aku tidak pernah paham mengapa aku selalu terjaga sampai larut malam, untuk membaca, sambil bergulingan di tempat tidurku.

sebentar kemudian terduduk, terus membaca.

lalu kadang berakhir membuka komputerku, kemudian menulis seperti yang kulakukan saat ini; dalam posisi menelungkup yang membuatku sedikit pegal.

aku tahu pasti bahwa aku sampai nanti akan terus mencintai kegiatan ini.

bukan guling-gulingan di kasur, bukan bukan, tapi membaca juga sih. yang kumaksud disini menulis.

aku kadang susah bilang  “stop dong, ntar malem ya, saat semua sudah sepi,” pada bagian otakku yang  sudah ‘ngeres’ dengan segala hal; dan ingin memuntahkannya dalam tulisan; tanpa liat waktu. asal ketemu si ide, bukan Bu de, dia kembali ngeres. lucunya, kalau mamaku menyuruhku menyapu lantai rumah yang ngeres tiap sore, aku mengatur sedemikian rupa pikiranku untuk mau disapu di malam hari. kadang sang mata, yang sarafnya juga ada di otakku–sama dengan tempat si ngeresan berada, maunya aku merem saja. tapi aku kadang mengalah, memohon maaf pada sang mata yang mulai memerah.

kadang aku dikalahkan oleh badanku yang sudah mulai sakit-sakit. aku kan, bukan wartawan yang berperang dengan deadline, atau penulis novel yang tengah pusing saat naskahnya diedit banyak. tapi toh aku semangat, dan ga peduli dengan status. mau nulis aja kok, liat status?

biarpun begitu, kadang disisi lain bagian otakku yang bijaksana mengajakku lebih banyak mempertimbangkan kesehatan lever ku dan juga tubuhku. ‘hayo, kalo kamu sakit, emang tulisanmu bisa nyembuhin gitu?”

iya juga ya, pikirku. wong aku juga bukan wartawan, atau novelis yang dibayar. aku masih numpang sama mama papaku, dan masih sering dimarahin karena tidur malem-malem. Aku cuma penulis amatiran yang boleh narsis di blog, punya secuplik mimpi pengen jadi Raditya Dika atau Julie Powels yang bisa bikin buku dan film dari blog mereka. tuh kan, kok malah mikir status lagi? ga konsisten deh.

sekarang dalam otakku sedang berperang, dan karena aku orangnya asertif, bagian otakku pun berupaya mencari jalan tengah yang win-win solution gitu deh. mereka sempat berpikir, apa aku bisa menulis dengan tangan, tapi mataku terpejam tidur, lagi punggungku juga sudah mulai pegel.

dan bagian otakku yang satu lagi, yang maha bijaksana bilang,“cepat tidur! jangan kebanyakan mikir!”

musti lebih disiplin nih.

🙂

di kamar biruku,

31 Juli 2010

Advertisements