galau

mencari-cari dalam kotak hati

mutiara yang seharusnya memancar terang

terlalu lama mencarinya di luar

berharap masih memiliki kesempatan yang baik

menemukannya sebelum senja menjelang

berharap senantiasa dapat memberi yang baik

bagi yang lain

 

seperti anak burung ingin segera lepas sarang

berharap orang tuanya tak lagi khawatir dan bersedih

iapun belajar ingin mempercayai dirinya lebih

menikmati luasnya hidup di angkasa luas tanpa takut

karena Sang Pencipta melindungi

 

20 desember 2010.

 

 

Advertisements

Sampai Detik Ini, Segalanya Begitu Kusyukuri :)

Satu hari dalam empat setengah tahun

Sehari sebelumnya perasaanku begitu aneh. Tiba-tiba rasanya ingin menangis. Dasar mellow. Perutku rasanya kembung dan mulas. Tapi ada satu keyakinan di hati. Semuanya akan berjalan baik sebab aku mempercayakannya pada Tuhan. Dan aku tahu apa yang bisa dan harus kulakukan, bagaimanapun ini proses akhir dan aku harus maju.  Segalanya berjalan begitu cepat. Dan hari itu datang. Hanya satu jam.  Aku sudah bisa meramalkan apa yang penguji bahas tentang skripsiku. Apa kelemahannya, mengapa justifikasinya lemah, pembahasan yang belum total—hmm..sudahlah. kurasa, aku sedang tidak mood untuk menuliskan ini. ya, cukup kusimpan di kotak pikiranku yang terdepan—agar aku masih bisa me-recall nya dengan cepat selepas ini. karena, lepas dari ujian kemarin; aku masih punya ‘hutang’ dengan penguji ku, yang harus segera dibereskan.

Hanya satu jam lawan keseluruhan empat setengah tahun lamanya aku menjalani dunia kuliah; menjalani status menjadi mahasiswa program S1. Hanya satu jam itu, aku mengakhiri semua. Sebenarnya, aku mau memandangnya sebagai proses akhir dimana aku mempersiapkan diri memasuki hal-hal di depan sana yang pastinya lebih indah yang ingin kujalani kedepan. Ya, apalah artinya di’sidang’ itu dibandingkan dengan proses belajarku selama empat tahun lebih—and most of all, the real challenge that I really being grateful to through it, have it, or pass it.

Empat tahun dalam sudut satu hariku

Masa-masa kuliah kuawali dengan bersyukur sekaligus dengan banyak kebingungan dan tanya. Memasuki dunia perkuliahan, yang buatku  sekaligus tinggal jauh dari ‘sarang’ tempat ku tumbuh selama ini. memasuki miniatur masyarakat yang plural di dunia universitas. Kurasa aku akan selalu mengingat bahwa aku, waktu itu sempat memohon dan berjanji pada Tuhan untuk membantu orang seperti tanteku, kakak perempuan dari papa, yang tak pernah memeriksakan kondisi kesehatannya—dan akhirnya meninggal dunia karena menderita tumor otak akibat pendarahan dan pembengkakan dalam yang ia alami ketika jatuh beberapa tahun belakangan di bagian kepala.

Ya, itulah yang aku doakan dengan sungguh-sungguh pada Tuhan. Aku meminta agar aku bisa diberikan jalan sederhana untuk masa depanku. Dan aku ingin berpegang pada sesuatu yang jelas.  Kurasa ini sesuatu yang akan selalu terjadi pada setiap orang muda. Ada teman-teman yang memiliki kesempatan untuk meneruskan kuliah di luar negeri, memiliki cita-cita yang cerah ke depan—ada yang ingin berjuang masuk ke universitas favorit; ada yang langsung bekerja dan menikah. Masa-masa dimana aku berpikir, tak semuanya berjalan baik seperti ini. Karena hidup tak jauh dari dinding kenyamanan, cita dan harapan kita—pemuda dan anak-anak jalanan yang tak seberuntung ini hidupnya. Saat dimana aku sungguh bertanya—dan saat ini terus bertanya, seperti inikah harusnya terjadi?

Masa-masa dimana aku bersyukur memiliki banyak teman di komunitas seiman, masa-masa iman ku bertumbuh dan terus bertumbuh. Masa-masa pencarian jati diriku : apakah aku harus terus berhenti di persimpangan ini? persimpangan dimana aku melihat, banyak anak muda yang diukur tingkat eksistensi dirinya dari seberapa branded clothesnya, jam tangannya, wedges nya, jodhpurnya, atau BB nya.  Dimana aku sering bertanya dalam hati,  dan merasa mungkin harus menjalani hal yang sama. Persimpangan dan kebingungan yang kurasakan, apakah aku harus mengikuti semua kegiatan dan kesibukan aktivis kampus untuk sungguh mengisi Curriculum Vitae ku untuk dibawa ke perusahaan tempat aku bekerja di masa depan—namun aku tak pernah belajar menjadi diriku sendiri dengan pilihan dan konsekuensi? Apakah aku harus menjadi seorang yang terus memiliki banyak pertimbangan, namun kadang kulihat sebagai peragu dalam banyak hal? Pertimbangan dimana aku belum merasa mengenal siapa aku, dimana aku harusnya berdiri, dan apa harusnya sikapku. Kebingungan yang kualami : apakah ini diriku sendiri? Pertimbangan yang kualami ketika aku harus kembali ke ‘sarang’ tempat ku dibesarkan; yaitu keluarga, yang banyak memiliki nilai-nilai yang kadang menurutku kaku dan konservatif–yang kadang kupertentangkan? Sumbangsih yang pernah diajarkan padaku oleh orang-orang yang kukagumi—dapat membuat hidup menjadi lebih berarti. Sumbangsih yang membuat hidupku yang diciptakan begitu indah dan penuh cinta, menjadi lebih indah seharusnya. Empat tahun untuk belajar; setelah kujalani, aku mensyukuri hal-hal ‘ekstra’ yang kualami diluar studiku. Sesuatu rasa yang selalu akan kembali menggembirakan kita–profit yang mungkin tak akan pernah bisa dinilai dengan uang.

MencintaiNya lebih

Semakin lama aku berada dan belajar banyak hal, kukira aku banyak memiliki pandangan yang berbeda tentang apa yang menjadi kecintaanku sebenarnya meski belum jelas—dan apa yang kujalani selama ini. Namun semua kebingungan ku akan pencarian diriku sendiri di antaranya—selalu dibalut oleh rasa sukacita yang begitu indah.  Kadang aku tak sadar bahwa aku telah diubah oleh Dia yang kucintai. Diubah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Aku kini kadang merasa—dan aku rasa perasaan ini semakin mantap,  bahwa inilah, dan memang inilah aku, dan inilah yang membentuk aku. Semua orang yang kukenal, menjadi teman, semua hal yang kujalani, kulepaskan, kudapatkan; semua masalah yang kualami, yang akhirnya menjadi tawa, atau menjadi peluh dan tangis;  itulah yang membentukku. Aku tidak pernah membandingkan diriku dan apa yang kualami dengan orang lain karena memang inilah aku. Dibalik semuanya, aku masih menyimpan banyak mimpi dan harapan baik ku untuk di masa depanku.

Bersiap untuk berlari

Beberapa teman sudah memikirkan lima tahun yang akan datang, harus mencapai sesuatu dalam hidupnya. Bahkan, dalam wawancara kerja kemarin, aku juga ditanyakan hal yang sama. Aku tak pernah mengatakan hal itu salah, justru aku mengagumi teman-teman yang telah siap merancang masa depan dan pencapaiannya. Namun, aku memilih, untuk mengencangkan tali sepatu lariku dulu—Sesuatu yang harus kulakukan dengan menunduk, berfokus, memegang kedua tali yang menggantung di sepatuku, mengencangkannya dengan benar agar tak lepas sehingga kujatuh, dan bersiap kembali lari. Ya, tentunya, faktor lain, selain tali sepatu, pasti bisa membuatku jatuh. Tapi satu hal yang aku tahu, meski jatuh, kita bisa bangun kembali. Aku sudah tiba—hampir tiba di garis akhir. Ya, teman-temanku bilang, ini baru awal babak baru. masa pencarian kerja katanya. Ada yang bilang, menjadi fresh graduate berarti juga menambah angka pengangguran. Mudah-mudahan tidak tentunya. Mudah-mudahan api yang sempat meredup hilang bisa kembali lagi menyala, di setiap sudut gelap; menyemangati yang pernah surut. Semoga.

Tak tahu besok akan seperti apa, tapi kuharap, aku tetap bisa mendengar SuaraNya yang bening dan indah dalam hatiku, dan terus mengikutinya. Amin.

 

di sudut kamarku, 17 Desember 2010.

 

the  illustration was taken from Google images 🙂

 

countdown : 14 days before my final exam :)

apa yang kulakukan di hari pertama ini, yang adalah H-14 ku untuk ujian skripsi?

rehearsal atau simulasi sidang?

belum siap.

sembari ngeberesin smuanya, aku mem flash back apa yang jadi hambatan besar, dan apa yang kusesalkan tak kulakukan dengan serius selama beberapa bulan terakhir.

1.  kalau Tria the Changcuters bilang wanita racun dunia; situs jejaring sosial dan email jadi racun duniaku deh ( kayaknya yang harus disebut racun ya diri sendiri beserta tangan iseng ku deh untuk nge klak-nge klik) pas lagi bosen di depan layar komputer)

andai saya bisa lebih mengendalikan diri, mendengar suara hatil dan memulainya dengan taat pada perkara yang kecil, hal-hal sederhana seperti tegaskan waktu untuk lebih fokus ketimbang buka tutup nih link, pasti smuanya bakal lebih lancar. but first think first, nggak guna kayaknya untuk menyesal; so, keep movin wisely!

2. KEMANA AJA KAMU PAS KELAS STATISTIK??

“belajar lah untuk selalu sadar akan apa yang kamu jalani saat ini; fokuslah apa yang kamu miliki saat ini, sambil merancang masa depan, yang akan datang, jangan hanya ikut arus.” pernah denger, wise words ini kan? no comment lagi deh, saya juga seringkali dengerin. tapi ternyata, buat saya wise word yang paling tepat adalah pengalaman adalah guru yang terbaik. buat saya yang sudah di tahun terakhir, seharusnya statistik sudah ada sungguh2 di dalam otak, but, the truth is, bener2 hafal di luar kepala =’) Pak Sutanto yang dulu baiknya minta ampun ngasih nilai A, dan ternyata saya lupain ilmunya setelah sekian lama ga buka2 modul =) alhasil, di bulan2 terakhir ini sukses ketar ketir dan jadi sempet hilang arah, :abis ini mau diapain lagi yak?

3. BELAJAR MEMBUKA DIRI, BELAJAR HAL-HAL Yang (kesannya) Kecil (baca : disepelein) tapi ternyata BELUM BISA =)

apakah Anda sudah pernah me mail-merge dokumen? atau menggunakan odd page, even, and continous page sebagai fasilitas baru dari Word 2007 ? jika pernah, jangan tertawakan ya. akhirnya saya belajar dua hal baru itu beberapa bulan terakhir. dan ya, jika diliat di gambar atas, saya sedang menggunakan fasilitas Word Help! siang ini saya bergulat dengan fasilitas page break; dan saya hampir stress dibuatnya =)
ini bukannya menceritakan akan pentingnya tutorial, tapi bagaimana saya seringkali sombong saya bisa melakukannya tanpa bantuan (HELP)! saya sungguh bahagia punya banyak sahabat, keluarga yang mendukung, mendoakan, dan sungguh-sungguh mendengarkan, menyediakan telinga bagi keluh kesah saya selama mengerjakan skripsi ini =) ini berkat Tuhan buatku, for me it’s a real (L)ord Help =) love you guys, and i owe you much love and care.

4. PENYAKIT LAMA : MAU MENGERJAKAN BANYAK, tapi SERING GA FOKUS

adanya komputer dan perkembangan teknologi terus menerus seharusnya membuat manusia bisa lebih nyaman dalam membuat segala sesuatu menjadi baik adanya. saya sungguh bersyukur bisa jadi bagian dari generasi yang bisa melek teknologi macam ini. tapi soal wise menggunakannya sebaik (seoptimal) mungkin untuk berbuat (lebih) bagi yang lain? kurasa belum.
Bisa membuka banyak hal dalam satu waktu, bukan hanya di browser internet; tapi juga window-window dari document yang kita buka 🙂 itu sangat memudahkan kita untuk men copy, memindahkan, re-write, dan segalanya tanpa perlu repot. ga kebayang harus membuat copy an dokumen dengan mesin tik biasa beratus-ratus lembar laporan TA seperti ini tahun 80’an kayak si papa.
Ada satu kecenderungan justru saking heboh nya buka tab, kita jadi bingung dan malah ga fokus untuk ngerjain satu demi satu! orang sekarang akrab dengan multitasking. tapi itu juga berarti manajemen waktu yang tepat agar semuanya selesai pada prioritasnya, dengan efektif dan juga efisien. hal ini bisa dicapai seiring juga dengan kemudahan teknologi itu tadi. yaa, inilah yang sering kita (baca : saya dulu deh..) lupakan.

hm. i think that’s enough for today. selain sudah setengah mengantuk , saya pikir saya kembali tidak fokus dengan menuliskan semua ini sekarang. kembali tidak wise ketika masih ada pembahasan hasil yang perlu dirapikan. hm hm.

have a good night, dear all!