hujan-by-arif-nug

Tangannya yang hitam dan kecil tengadah siap menadah hujan. di sebelahnya, aku pun berjongkok sembari menunggu hujan. Ada persamaan antara kami : kehujanan di siang hari itu; dan kami berteduh di pertokoan yang bersebelahan dengan rolling door tertutup di daerah Pancoran. Namun dia adalah seorang anak laki-laki berusia 9 tahun. Wajahnya senyum sumringah, sedangkan aku merengut menekuk bibir dan dahiku. Aku bête. Ayahku lupa membawa jas hujan saat menjemputku pulang. Ini bukan pertama kalinya kami kehujanan. Dua tahun yang lalu, aku ingat saat itu aku mengeraskan hatiku dan bersikap reaktif. Aku marah kepada ayahku. “Papi sih, apa salahnya sih, bawa jas hujan,?” Selang waktu berlalu, aku pun sadar bahwa apa yang kulakukan tak ada gunanya. Memangnya, papaku yang buat hujannya?

Awal tahun yang lalu, akupun mencoba mengubah semua perangai burukku. Tentu kita semua harus melalui proses sebelum akhirnya mendapatkan apa yang kita inginkan bukan? Berbekal penanaman prinsip dalam hatiku pribadi bahwa “aku tidak bisa mengubah ataupun mengontrol apa yang ada di lingkunganku; aku hanya bisa mengubah diri pribadiku dan reaksi apa yang kutimbulkan akibat apa yang kuhadapi” aku mencoba berlaku beda. Dan usahaku berhasil !seperti seorang anak kecil yang kegirangan menari dengan baju sekolahnya di bawah hujan, aku tertawa lebar saat kehujanan (kembali) bersama ayahku. Saat itu kami mengenakan jas hujan, namun hujan sangat deras. Lucunya, aku merasa bahwa alam sepertinya sangatlah mendukung; hujan tetaplah deras, menguji kesungguhanku untuk bersabar dan tetap positif. Peraasaanku pun sepertinya bertambah gembira meski celanaku belepotan genangan becek yang terciprat mobil tetangga yang melaju ataupun pipiku yang sedikit sakit tertusuk jarum rintik hujan yang deras. aku dan papaku tertawa sepanjang jalan. “duh, Van, edan ah, ujannya deres banget, eh,” dengan logat jawanya papaku setengah berteriak.

Adik kecil itu tertawa cengingis sambil menggosokkan telapak tangannya yang basah ke dinding toko tempat kami berteduh siang itu. Aku kembali ingat akan pelajaran yang kudapat dari sang hujan. adik itu adalah seorang pemulung nampaknya—ia pulang dengan sekarung lusuh gelas-gelas plastik dan berjalan dengan kaki yang telanjang. Wajahnya yang lugu dan ceria mengingatkanku betapa tak bersyukurnya aku punya kehidupan yang lebih baik—kejadian kehujanan adalah ‘gangguan minor’ yang sama sekali nggak penting hingga sampai membuatku bête, cepet tua karena merengut, ataupun punya hubungan yang buruk dengan ayahku.

Si adik sudah pulang. aku masih berjongkok menunggu hujan sedikit lebih kecil. Aku terjaga dalam lamunanku tadi; ayahku sedari tadi sejak mengajakku berbicara soal keberangkatan kami bulan depan ke luar kota; namun aku ya tak begitu menyimaknya. Maaf ya pa, aku kembali keras. Dalam diam aku berusaha tetap merenungkannya kembali. “Yuk, Van, hujannya uda kecil,” kata ayahku. Akupun naik kembali ke motor. Aku belum seriang masa itu, ceria di bawah hujan. Namun aku merasa kembali tertegur oleh hatiku sendiri, “masa kemarin kamu sudah sampai di titik itu, dan kembali ke titik awal,?”

Terima kasih adik kecil, terima kasih hujan.

Maafin aku ya, Pa,.

Peringatan st. Fransiskus Asisi,

4 Oktober 2009

KS

Advertisements