanku pada sahabat-sahabatku. Mereka juga warga keturunan, namun dedikasi mereka untuk menunjukkan perbedaan dan punya aksi nyata bagi masyarakat Bantar Gebang serta masyarakat di bantaran Kali Ciliwung tanpa membedakan suku, agama, dan latar belakang dalam komunitas MAGIS yang begitu plural, nyata, dan membumi. Terkadang aku dan beberapa teman lain sepakat dalam curhat-curhatan kami—betapa kami sedih dan prihatin melihat masih banyaknya teman-teman keturunan yang tidak mau ‘membaur’ menciptakan gap dengan ‘gaul-hanya-dengan-komunitas-berlatar-sama’ ; dan tidak tanggap dengan keadaan sekitar.  salah satu teman dekatku pernah berkata, “kita tuh harusnya bangga,  100% Cina, 100% Indonesia.” Aku pribadi merasa bersyukur bisa hidup di komunitas kampus yang multikultural, yang membukakan pintu pikiranku ke arah yang lebih positif, menghargai orang lain yang berbeda, dan hidup berdampingan dengan damai. Ada yang mengatakan, bahwa dunia Perguruan Tinggi, dimana terdapat di dalamnya para akademisi, sangatlah terbuka dan belajar menghargai orang lain dari pendapat dan pikirannya, bukan melihatnya secara cetek hanya dari suku, warna kulit, agama, dan latar belakang. Saya dan teman-teman pernah berkunjung ke komunitas sanggar anak-anak di daerah Depok lama dan pernah mencoba mengajar di sana. Kami kebingungan mencari jalan, dan warga sekitar pun melihat kami yang berwarna kulit putih dan bermata sipit dengan sedikit wajah bingung, tatapan curiga. Tak disangka, sebuah pertanyaan terlontar dari warga yang sedang menggosok angkotnya di sebuah rumah yang kami lewati, “eh, dari Tiongkok ya,? Ha..ha..” sedemikian rupa hingga membuat wajah kami antara memerah karena canggung, bingung, bercampur kaget. Kami memutuskan untuk melempar senyum sebagai balasannya. Kami sadar sepenuhnya dalam situasi itu. Saat mengunjungi pusat perbelanjaan di Depok, aku mendengar celetukan anak SMP yang berkumpul, “iya, kayak orang Cina yah,?” entah apa yang mereka perbincangkan; namun bagiku, mendengar nama Cina disebutkan dengan nada ditekankan dan dibedakan terdengar sangatlah negatif—dan ini masih berlangsung saat ini. Aku pribadi percaya, bahwa aku harus menghilangkan kenegatifan dengan menunjukkan sikap dan atensi yang baik dari kita teman-teman warga keturunan untuk masyarakat luas yang begitu plural di luar sana; meski masih sulit dan memakan waktu yang lama pastinya. Namun ini semua bukanlah tidak mungkin untuk dilakukan bukan? Secara halus namun gamblang, aku ingin sekali menjawab pertanyaan petugas CS yang menanyaiku dua tahun yang lalu, yang kini sudah tahu pasti kalau aku adalah keturunan Cina, dengan statement seperti ini, “ iya, mbak, aku keturunan Cina, tapi aku tetap orang Indonesia  juga lho, Mbak?” (*nadanya bangga banget seolah duta Indonesia gimana gitu). Bahwa aku bangga jadi bagian dari masyarakat Indonesia yang plural, yang punya kekuatan dari pluralismenya itu. Bahwa kita bisa hidup berdampingan tanpa prasangka akan ‘label’ kita yang berbeda. Tentu saja ini harus disertai dengan bukti nyata bahwa aku menghargai perbedaan yang ada dengan tak membedakan dalam bergaul, mulai dari pergaulan keseharian, hingga sikap dan perilaku kita ke hal yang lebih luas, jujur dan tidak berpura-pura. And I think we’re all can (should) do the same things too.

Singkatnya, jangan lagi ada prasangka, jangan lagi ada angkara, meminjam syair lagu nya Mbak Nicky Astria (hehe, duh jamannya).

Bagaimana dengan pengalaman kalian, teman-teman?

5 Oktober 2009

KS

menyemangati kembali kesadaranku yang sering naik turun; untuk kembali memperjuangkan hal-hal dan nilai hidup yang sulit menjadi nyata.

Advertisements