Teringat akan obrolan santaiku dengan adik perempuanku di ruang tamu rumah sore itu. “Mel, aku percaya kalo kamu soulmateku,” terangku padanya sambil tersenyum.”soulmate ga musti pacar kan, bahkan anjing pun bisa jadi soulmate seseorang kan Mel,?” kataku mencari pembenarannya.

“Meski cici dulu sering iri sama kamu, sering nyubitin kamu, sekarang aku berasa kalo kamu lebih dari sekedar sahabat bagiku,” “Aku tuh ga semanget tau ga, kalo satu hari ga cerita dan denger kabarmu, ” aku pun tersenyum, begitu pula dengan dia yang menjawab singkat, “ya, mungkin”.

Ya begitulah. aku merasa dulu aku sering sekali berantem dengan adik perempuanku satu-satunya. Ya entah rebutan boneka, entah dia yang ngerusak hidung Bobby boneka monyetku lebih dulu, atau  aku yang mencubit pahanya sampai ia menangis hanya karena gemas dan sebal. Itu masa lalu. Saat ini kami berdua seringkali menghabiskan waktu dengan kompaknya. Aku senang sekali punya sahabat sekaligus adik perempuan yang begitu kusayangi sepertinya. Kami menceritakan tentang semua hal yang kami alami setiap hari, mengingat kami sibuk masing-masing dengan kuliah.  Hampir dalam semua hal kami sehati, terutama soal lagu yang sedang kita gumamkan bersama yang selalu sama juga apa yang ada dipikiran kita saat itu. suara kami pun terdengar sama di telepon menurut teman dan saudara; meski aku lebih cempreng dan dia lebih berat kata mamaku yang pastinya lebih pakar karena memiliki kami berdua.

hm. soulmate. Aku mencoba mencarinya secara instan lewat situs Wikipedia. Dari sana aku mengetahui bahwa konsep soulmate merupakan sebuah mitologi kuno yang dinyatakan oleh Aristophanes, bahwa dikatakan manusia sebenarnya memiliki empat kaki, empat tangan, dan satu buah kepala yang memiliki dua wajah. Zeus, dewa Yunani yang setara dengan Tuhan takut akan kekuatan yang mereka miliki dan membagi mereka menjadi dua–yang menjadikan mereka menghabiskan sisa hidup untuk mencari separuhnya lagi untuk melengkapi diri mereka.

[Primeval man] could walk upright as men now do, backwards or forwards as he pleased, and he could also roll over and over at a great pace, turning on his four hands and four feet, eight in all, like tumblers going over and over with their legs in the air; this was when he wanted to run fast …Terrible was their might and strength, and the thoughts of their hearts were great, and they made an attack upon the gods … Doubt reigned in the celestial councils. Should they kill them and annihilate the race with thunderbolts, as they had done the giants, then there would be an end of the sacrifices and worship which men offered to them; but, on the other hand, the gods could not suffer their insolence to be unrestrained. At last, after a good deal of reflection, Zeus discovered a way. He said: ‘I have a plan which will humble their pride and improve their manners; men shall continue to exist, but I will cut them in two and then they will be diminished in strength and increased in numbers; this will have the advantage of making them more profitable to us. They shall walk upright on two legs, and if they continue insolent and will not be quiet, I will split them again and they shall hop about on a single leg.’

—Aristophanes, Plato’s Symposium.

Menurutku,  mitos Yunani seperti ini bukanlah soal romantisme hubungan pria dan wanita dan upaya kita dalam menemukan si ‘belahan jiwa’ saja–namun juga mengandung pesan bahwa Zeus sebagai sang Pencipta menginginkan bahwa manusia menjadi rendah hati,  dan berjuang untuk berperilaku lebih baik karena kelemahan mereka dengan apa yang mereka miliki  setelah mereka dibelah dan memiliki dua tangan dan kaki seperti sekarang.

Soulmate, mama-papaku, dan cocok satu sama lain?

Aku pun teringat akan anggapan banyak orang yang sungguh-sungguh percaya akan ungkapan  “finding your soulmate” dalam mencari pasangan hidup. “everybody has their soulmate, meski di belahan dunia lain” katanya.

ditambah sekarang tumbuhnya anggapan bahwa perceraian suami istri itu karena keduanya tidaklah memiliki  kecocokan lagi satu dengan yang lain.

hm.

aku pribadi punya perhatian besar dengan perkawinan kedua orang tuaku, dimana seringkali mereka bertengkar dan tersulut oleh perbedaan cara mereka menyampaikan ketidaksukaan, emosi–yang membuat hal kecil jadi hal besar dan berujung pada luka.   aku saat ini memahami pernikahan  idealnya sebagai perjuangan bersama bagi kedua belah pihak untuk sama-sama mengerti dan menerima kelemahan masing-masing pasangan, dan belajar untuk berdialog dan menghargai. tentu ‘hukum’ ini berlaku untuk  semua hubungan interpersonal manusia. mungkin mama dan papaku bukanlah soulmate untuk masing-masing, (*lepas dari aku pun yang percaya ga percaya akan mitos ini) tapi kurasa  dalam setiap pernikahan, yang paling penting adalah bukan lagi bagaimana mencari kecocokan diantara satusama lain, namun bagaimana menyadari kelemahan diri, bukan adu kekuatan lagi, tapi tetap ngeliat bahwa sekarang mereka sudah disatukan dan ini sangat indah.

“finding my soulmate” menurutku merupakan harapan baik setiap kita untuk bertemu dengan seseorang, namun bukan berarti melupakan perjuangan yang  baik juga untuk semua hubungan yang sudah ada. kedua orang tuaku sampai sekarang masih sering bertengkar. sampai saat ini, aku dan adikku saling memberi pemahaman dan menguatkan satu sama lain. kami mencoba memahaminya sebagai ketidakmampuan mereka untuk melepas ego dan sakit hati mereka, juga ketidakmampuan mereka untuk mengubahnya menjadi mencoba mencintai dan memahami satu sama lain tanpa menunggu-nunggu siapa yang harus meminta maaf lebih dulu, atau siapa yang benar, dan siapa yang salah.

hampir setiap hari aku merasa bahwa begitu sulit berjuang membagikan kesadaran dan pengertian yang kualami  ini pada mereka, apalagi perasaan canggung dan takutku, melihat akupun berstatus anak mereka, masak ngajarin mama papanya?

mungkin dengan soulmate ku, aku bisa melakukannya dengan lebih baik. 🙂

di sudut ruang tamuku,

8 Juni 2010.

foto merupakan dokumen keluarga kami.

Advertisements