Saya memiliki kebiasaan meminum jamu komplit kemasan yang  diturunkan dari ibu saya. saya kadang meminumnya ketika saya ga enak badan, dan merasa sudah tidak mempan lagi minum yang sirup atau tablet tolak angin. Kadang saya geli sendiri dengan kebiasaan ini, seperti orang tua saja, kata ayah dan adik saya. Saya geli karena sepertinya saya juga merasa demikian. Agak lebay deh.

Entah mengapa, terakhir saya meminumnya, saya tidak lagi melihat kebiasaan minum jamu sebagai suatu hal wajib dan biasa. saya benar-benar ingin muntah jika tak ditolong oleh rasa mint nya, jika yang ada hanya rasa pahit dan ngeres yang kutelan.

Saya tiba-tiba memutuskan untuk tidak lagi meminum jamu seduh sebagai hal yang wajib. Emang iya kan? Atau mungkin kalau eneg ku sudah tidak kumat saya bisa minum lagi kalau mulai ga enak badan. Biasanya akan disertai dengan kerokan.

Banyak pria yang katanya dewasa amat gemar datang ke kedai jamu pinggir jalan untuk minum jamu komplit kuku bima, biar lebih ‘jreng’ katanya. Ada yang pilih jamu kunyit asam biar cantik. pilihan minum jamu lebih sering dikaitkan dengan minuman masyarakat ekonomi menengah kebawah. Tapi jangan salah, karena sekarang pilihan minum jamu jadi pelengkap setelah pengunjung spa-spa kecantikan menikmati treatmentnya. Ndak tau deh, soal rasanya, mungkin sudah jadi strawberry atau cokelat agar tidak lagi eneg. Emang ada ya?

Jamu tolak angin, terlepas dari pilihan kita yang bebas untuk terus atau berhenti meminumnya, ataupun  karena saya sempat manut waktu saya diminta mencobanya karena itu berkhasiat bagi tubuh yang sakit karena sedang masuk angin, ini tiba-tiba yang menjadi . Yuk umpamakan sekarang pilihan jamu tolak angin itu seperti memilih menjalani suatu kehidupan di dunia. Ada yang bilang, hidup kita itu adalah pilihan bebas. Ada yang bilang, hidup sudah ditakdirkan. Yang jelas, isi dari kehidupan itu sendiri, tentu berbeda-beda satu dengan yang lain. Namun pasti ada dua tema besar. Pahit-manis. Sedih-bahagia. Susah-senang.

Saya mengandaikan menjalani kehidupan ala si  jamu komplit, dan saya berandai lagi bahwa Anda kebanyakan juga pernah meminumnya, dan tahu terdiri dari apa saja kemasan jamu yang dinamakan komplit. Satu, bagian utama, bubuk jamu seduh yang jika diminum rasanya getir dan ngeres. Bagian dua, yang porsinya kecil-kecil, ada sachet madu, dan  sachet kencur;dimana nanti akan dicampurkan dengan bagian utama tadi. Dan yang terakhir, bagian ketiga, bubuk jahe seduh untuk jadi penawar  rasa pahit, dan pil gingseng untuk menjaga stamina tubuh. Komplit memang.

Ketika kembali disamakan lagi dengan bagian dari kehidupan, mungkin bubuk jamu getir dan ngeres itulah yang jadi bagian utama kehidupan.  yang porsinya paling banyak.  Tidak bermaksud sok disini, toh saya bukanlah filsuf kehidupan dan orang tua yang telah memakan banyak asam garam hidup karena toh saya masih terlalu dini untuk berkata bijaksana. Tapi sisi negatif, rasa getir dari hidup akan selalu ada karena manusia diperlengkapi kekuatan untuk menantikan yang lebih baik dan berjuang untuk mencapai rasa yang manis di depan sana. Jadi, anggaplah semua manusia tengah menikmati bagian jamu yang sama, yaitu jamu yang utama dulu, yang pahit dan ngeres, agak eneg, yang meski dicampur madu dan beras kencur tetap ga nolong pahitnya. Tapi tetap yang ini diminum di awal. Kita memilihnya urutannya demikian. Karena kita sudah memilih jamu ini supaya kita sehat kemudian, tidak masuk angin lagi, kita memilih untuk meminumnya. Take the life!

Saya ingat terakhir kali saya meminum jamu pahit komplit itu. Dua minggu lalu. Belum lama, sehingga saya masih bisa bilang, saya masih bisa merasakan eneg nya meminumnya. Saya menahan nafas, mencoba menguatkan diri saya sendiri untuk sanggup meminum sang obat itu. Di tangan saya yang satunya lagi sudah memegang air jahe hangat, sebagai penawarnya. Ini yang namanya harapan. Saya pastikan harapan baik saya, penawar kepahitan jamu yang saya pegang ditangan yang satunya lagi, bisa hilang setelah saya menenggak jahe hangat itu. Ya, segelas jahe hangat yang selalu jadi favorit saya dalam bungkus itu. Saya bisa saja membeli jahe yang lain, yang tidak ada bagian pahitnya. Toh jahe itu juga penolak angin bukan? Tapi itu tidak membuat saya merasa ada tantangan, ada passion untuk melewati bagian yang sulit , untuk kemudian merasa berhak mendapatkan yang lebih manis dan hangat. Dalam iman yang  selalu ada pengharapan akan sesuatu yang lebih baik. Itulah mengapa dalam hati kita diberikan pengetahuan dan harapan yang baik oleh Sang Khalik untuk mengharapkan dan menciptakan sesuatu yang baik dalam hidup. Untuk tidak hanya berhenti pada menerima untuk  meminum yang getir saja, yang porsinya lebih banyak dan kayaknya ga habis-habis—tapi juga tahu mengapa kita musti meminum yang pahit dulu. Karena itu bagian utamanya, supaya kita sehat. Supaya kita tahu bahwa sehat perlu perjuangan.

Tahu bahwa kita musti ambil alih hidup kita, karena percaya kita diberi jamu kehidupan yang komplit.  That’s the Good Hope.

Yaa, ini mungkin akan dipatahkan oleh orang-orang yang tidak suka jamu. Toh ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkan masuk angin. Bahkan penyakit masuk angin itupun bukanlah sungguh-sungguh penyakit; yang namanya bahkan lucu, dan mungkin sebentar lagi akan terganti, ketika Cinta Laura akan menyebutnya sebagai a little bit cough, atau  sedikit demam, gembreges kata ayahku. Tapi tetap, saya senang dan kagum saja sama si jamu komplit kemasan ini. Harapan orang-orang yang percaya pada khasiatnya, mungkin termasuk saya, mungkin tidak, membuat dia masih beredar dipasaran, dan tetap jadi sahabat terutama untuk masyarakat kecil, untuk supir-supir truk Pantura, untuk ibu-ibu yang keluar malam untuk mengantarkan sayur ke Pasar Induk dan merasa ga enak badan. Untuk ibu dan saya, yang jelas kami tidak bekerja sekeras mereka, namun menikmati saja ketika kamipun sedang ga enak badan.  Dan bagi saya pribadi, jamu komplit adalah seperti saat kita diberi tahu oleh orang tua, ini untukmu, ini bagus untukmu. Minum. Jalani. Ada sisi pahit, tapi pastikan kamu punya harapan yang baik untuk mengejar yang hangat dan manis. Selalu ada dua sisi ini. mungkin ada yang mengatakan, yaa, tinggal pilih jamu yang lain dong. Hehe, I just talk about the parable about life, I mean, especially from my sight. Yang jelas, kita tetap hidup, ini karena kita memiliki dan adalah harapan yang baik. Kita hanya perlu mengingatnya, bahwa akan selalu ada jahe hangat, maksud saya, bagian yang manis dan hangat setelah kegetiran hadir. Kita juga bisa memilih, mau jadi jahe yang hangat buat orang lain, yang selalu tersenyum ceria; atau mau jadi jamu yang ga komplit karena nekuk wajah.  Karena Sang Produsen  jamu tahu dimana batasan orang bisa meminumnya, bahkan punya garansi orang bisa lebih sehat setelah minum ini selama puluhan tahun lamanya industri jamu itu berdiri.  Karena hidup adalah anugrah Tuhan yang komplit, ya toh?

28 Juli 2010.

Untuk saya, ibu,  ayah dan Samuel Mulia, inspirasi utama saya untuk menulis ini.

The picture was taken from Google images.

Advertisements