Tags

, , , , ,

A-Ha!

perangai iya, tapi aku ga mirip dia kan?

Hari ini, aku punya sesuatu yang kurasa sayang apabila tidak kutuliskan. Sayang untuk siapa? Paling tidak, ini adalah catatan dari apa yang kudapatkan—moment A –Ha! yang kusuka dan ingin kubagikan disini. Bersyukur jika ada yang membacanya, dan mendapatkan sesuatu yang baik di sini. Aku mendengarkan perasaanku dan menuruti intuisiku untuk menuliskannya.

Beberapa hari ini saya merasa begitu gamang, cemas, akan banyak hal, tanpa tahu apa yang terjadi. Hm, kukira, ini berasal dari kecemasan tak beralasan ku terhadap tanggung jawab ku di depan mata. Kurasa itu normal, namun kok, seperti ga selesai-selesai ya?

Adikku memanggilku squidward—tau dong, temannya spongebob yang digambarkan selalu memiliki perasaan, pikiran, dan tingkah laku super negatif se antero Bikini Bottom. Tapi itu bukanlah A-Ha Moment yang kudapatkan; namun cukup ampuh untuk selalu menyentilku: “hei, kamu itu terlampau negative thinking dan sedang dalam kondisi emosi yang buruk! (dan ini sangatlah wajar namun semuanya pasti berlalu—seperti badai yang juga pasti berlalu)

Intinya, sekarang aku memahami bahwa aku sedang berada dalam kondisi hati yang buruk. Paling tidak, aku pertama menyadarinya, dan mau berdamai dengan dia. A-Ha! I got one. Aku harus berdamai dengan suasana hatiku. Berdamai dengan suasana hati membutuhkan clear statement dan pengakuan terbuka terhadap keadaan diri. Aku baru saja memperoleh poin ini (lebih tepatnya diingatkan,) setelah membaca buku bestseller Dr. Richard Carlson “Don’t Sweat the Small Stuff”—sebuah buku lama yang mencerahkanku di titik ini.

so, sekarang, aku berupaya membuka hati dan pikiranku tentang apa sih yang kualami sesungguhnya; pikiran apa yang mempengaruhi suasana hatiku. A-Ha, I got two. Pikiran  (jelas) mempengaruhi suasana hati.

Aku sekarang akan  membuat list akan apa yang menjadi kecemasan, dan apa yang menjadi ketakutan ku, dan pertanyaan yang paling penting, mengidentifikasi apakah asumsi dan semua ketakutan ku ini menjadi hal yang sungguh-sungguh menakutkan ( James Manktelow-Worklife:Managing Stress,Essensi Publishers p. 94-95)

– Kamu sudah tahu apa yang mesti kamu lakukan tapi kamu menunda-nundanya. Kebanyakan waktumu hanya untuk merenungkan ketidakpastian di depan, bukan membuat langkah kecil yang kamu sebenarnya sudah tahu akan membuat kamu lebih maju.

-kamu tahu bahwa manfaat yoga dan teknik yoga dasar pun sudah kamu ketahui. All you need just spending more time to be loyal with yourself, dan kamu (hanya) terlalu malas untuk mulai.

-kamu tahu bahwa doa dan penyerahan di pagi hari kepadaNya adalah hal positif yang kamu musti perjuangkan, kerinduan itu haruslah ada, namun kamu seolah tak punya control terhadap dirimu; melupakan saat hening di pagi hari, tidur larut—bangun kesiangan dalam keadaan yang kurang fit—memulai segalanya dengan malas dan suasana hati buruk—hingga lupa akan waktu hening dan doa itu. Parahnya, ini akan berlanjut bahwa kita menjadi lupa akan setiap berkat yang kita terima, dan menjadi lemah karena setiap hari yang kita pikirkan hanyalah tugas dan tugas. Lupa bersyukur dan berdiam diri adalah boomerang bagi ku pribadi untuk menjadi mantap menghadapi masalah. A-Ha! Tetap ingat selalu untuk selalu focus dengan apa yang kita miliki, syukuri semua itu dan kita jadi lebih siap dan punya keyakinan diri untuk menghadapi hidup ke depan.

Aku punya banyak hal untuk kusyukuri, adik perempuan yang juga jadi sahabat kentalku, mama yang suka marah dan emosian namun begitu care dan menjadi pengingat bagiku untuk belajar menerima kekurangan dan berdamai dengan diri; papa ku yang dulunya jadi musuh besar dan kini jadi pengingatku untuk belajar mencintai—adalah anugerah terindah yang membuatku lebih kuat menghadapi segala sesuatu. Ah, aku jadi lupa punya masalah, dan bingung kenapa masalah yang sedang kuhadapi ini jadi mengganggu tidurku, membuatku tak focus saat berada bersama mereka yang kusayangi; dan menjadikan masalahku ini sepertinya begitu berdampak besar karena membicarakannya ke sahabat! Bahkan di saat aku menuliskan jurnal ku ini, aku tertawa menyadari bahwa memang terkadang suasana hatiku dan pikiranku yang tidak sinkron membuatku berlebihan.

-kamu tahu bahwa fast food itu tidaklah baik meski sangatlah enak(!) tapi malah terbujuk—kamu makan banyak saat suasana hati buruk, yang menyebabkan keadaan semakin buruk karena akhirnya makan terlalu banyak. A-HA! I got the number three. Kebiasaan menunda-nunda dan daya menolak terhadap hal-hal seperti rasa enggan dan malas yang lemah membuatku terjebak dalam kondisi suasana hati yang buruk. Hei, get your grip back,hun!

– banyak kejadian—jika aku kembali melihat kebelakang—dimana apa yang ku-stress-kan jelas berhasil kulewati dan aku baik-baik saja: bahkan punya hasil yang oke! Don’t sweat on the Small Stuff, atau bahasa gaulnya mungkin disini, “jangan lebay, plis!” karena kita akan baik-baik saja!

Got it. Kita akan baik-baik saja, apapun yang terjadi. (Richard Carlson, Don’t Sweat the Small Stuff, p.50) paling tidak, aku meyakini nya secara pribadi saat ini. Dai yang sudah-sudah, aku memang belajar untuk mengadapi semuanya satu-persatu, berhenti untuk menjadi terlalu perfeksionis; namun mengusahakan dengan sebaik mungkin. That’s it.

Right:)

Good news for me, karena selain mantap menghadapi masalah ini; aku semakin mantap ke depannya. Aku mantap akan pilihan hidupku. Lihat! bahkan dari masalah ini pun aku punya sesuatu yang positif yang kudapatkan. Aku lebih mantap, semuanya baik-baik saja! Terima kasih Tuhan untuk hari dimana aku melangkah menuju salah satu rak buku secara random, menemukan buku-buku ini, memutuskan membelinya, dan mendapat sesuatu yang pas untuk membantuku menghadapi problem saat ini. A-Ha! Dan amin : )

Depok , 25 Januari 2010 – A-Ha moment memang begitu menyenangkan,  : )

Illustration  was taken from Google images.

Advertisements