PIPIT

Muntilan, 15 Oktober 2007

Dua burung pipit terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bernyanyi di dahan yang rendah. Suara mereka terdengar begitu merdu. Gemericik air terjun kecil di dekat Gua Maria  menambah heningnya ibadat Minggu pagi ini. Waktu sarapan pun telah usai. Dengan langkah kecilnya, Ning langsung menuju toko oleh-oleh di depan penginapan. Ning tidak pernah sebimbang ini sebelumnya.

Dengan cekatan tangannya terus mengepak kartu-kartu bergambar itu. Namun pikirannya tidak disana. Rasanya baru saja ia meninggalkan pahit dunianya di masa lalu. Baru saja. Delapan tahun tidak dirasakannya sebagai tahun yang begitu panjang. Ia begitu damai dengan hidup barunya saat ini. Jauh dari rasa sakit yang ia alami. Rasa sakit yang ia simpan rapat-rapat. Damai hidupnya saat ini, memang sempat menutup lubang di hatinya. Tapi surat itu membuatnya kembali mengingat rasa sakitnya. Surat tertanggal 11 Oktober 2007. Surat yang memintanya untuk kembali ke Jakarta.

”Ning, kalau sudah selesai mengepak kartu, tolong kamu beri makan Fino di belakang sana, Suster Theodora sedang pergi bersama Romo Frans mengikuti seminar,..” suara halus suster Marcel membuyarkan lamunan Ning. Ning pun mengangguk, dan bergegas memasukkan paket-paket kartu ucapan itu ke kotak coklat di lemari kaca toko. Dua helai kartu terjatuh dari atas meja. Ning pun membungkuk mengambilnya. Dilihatnya sekilas salah satu kartu yang diambilnya. Sebentuk siluet gambar Bunda Teresa yang sedang berdoa tergambar di sisi kartu itu. Sebaris kalimat sederhana menghiasi sisi satunya. ”Love until it hurts,..” Ning pun sejenak terpaku memandangi kalimat sederhana itu. Tetaplah mencintai meskipun cinta itu terasa sakit. ”Rasanya diriku belum siap untuk hal itu, Tuhan,..” lirihnya dalam hati.

Namun gonggongan Fino membuatnya tersadar kembali, dan iapun bergegas berlari.

***


“Fino, kamu begitu beruntung. Hidupmu nampak begitu damai dan ceria,..” tutur Ning sambil mengelus bulu halus Fino. Fino pun menggerakkan kedua telinganya, sembari berusaha menggapai jubah putih Ning yang berlutut di dekatnya dengan kakinya; berharap Ning tahu bahwa ia bisa merasakan sedih yang dialami Ning. ”Hihi, kamu memang anjing yang baik. Nih, makan ya, kutinggal ke dalam. Terima kasih, kamu mau mendengarkan keluh kesahku,..” Ucap Ning sambil tersenyum. Dikebaskannya serpihan tanah di ujung jubah putihnya akibat cakaran Fino. Ning memang terlihat begitu cantik dengan jubah putihnya itu. Senyum manis selalu mengembang di wajahnya yang polos tanpa make up, jauh lebih cantik dari citra wanita yang selalu digambarkan dalam majalah dan televisi di Jakarta.

Ning melangkah kembali ke dalam asrama. ”Mbak Ning,” sapa suster Cicilia dari balik pot-pot kembang mawar putih di pekarangan. Ning pun tersenyum balik menyapa. Saat melangkah di koridor, Ning kembali teringat akan surat yang baru saja ia terima kemarin.  Iapun bergegas kembali ke kamarnya.

Jakarta, 11 Oktober 2007

Mbak Ning, bapak sudah pulang tiga hari yang lalu. Mohon doa dan ikhlasmu ya mbak, mudah-mudahan ia tenang di sana. Aku baru saja selesai mengurus kremasinya hari ini. Maaf aku ndak sempat mengabari secepatnya, karena aku harus ngurus ibu yang sempat shock. Sekarang ibu sudah di rumah, keadaannya sudah baik. Dia pingin ketemu mbak. Mbak bisa ke Jakarta ya? Atau kuminta mas Tito menjemputmu ke Gedono? Ia berangkat ke Semarang hari ini, untuk mengurus beberapa pekerjaannya, ia pasti ndak keberatan kalo kuminta mampir ke sana untuk menjemputmu. Kami rindu padamu mbak, keadaan telah lama membaik. Kami mencintaimu.

Perlahan, Ning membuka laci mejanya, mencari lembaran surat yang ia terima beberapa bulan yang lalu, surat lain yang membuatnya menyesali akan langkahnya yang terlambat.

Jakarta, 4 Juli 2007

Mbak Ning, ini aku Ola. Bagaimana kabarmu mbak? Kami di sini baik, tapi Bapak bertambah parah. Dokter bilang paru-parunya sudah mengeras tiga perempatnya. Namun bapak bersikeras mau di rumah saja .Mbak pulang ya? Bapak bilang ia kangen sama mbak. Pulanglah mbak. Kami menunggumu disini. Salam hangat buat suster Marcellina dan teman-temanmu yang lain. Kita semua ngumpul disini sekarang. Aku dibolehkan bawa ibu dan bapak oleh Mas Tito. Dia kasian sama aku yang bolak-balik ke rumah ngurus bapak dan ibu.


Jakarta, 10 Januari 2007

Nak, pulanglah. Bapak rindu padamu. Dewo sudah pulang dari Bandung. Sudah jadi orang dia sekarang. Bapak kangen padamu, bapak pingin kita bisa ngumpul sekeluarga. Maafkan bapak karena begitu menyakitimu. Pulanglah nak, kami semua merindukanmu.

Setetes air mata meluncur turun dari mata teduh Ning, dan melambat berhenti di lesung pipitnya. Teringat kembali peristiwa kelamnya di Jakarta dua puluh tujuh tahun yang lalu. Betapa sulitnya ibu membesarkan tiga anak sendirian di kota besar seperti Jakarta. Betapa miris saat ia harus melihat ibunya memeras kedelai panas untuk diambil sarinya, dan dijual ke sekolahnya saat itu. Setiap malam ibunya tak pernah kunjung henti mengerjakan pesanan kain bordiran dari ibu-ibu pengajian di dekat rumahnya. Semuanya dilakukan agar ia dan adik-adiknya tetap makan dan dapat terus mengenyam pendidikan. Satu hal yang tak bisa dilupakan oleh Ning, bahwa ibunya selalu mengajarkan padanya dan kedua adiknya agar bertumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih dan damai meskipun mungkin malah berbalas dengan rasa sakit.

Ning kecil tidak pernah merasakan apa yang dirasakan Titi sahabatnya, yang selalu diantar sekolah oleh bapaknya. Bapak Ning begitu dingin. Ia tidak pernah memukul Ning atau ibu dan adiknya, namun sikap keras kepala dan acuhnya jauh membuat Ning lebih kecewa. Beliau pun pergi sejak Ning berusia sepuluh tahun. Keadaan keluarga pun makin memburuk. Betapa sedihnya ia saat tahu bahwa ibunya menjual semua perhiasan dan baju saat Ola dan Dewo mulai masuk sekolah. Semua perjuangan itu dilakukan ibunya sendirian, tanpa ada sosok suami disisinya.

Ning pun tumbuh menjadi gadis remaja yang ragu untuk membuka hati bagi pria. Jauh dilubuk hatinya, ia takut mengalami sakit yang dialami ibunya. Setelah Ning bekerja, iapun mengambil alih upaya ibunya membiayai kuliah Ola dan Dewo. Di puncak karirnya sebagai seorang editor di perusahaan penerbitan terkenal di Jakarta, seorang teman dekat Ning memberikan sebuah buku kecil. Buku kecil yang berisi pengenalan akan tempat yang damai yang ia tinggali saat ini. Tempat yang membuat ia memutuskan untuk mengambil jalan hidupnya sampai detik ini.

Ning menyeka air matanya dengan jarinya yang mungil. Kerut halus mulai nampak di punggung tangannya.

Iapun mengambil sebuah surat yang lebih lama yang ia terima dari adiknya.

Bandung, akhir Desember 2006

Mbak Ning, ini aku, Dewo. Aku berhasil lulus mbak, seminggu yang lalu aku diwisuda. Puji Tuhan, aku summa cum laude, mbak. Aku kangen sekali sama mbak. Pulanglah, kita ngumpul sama bapak, ibu, dan mbak Ola. Saat mbak menerima surat ini, mungkin aku sedang mengepak barang-barang untuk kembali ke Jakarta, karena aku juga kebetulan dapat proyek penelitian bareng profesorku. Bapak sudah pulang, mbak. Kasih Tuhan telah membawanya kembali. Percayalah mbak, keadaan sudah membaik. Kita sudah memaafkan bapak, seperti ibu yang memaafkan bapak karena cintanya yang teramat dalam. Rasa sakit di hatimu, seperti juga di hatiku dan Mbak Ola, mungkin ndak sedalam rasa sakit yang dialami oleh ibu. Aku dan mbak Ola jadi merasa malu karena hati ibu yang begitu halus dan penuh maaf, serta doa dan bapak. Dewo ndak bermaksud menghakimi atau merasa sok paham dengan rasa sakit dihatimu; namun satu hal yang aku yakin, kasih dalam hatimu, kasih dan ketulusan yang sama yang kurasakan dari perjuanganmu untukku dan mbak Ola, pasti jauh lebih kuat dari sakitmu.

Dewo tunggu mbak pulang ke rumah ya.

Tuhan Yesus memberkatimu.

Tiba-tiba Ning merasakan kepalanya begitu berat.  Hatinya penuh sesak, serasa tangis dalam  hatinya ingin robek kembali. Iapun bangkit berdiri, dan merebahkan dirinya di tempat tidurnya. Iapun berusaha memejamkan kedua matanya, dan mengatupkan kedua tangannya di atas perutnya. Iapun membuat tanda salib, dan mulai berdoa.

”Tuhan, ampuni aku karena begitu mengeraskan hatiku hingga saat ini. Aku lupa bahwa aku memiliki hati yang baru dariMu. Hati yang lebih kuat, karena bilur kasihMu telah memampukan aku untuk lepas dari kesedihan dalam hidupku. Bahkan sesungguhnya aku harus mampu untuk mengampuni kesalahan bapakku, seperti Engkau telah mengampuni kesalahanku, juga kesalahan bapak sejak dahulu. Aku bersyukur atas seluruh bagian dalam hidupku yang menempaku hingga saat ini, aku  memilih jalan untuk memenuhi panggilanMu. Aku bersyukur buat seluruh cinta yang selalu kau berikan bagi keluargaku. Saat ini aku berdoa untuk bapak. Semoga engkau berkenan menerimanya disisiMu.  Allah Bapa yang MahaBaik, kuserahkan seluruh hidupku ke dalam tanganMu. Amin.”

Ning pun menyudahi doanya. Sesak di hatinya pun sirna. Ning merasa memiliki kekuatan yang baru yang dapat membuatnya kembali bangkit. Bangkit dari rasa pedihnya yang ia simpan rapat, dan hampir menenggelamkannya kembali. ”Rasa sakit mungkin tidak akan pernah bisa dilupakan,” iapun kembali teringat akan kotbah yang disampaikan Romo Wisnu seminggu yang lalu. ”Namun rasa sakit itulah yang membuat kita akan kembali teringat akan kerapuhan kita sebagai manusia, sebagai panggilan untuk kembali ke dalam pelukan kasih Tuhan. Ingatlah bahwa Ia telah merasakan sakit yang teramat luar biasa di salib, karena Ia begitu mencintai kita..”

Ning pun terpejam, bulir air matanya kembali jatuh perlahan. Ia merasakan kedamaian yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Damai karena telah sungguh memaafkan. ”Bapak, maafkan aku karena begitu mengeraskan hatiku. Aku sayang padamu. Aku memaafkanmu,.” lirih Ning dalam hati. Iapun tersenyum, dan memutuskan untuk merebahkan dirinya sejenak lebih lama.

Secercah cahaya putih seperti muncul dalam kegelapan kamarnya. Dilihatnya gambaran samar dirinya yang masih kecil dan kedua adiknya—ya, bersama bapak dan ibunya, saling bercengkerama bersama. Mimpi Ning terlihat begitu nyata.  ”Tuhan Yesus, terima kasih,..”

***

Muntilan, 16 Oktober 2007

Pagi-pagi benar, Ning kembali bangun. Selesai merapikan tempat tidurnya, berdoa sejenak dan bersiap-siap, ia bergegas ke kapel. Dilihatnya jam tangan klasik nan mungil yang terikat di tangan kirinya. Sudah pukul 06.30 pagi.

”Suster Christa, kamu  lihat suster Marcel?”

”Usai misa bersama tadi pagi, ia bersama Romo Wisnu pergi berjalan-jalan ke kebun bayam, Suster Ning,”

”Oh, ya sudah, terima kasih..” jawab Ning sambil tersenyum dan meneruskan langkahnya yang tergesa-gesa.

”Suster Ning, lama tak berjumpa, ” sapa Romo Wisnu melihat Ning dari jauh. ”Iya, Romo, bagaimana kabarmu? ” ucap Ning sambil tersenyum menjabat tangan Romo Wisnu. ”aku merasa lebih baik, Romo,” Ning tersenyum.  Ning pun memalingkan wajahnya pada suster Marcel.

”Suster Marcel,”

”Ada yang ingin saya bicarakan sekarang,”

”Urgent sekali sepertinya,” jawab Suster Marcel singkat.

”Tidak, kok Suster. Saya bisa menunggu. Tidak apa-apa, Suster silakan terus menemani Romo Wisnu, biar saya menunggu di ruang kerja suster,..”

Ning tersenyum, meminta dirinya di hadapan Romo Wisnu dan Suster Marcel, dan kembali.

***

Ning pun melangkah masuk ke ruang di sebelah kapel. Ruang kerja Suster Marcel sebagai suster kepala sejak ia pertama kali datang ke sini memang tidak pernah berubah. Sebuah lukisan besar bergambar Bunda Maria berada di belakang mejanya tidak pernah dipindah. Sebuah salib kecil tergantung di sisi dinding yang polos diantara  kabinet coklat dan rak buku. Entah mengapa, pikiran Ning selalu melayang ke masa lampau saat ia duduk di ruangan ini. Saat dimana ia pertama kali duduk di sini, di hadapan suster Marcel, dan memutuskan untuk tinggal disini. ”aku mau tinggal disini, Suster, rasanya begitu damai,..” ucap Ning waktu itu.

”Ning,..” sapa Suster Marcel sambil menyentuh pundak Ning. ”Maaf terlalu lama, tadi Romo wisnu bersikeras membeli beberapa ikat bayam dari kebun kita untuk oleh-oleh untuk anak-anak di Vincentius..” ucap suster Marcel sambil bergegas duduk di balik mejanya. Garis kerutan nampak semakin banyak di wajahnya. Tiba-tiba Ning teringat dengan ibunya.

Ning pun mengangguk sambil tersenyum.

”Tidak apa, suster,..”

”Ada apa, dirimu nampak gusar pagi ini,..”

”Saya  ingin kembali  ke Jakarta,..”

Dan suster Marcel pun mengangguk.

”Jadi kamu telah melupakannya, Ning?”

”Lebih dari itu, suster. Saya sudah memaafkan bapak, meski tak sempat bertemu beliau terlebih dahulu dipanggil,..” Jawab Ning sambil tersenyum.

Suster Marcel pun tersenyum sambil menggangguk. Iapun bangkit memeluk Ning. ”Pulanglah, nak, lepaskan rindumu. Kamu boleh kembali kesini kapanpun kamu mau..”

”Suster Marcel, tempatku tetap disini. Saya mau tetap melayani Tuhan disini. Saya hanya sebentar di sana. Saya  berjanji.. ”

Baiklah kalau begitu. Suster Maria Widyaningsih, kamu kuperbolehkan pulang,nak, kembalilah ke sini, kami semua begitu mencintaimu..”

***

Matahari nampak begitu hangat siang hari ini di Gedono. Sehangat dan sedamai hati Ning saat ini. Usai berpamitan dengan seluruh penghuni Susteran, juga dengan Suster Marcel yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri, iapun melangkah masuk ke dalam becak yang telah menunggunya.

”Ke stasiun ya Pak,..”

”Baik, non,”

Ning begitu tak sabar ingin segera bertemu dengan keluarganya. Keluarga yang ia tinggalkan begitu lama. Keluarganya yang sederhana dan penuh syukur meski hidup terasa berat. Keluarganya yang perlahan belajar, bahwa arti cinta tidak hanya hidup dalam senang, namun perjuangan tanpa akhir meski kita merasa sakit. Love until it hurts.

Ning pun kembali tersenyum, namun kali ini dengan hati yang teramat damai dan ringan.

Advertisements