berkebaya

“Huh, masih jaman ya, dijodohin, ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi, kan!”

Kita pasti hapal benar dengan rangkaian kalimat itu–yang sering jadi kalimat pamungkas di adegan-adegan favorit dimana pemainnya enggan dijodohkan, atau bahkan terjadi di antara kita: seperti halnya yang saya alami beberapa waktu yang lalu.
Setahun yang lalu, kira-kira bulan Juli, saya bersama keluarga ke Pekalongan untuk menghadiri pernikahan sepupu saya dari kakak perempuan papa, bibi saya.

Sepupu dan keluarga bibi saya tersebut sebenarnya bermukim di daerah Petojo, namun memang kecenderungan, atau bisa dibilang tradisi tak tertulis—dimana dalam keluarga besar papa, anak-anaknya selalu melangsungkan pernikahan di Pekalongan. Saya tidak tahu bagaimana ‘nasib’ saya nanti. Namun alasan utama dipilihnya Pekalongan adalah karena bibi saya dan suaminya sebagai orang tuanya sudah almarhum, sehingga pernikahan pun diurus oleh kakak tertua papa, paman tertua saya, yang memang satu-satunya yang tinggal di Pekalongan. Kami pun berkesempatan untuk mengunjungi deretan toko oleh-oleh serta Batik khas nya Pekalongan tersebut di daerah Kedungwuni. Saat saya sibuk memilih baju batik, paman saya asyik mengarahkan ponsel canggih barunya untuk memotret saya yang kala itu tak sadar. Saat tahu, saya pun berkata, ” lho, kok Mpek*) moto diem-diem,”
“ndak opo toh, ndok, koe ayu, ntar tak kenali sama bos kenalanku yo,baek orangnya” jawab paman saya polos. What??? Duhh, haree genee masih dijodohin? Ahh, saat itu saya memang sedang tak punya kekasih, dan belum pernah mengenalkannya pada keluarga besar atau apapun (budaya tak tertulis lainnya di keluarga besarku). Bagaimana ini? Tanyaku dalam hati, setengah cengir menghadapi paman saya. Mamaku yang ada di dekatku pun hanya geleng-geleng sambil tersenyum kecil.
Sedikit info, pamanku cukup bangga dengan keberhasilannya ‘memperkenalkan’  sang kedua mempelai yang akan positif LANJUT di pernikahan yang akan kami hadiri. Teruss, cerita nya dia mau ngulang hal yang sama ke saya nih,?
“Duh, masih muda nih, mpek, aku masih puengen kuliah, kerja, lagian aku bisa kok cari sendiri,!”
Ingin saya berkata demikian, namun untungnya mengingat toto kromo dan nilai-nilai kesopanan,
Dan akhirnya keluarlah kalimat cantik ini.
“Mpek, aku uda punya temen deket (padahal lagi kosong), ganteng lho,Mpek, anak kampusku juga, anak Hukum (duh, siapa sih?) nanti kukenalin sama Mpek deh, lagian, aku bisa kok Mpek, nyari sendiri, ndak usah ngerepotin Mpek, ” jelasku sambil senyum mesem-mesem ga karuan.
Paman saya pun manggut dan berkata, “yo wis, ndok, yang penting koe nyari yang bener, seiman, sesuku, koe tuh ayu, pinter, ngerti ndak,”
Ge-er (dibilang ayu dan pinter) seneng, dan lega, semua campur aduk dalam hati saya saat itu.
Kadang ingin percaya bahwa dijodohin tidaklah selalu berhasil negatif, karena toh, banyak kisah-kisah sukses perjodohan yang saya tahu sampai saat ini. Bahkan, bisnis perjodohan lewat biro jasa ada yang saya nilai begitu sophisticated, rapi dalam menjaga kerahasiaan, me match kan pasangan sesuai kriteria kedua belah pihak, bahkan membantu meng -arrange pertemuan kita dengan pasangan dan tetap meminta evaluasi kita untuk lanjut atau tidak pasca pertemuan!  Atau kita bisa pilih yang instan dan terkenal seantero Indonesia ala perjodohan pilih langsung di televisi yang sedang ‘in’ saat ini. Paling ga, jaman dijodohin ala roman jaman dahulu sepertinya tak lagi terdengar.
Saya pribadi masih percaya pada cara konvensional; dimana saya ingin sekali bersahabat seluas mungkin, menjalin relasi, nah, urusan nemplok ke satu hati, bisa sambil jalan toh,?

Tapi itu kembali ke pribadi masing-masing. Mungkin ini pikiran saya yang masih mahasiswa. Mungkin akan berbeda saat saya sudah melangkah ke dunia kerja nanti, atau nanti di usia yang lebih matang (duh, mudah-mudahan sang tambatan hati tak lama lagi datang 🙂
Sampai sekarang, dengan bangga saya masih menyandang status jomblowati. Beberapa teman saya di kampus sudah melangsungkan pernikahan. Beberapa saudara dari keluarga saya di pertemuan kami kadang bertanya pada saya, “eh, uda gede sekarang, uda punya pacar nih,pasti,” yang jelas membuat saya mesam-mesem (lagi) menanggapinya. Awal November nanti, sepupu saya, yang adalah anak terkecil sang paman, menikah di Pekalongan. Saya pun akan menghadirinya. Entah apa yang akan saya katakan kepada sang paman saya yang tercinta lagi kalau tahu keponakkannya yang ayu ini masih jomblowati. Mungkin saya akan menjawab spontan on the spot, kayak anak jaman sekarang yang ngadepin ujian bukan dengan sistem kebut semalam lagi, tapi dengan sistem jawab sekejap, seadanya.

Pokoknya, aku emoh dijodohin, kan bukan jaman Siti Nurbaya!

Depok, 7 Oktober 2009

*) Mpek : panggilan untuk paman di dalam keluarga saya yang keturunan; dan bukan mpek-mpek pastinya. Biasa juga disebut Engkuh, Kukuh, sering berbeda-beda sesuai ajaran orang tua turun temurun.

Advertisements