Satu hari dalam empat setengah tahun

Sehari sebelumnya perasaanku begitu aneh. Tiba-tiba rasanya ingin menangis. Dasar mellow. Perutku rasanya kembung dan mulas. Tapi ada satu keyakinan di hati. Semuanya akan berjalan baik sebab aku mempercayakannya pada Tuhan. Dan aku tahu apa yang bisa dan harus kulakukan, bagaimanapun ini proses akhir dan aku harus maju.  Segalanya berjalan begitu cepat. Dan hari itu datang. Hanya satu jam.  Aku sudah bisa meramalkan apa yang penguji bahas tentang skripsiku. Apa kelemahannya, mengapa justifikasinya lemah, pembahasan yang belum total—hmm..sudahlah. kurasa, aku sedang tidak mood untuk menuliskan ini. ya, cukup kusimpan di kotak pikiranku yang terdepan—agar aku masih bisa me-recall nya dengan cepat selepas ini. karena, lepas dari ujian kemarin; aku masih punya ‘hutang’ dengan penguji ku, yang harus segera dibereskan.

Hanya satu jam lawan keseluruhan empat setengah tahun lamanya aku menjalani dunia kuliah; menjalani status menjadi mahasiswa program S1. Hanya satu jam itu, aku mengakhiri semua. Sebenarnya, aku mau memandangnya sebagai proses akhir dimana aku mempersiapkan diri memasuki hal-hal di depan sana yang pastinya lebih indah yang ingin kujalani kedepan. Ya, apalah artinya di’sidang’ itu dibandingkan dengan proses belajarku selama empat tahun lebih—and most of all, the real challenge that I really being grateful to through it, have it, or pass it.

Empat tahun dalam sudut satu hariku

Masa-masa kuliah kuawali dengan bersyukur sekaligus dengan banyak kebingungan dan tanya. Memasuki dunia perkuliahan, yang buatku  sekaligus tinggal jauh dari ‘sarang’ tempat ku tumbuh selama ini. memasuki miniatur masyarakat yang plural di dunia universitas. Kurasa aku akan selalu mengingat bahwa aku, waktu itu sempat memohon dan berjanji pada Tuhan untuk membantu orang seperti tanteku, kakak perempuan dari papa, yang tak pernah memeriksakan kondisi kesehatannya—dan akhirnya meninggal dunia karena menderita tumor otak akibat pendarahan dan pembengkakan dalam yang ia alami ketika jatuh beberapa tahun belakangan di bagian kepala.

Ya, itulah yang aku doakan dengan sungguh-sungguh pada Tuhan. Aku meminta agar aku bisa diberikan jalan sederhana untuk masa depanku. Dan aku ingin berpegang pada sesuatu yang jelas.  Kurasa ini sesuatu yang akan selalu terjadi pada setiap orang muda. Ada teman-teman yang memiliki kesempatan untuk meneruskan kuliah di luar negeri, memiliki cita-cita yang cerah ke depan—ada yang ingin berjuang masuk ke universitas favorit; ada yang langsung bekerja dan menikah. Masa-masa dimana aku berpikir, tak semuanya berjalan baik seperti ini. Karena hidup tak jauh dari dinding kenyamanan, cita dan harapan kita—pemuda dan anak-anak jalanan yang tak seberuntung ini hidupnya. Saat dimana aku sungguh bertanya—dan saat ini terus bertanya, seperti inikah harusnya terjadi?

Masa-masa dimana aku bersyukur memiliki banyak teman di komunitas seiman, masa-masa iman ku bertumbuh dan terus bertumbuh. Masa-masa pencarian jati diriku : apakah aku harus terus berhenti di persimpangan ini? persimpangan dimana aku melihat, banyak anak muda yang diukur tingkat eksistensi dirinya dari seberapa branded clothesnya, jam tangannya, wedges nya, jodhpurnya, atau BB nya.  Dimana aku sering bertanya dalam hati,  dan merasa mungkin harus menjalani hal yang sama. Persimpangan dan kebingungan yang kurasakan, apakah aku harus mengikuti semua kegiatan dan kesibukan aktivis kampus untuk sungguh mengisi Curriculum Vitae ku untuk dibawa ke perusahaan tempat aku bekerja di masa depan—namun aku tak pernah belajar menjadi diriku sendiri dengan pilihan dan konsekuensi? Apakah aku harus menjadi seorang yang terus memiliki banyak pertimbangan, namun kadang kulihat sebagai peragu dalam banyak hal? Pertimbangan dimana aku belum merasa mengenal siapa aku, dimana aku harusnya berdiri, dan apa harusnya sikapku. Kebingungan yang kualami : apakah ini diriku sendiri? Pertimbangan yang kualami ketika aku harus kembali ke ‘sarang’ tempat ku dibesarkan; yaitu keluarga, yang banyak memiliki nilai-nilai yang kadang menurutku kaku dan konservatif–yang kadang kupertentangkan? Sumbangsih yang pernah diajarkan padaku oleh orang-orang yang kukagumi—dapat membuat hidup menjadi lebih berarti. Sumbangsih yang membuat hidupku yang diciptakan begitu indah dan penuh cinta, menjadi lebih indah seharusnya. Empat tahun untuk belajar; setelah kujalani, aku mensyukuri hal-hal ‘ekstra’ yang kualami diluar studiku. Sesuatu rasa yang selalu akan kembali menggembirakan kita–profit yang mungkin tak akan pernah bisa dinilai dengan uang.

MencintaiNya lebih

Semakin lama aku berada dan belajar banyak hal, kukira aku banyak memiliki pandangan yang berbeda tentang apa yang menjadi kecintaanku sebenarnya meski belum jelas—dan apa yang kujalani selama ini. Namun semua kebingungan ku akan pencarian diriku sendiri di antaranya—selalu dibalut oleh rasa sukacita yang begitu indah.  Kadang aku tak sadar bahwa aku telah diubah oleh Dia yang kucintai. Diubah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Aku kini kadang merasa—dan aku rasa perasaan ini semakin mantap,  bahwa inilah, dan memang inilah aku, dan inilah yang membentuk aku. Semua orang yang kukenal, menjadi teman, semua hal yang kujalani, kulepaskan, kudapatkan; semua masalah yang kualami, yang akhirnya menjadi tawa, atau menjadi peluh dan tangis;  itulah yang membentukku. Aku tidak pernah membandingkan diriku dan apa yang kualami dengan orang lain karena memang inilah aku. Dibalik semuanya, aku masih menyimpan banyak mimpi dan harapan baik ku untuk di masa depanku.

Bersiap untuk berlari

Beberapa teman sudah memikirkan lima tahun yang akan datang, harus mencapai sesuatu dalam hidupnya. Bahkan, dalam wawancara kerja kemarin, aku juga ditanyakan hal yang sama. Aku tak pernah mengatakan hal itu salah, justru aku mengagumi teman-teman yang telah siap merancang masa depan dan pencapaiannya. Namun, aku memilih, untuk mengencangkan tali sepatu lariku dulu—Sesuatu yang harus kulakukan dengan menunduk, berfokus, memegang kedua tali yang menggantung di sepatuku, mengencangkannya dengan benar agar tak lepas sehingga kujatuh, dan bersiap kembali lari. Ya, tentunya, faktor lain, selain tali sepatu, pasti bisa membuatku jatuh. Tapi satu hal yang aku tahu, meski jatuh, kita bisa bangun kembali. Aku sudah tiba—hampir tiba di garis akhir. Ya, teman-temanku bilang, ini baru awal babak baru. masa pencarian kerja katanya. Ada yang bilang, menjadi fresh graduate berarti juga menambah angka pengangguran. Mudah-mudahan tidak tentunya. Mudah-mudahan api yang sempat meredup hilang bisa kembali lagi menyala, di setiap sudut gelap; menyemangati yang pernah surut. Semoga.

Tak tahu besok akan seperti apa, tapi kuharap, aku tetap bisa mendengar SuaraNya yang bening dan indah dalam hatiku, dan terus mengikutinya. Amin.

 

di sudut kamarku, 17 Desember 2010.

 

the  illustration was taken from Google images 🙂

 

Advertisements