Tags

Hari ini aku membiarkan diriku duduk di kursi paling belakang, karena teman-teman yang biasa kukenal belum hadir. Aku melihat sosok Oma yang biasa dikenal oleh teman-teman yang lain begitu penuh semangat, melihat keterbatasan gerak yang ia alami karena harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Sosoknya kecil dan rapuh. Ia bercerita disampingku hari ini tentang betapa baiknya Tuhan karena ketiga anaknya, yang kini sudah berkeluarga dan tinggal jauh darinya—dapat ia besarkan sendirian tanpa pendampingnya yang lebih memilih menikah lagi. Ia bercerita tentang kegiatan dan semangatnya melayani para penderita kusta di Sitanala hingga tua umurnya, betapa Tuhan lah yang ia layani seumur hidupnya. Berkali-kali saat teman-teman yang mulai berdatangan menyapa dan memberikannya tangan untuk dijabat, ia menolak untuk bersalaman, tanpa kutahu mengapa. Ia tidak menyombongkan diri, ia selalu merendah dengan mengatakan dirinya jelek, tua katanya. Aku tak pernah merasakan memiliki ataupun berjumpa langsung dengan oma yang begitu semangat bercerita, dan di sisa hidupnya, begitu semangat mengikuti kegiatan gereja sepertinya.

Apakah ia sudah pulang sekarang? Suara hatiku berteriak karena langkahku yang begitu salah.

Salah seorang teman yang selalu mengantarkannnya pulang kerumah dengan mobilnya pulang lebih dahulu hari ini. ia mungkin lupa soal oma, mungkin ada masalah mendadak di rumah. Sang oma takut pulang sendiri, padahal katanya, temannya itulah yang suka bilang, agar sang oma tak usah ragu datang, karena nanti dia akan mengantarnya pulang.

Ia bilang padaku, dan aku menatap matany yang penuh kerut. “Oma takut,yang” ia sepertinya kerap memanggil  semua orang dengan sebutan sayang. Ia bisa jalan sendiri menuju tangga waktu acara itu sudah selesai. Kemarin aku sempat membantunya, tidak memapahnya,namun mencoba berjalan lebih di depannya menuruni anak tangga, jika terjadi sesuatu yang buruk, aku berharap aku bisa mencegatnya di depan. Kali  ini suara di hatiku bilang, jika aku tak bisa mengantarnya, karena aku juga dijemput dengan notor, biarlah aku mencarikannya tumpangan. Tapi, suara itu tiba-tiba menghilang. Egois muncul, namun ia tampil elegan. ia tertutupi pernyataan yang lebih halus,

pasti oma bisa mendapatkan pengantar dari salah satu teman-teman yang ada di belakang sana.

Pasti ada kok.

Aku, menuju papaku yang sudah menungguku, pulang, dengan perasaan yang memarahiku yang bertindak setengah-setengah.

Aku percaya Tuhan memakai teman yang lain untuk menolong sang oma disana. But I missed that chance. Bukan membantu karena hanya kewajiban membantu yang tua, tapi suara dari dalam hatiku bagai berteriak. I just missed that chance. suara di hatiku terus menggedor aku, suaranya halus namun tegas. Iman, tanpa perbuatan, adalah mati.

Tuhan, ampunilah aku, padahal Kau pernah berjanji bahwa setiap orang yang mempunyai (semangat untuk berbuat), kepadanya akan diberi (kesempatan). tapi aku masih setengah-setengah.

Tuhan, ampunilah aku.

Apakah  oma sudah pulang?

Advertisements