Minggu pagi kemarin, aku memutuskan untuk mengikuti misa pagi di pastoran mahasiswa di dekat kampusku. Hal ini baru pertama kali kulaksanakan, setelah di setiap kesempatan aku memutuskan ke gereja yang lebih jauh jaraknya. Pagi itu sepertinya aku memiliki semangat yang lain untuk mengikuti misa di pastoran. Entah mengapa.

Dengan misa yang sederhana, Romo Yumar memimpin misa persiapan ujian tengah semester tersebut di dalam pendopo. Bersama anak-anak dari fakultas lain, aku pun mengikuti misa di pagi ini selama kurang lebih satu jam.

Sudah lama aku tidak bersua dengan teman, sahabat, sekaligus ayahku, Romo Yu; begitu sapaan hangat yang biasa ia terima dari teman-teman mahasiswa. Namun pagi hari kemarin, aku bersyukur untuk kesempatan baik ini, dimana aku bisa kembali diteguhkan olehnya.

Ya, buatku, beliau adalah sahabat terbaik yang telah menguatkan aku ketika mengalami segenap masalah sejak aku memasuki dunia kampus—bahkan beliau adalah tempat curhat aku soal cowok yang pernah aku suka, dan bagaimana masalah dalam keluargaku.

Aku bersyukur karena Tuhan memberikannya sebagai sahabat dalam hidupku. Nasihat-nasihatnya dalam perjumpaan dan sharing dengan beliau kami pagi itu, seperti halnya dalam setiap perjumpaan yang kami lakukan, selalu dapat meneguhkan dan menyegarkan jiwaku untuk menghadapi hidup.

coffee

Selepas misa, aku  memutuskan untuk tinggal lebih lama di pastoran siang itu—untuk sekedar duduk dan mengobrol dengannya. Kami saling bertanya kabar di pagi itu; ditemani dengan segelas kopi, sepotong roti berselai, dan potongan apel di meja makannya.

Aku bercerita banyak soal pelatihan menulis kemarin dan ingin sekali bisa menularkan semangat menulis yang kudapat baginya yang sangat suka menulis.

Ia senang sekali aku memutuskan untuk mengikuti  pelatihan itu; yang membukakan kesempatan baik bagiku. Iapun mengutarakan keinginannya untuk kembali menulis; meski begitu sulit karena ia haruslah berjuang melawan sempitnya waktu ditengah kesehariannya menjadi pastor pendamping mahasiswa dan dinamikanya. ia pun menyadari, bahwa menulis butuh refleksi, waktu luang, dan kegiatan membaca: sesuatu yang masih sulit ia dapatkan sampai saat ini.

Pembicaraan pun sedemikian larut: ah, rasanya sangat menyenangkan bertemu kembali dengan pribadinya yang begitu hangat dan terbuka. Ingin aku menghabiskan waktu lebih lama dengan dia.

Aku pun memulai bertanya soal  penilaianku soal ‘setengah-setengah’ nya aku dalam menghadapi banyak hal.

Dihatiku memang sudah cukup lama terganjal oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari pengalaman-pengalaman yang telah kupelajari.

Ah, pasti aku akan mendapatkan jawabannya nanti, pikirku.

Tapi entah kapan.

Sampai akhirnya Tuhan sepertinya membuka jalanNya bagiku untuk membaginya bersama Romo Yumar, dan memberikan kelegaan dan jawaban bagiku; sebuah jawaban yang bagiku begitu berharga dan ingin sekali kubagikan di sini.

Aku memahami diriku dan kebingungan yang kualami sebagai upaya memahami eksistensiku sendiri sebagai seorang individu: megenai apa yang harus kulakukan di masa depan, dan bagaimana peranku bisa berguna bagi sesamaku. Setiap mozaik pengalaman dan pengetahuan yang kudapat selama ini membantuku untuk semakin bersyukur dalam hidup dan memantapkan langkahku untuk bisa membantu yang lain.

Aku adalah bagian dari para mahasiswa di rumpun ilmu sosial kemasyarakatan yang dibekali ‘kacamata’ untuk melihat bagaimana kondisi masyarakat real, khususnya kesehatan. Bagaimana kita seharusnya sebagai seorang kaum muda yang berbekal pengetahuan dan energi tinggi yang sebentar lagi akan terjun ke masyarakat. Dalam lingkungan akademisi; kami semakin didorong untuk tak hanya pasif belajar, namun juga menjadi solusi yang nyata dan mengubahkan bagi masyarakat.

Kami memang dibekali semangat para dosen, literatur, dan media soal kesehatan masyarakat yang begitu bobrok dan tak adil bagi mayoritas penduduk tak mampu.

Namun bukan hanya dari cekokan dosen-dosen; keseharianku dalam beraktivitas memang tak lepas dari kenyataan-kenyataan yang bertolak belakang. Ada kemiskinan di depan mukaku. Namun sesekali aku melihat ke ‘atas’, dan melihat bahwa yang kaya tetaplah kaya dan bersenang-senang.  Aku malah menilai diriku begitu munafik karena memiliki cita-cita untuk sukses, kaya; sekaligus bisa menolong mereka yang mengalami ketidakadilan

Jika memang aku harus jadi sesuatu yang berguna bagi sesamaku, dimanakah aku harus berdiri? dan bagaimanakah aku harus bersikap?

Semangat sekaligus kenaifan diriku nampaknya begitu membingungkan diriku ini.

Aku pun mulai menceritakannya kepada Romo Yu soal kebingungan ini: dimana aku merasa setengah-setengah dalam menjalani segalanya. Toh, saat aku tahu bahwa dorongan konsumtif, hedonistik, tidaklah menerbitkan kebaikan dan nilai guna yang baik bagi kepenuhan hidup; namun aku masih saja jadi bagiannya. Bagiku, aku menganggap bahwa diriku begitu setengah-setengah jika dibandingkan dengan kaum muda yang begitu total dalam memperjuangkan keadilan.

Dengan tersenyum, ia mengangguk untuk membuatku yakin bahwa ia mengerti akan kebingunganku dan dan mulai berkata, “dasar dari membantu meringankan beban orang lain adalah membantu diri kita sendiri dahulu untuk tidak malah menyusahkan orang lain lagi; lihatlah jika dalam pesawat (dalam sebuah keadaan darurat), sebelum kita membantu anak kecil memakai masker, kita sendiri terlebih dahulu harus sudah memakai masker itu. Jika kamu melihat orang-orang yang memutuskan untuk total, janganlah lupa bahwa mereka pastinya telah lebih banyak belajar untuk menyiapkan segalanya dengan lebih baik, sehingga ia tidak jadi beban bagi orang yang lain,”

“janganlah naif, bersyukurlah karena dalam dirimu sudah tumbuh dorongan dan kepekaan untuk membantu, namun pahami juga batasan dan kemampuan dirimu. pasti akan ada jalan bagimu untuk tetap memilih yang terbaik bagi setiap keputusan akan kenyataan yang ada,” “nanti aka nada moment seperti kata istilah, ‘Moment of A-HA!’ dimana kamu tahu bahwa apa yang kamu tempa selama ini menjadi berguna bagi kamu ke depannya dalam memutuskan apa sikap dan perilaku yang kamu menghadapi situasi tertentu,”

“iya ya Mo, aku pun terkadang pernah mengalami A-Ha Moment itu, bahwa misalnya ilmu komunikasi yang efektif sudah membantuku memahami orang-orang yang berbeda harus dipahami dan diajak berbicara dengan cara yang berbeda; dan membantuku menghadapi masalah dalam keluargaku, rasanya, A-HA! Kini kutahu, manfaat dari pelatihan yang kulakukan, tapi itupun setelah beberapa lama aku berlatih dan  belajar sabar menunggu waktu yang tepat,” ujarku.

Pernyataannya membuatku sadar bahwa aku masih naïf dalam banyak hal.

Naif dan terburu-buru ingin menjadi seorang yang idealis.

Aku sadar sekarang, bahwa batasan untuk menolong dan menjadi sombong serta naïf sangatlah kecil.

“Kamu harus menyadari bahwa kapasitas utamamu memang masih menjadi mahasiswa,”

Beliau mengingatkanku juga untuk tetap banyak belajar dan menempa diriku dengan berbagai kesempatan di komunitas yang berbeda. Namun tentu saja itu tidak boleh menjadikanku begitu terburu-buru untuk sok idealis tanpa kerealistisan. ‘Jadilah bijaksana dalam segala hal,”

“Ada pepatah yang bilang, bukan untuk sekolah aku belajar, namun untuk hidup, itulah yang kita harus ingat,”

Aku mengangguk mengiyakan sambil menatap dirinya. Dengan gayanya yang bijaksana dan father’s like; aku selalu menganggap dia sebagai ayah sendiri.

“oh ya,Mo, brarti, menjadi awam bukan berarti setengah-setengah dalam menjalani panggilan hidup kan Mo,?”

“tentu tidak, karena pada dasarnya semua panggilan hidup harus dijalankan dengan tantangannya masing-masing. Suami dan istri yang menikah pun memiliki tantangan untuk tetap menjaga cinta satu sama lain dengan perjuangan; seperti halnya di kota0-kota besar yang penuh dengan persoalan perselingkuhan, dan itu juga tantangan hidup,” ujarnya.

Kami  melanjutkan obrolan kami dengan banyak hal siang itu.

“Kamu harus ingat untuk tetap menjadi rendah hati,” Itulah pesan sahabatku siang itu.

Dan aku tahu itu butuh waktu dan perjuangan.

Hati dan pikiranku sepertinya semakin terbuka dan kembali bersemangat.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang; orang tuaku pun menghubungiku untuk menjemputku pulang, seperti janji mereka padaku malam kemarin.

Aku memutuskan untuk pulang selepas berpamitan dengan sahabatku.

Dan aku pulang dengan langkah yang lebih mantap siang itu.

Paling tidak, sekarang aku yakin bahwa aku tidaklah terlambat dan setengah-setengah; dan menantikan saatnya yang tepat nanti sambil membiarkan diriku ditempa.

Terima kasih Tuhan, Kau menjawab kegelisahanku lewatnya.

Terima kasih untuk oase yang kau berikan bagiku yang haus akan kasihMu.

Terima kasih Romo Yu, untuk wejanganmu yang begitu berarti.

Dirimu pernah mengajarkan dalam kuliah bahwa sahabat yang sejati selalu menerbitkan kelegaan di kala beratnya beban kita; meski sering kali kita malah melupakan sahabat kita sendiri; seperti yang diperkenalkan lewat pribadiNya. Bahwa dirimu juga mengajarkan bagiku untuk menaruh perhatian dalam setiap perjumpaan akan pribadi yang berbeda, dan kau selalu berusaha menaruh perhatian untuk setiap kami teman-teman mahasiswa.

Aku menyadari sekarang, bahwa kau berhasil memperkenalkan dirimu menjadi seorang sahabat bagi setiap kami kaum muda yang perlu pendampingan. Bagiku kau adalah sahabat sejatiku. Terima kasih ya Mo, buat cintamu untuk kami.

19 Oktober 2009,

mengiringi refleksi untuk menyadari kenaifan diri, dan perjuangan untuk terus rendah hati.

Advertisements