I will never leave you, You said.

My Lord God, I have no idea where I am going,

I do not see the road ahead of me.
I cannot know for certain where it will end.

Nor do I really know myself,
and the fact that I think I am following your will
does not mean that I am actually doing so.

But I believe that the desire to please you does in fact please you.
And I hope I have that desire in all that I am doing.

I hope that I will never do anything apart from that desire.
And I know that if I do this you will lead me by the right road,
though I may know nothing about it.

I will not fear, for you are ever with me,
and you will never leave me to face my perils alone.

 

by Paulo Coelho.

it’s lovely to share to you; since i started to pray like this way of surendering to Him =)

(Luke 1:38)

http://www.paulocoelhoblog.com

 

this beautiful image was taken from flicker : http://bit.ly/fbHPM5

Advertisements

# Cinta itu selalu mendengarkan

Keeping the dialogue alive

Rabbi Iaakov’s wife was always looking for an excuse to argue with her husband. Iaakov never reacted to her provocations.
Until one night when, during a dinner with some friends, the rabbi had a ferocious argument with his wife to the surprise of all at the table.
“What happened?” they asked. “Why did you break your habit of never answering?”

“Because I realized that what bothered my wife the most was the fact that I remained silent. Acting in this way, I remained far from her emotions. My reaction was an act of love: now she understands that I hear her words.”

Paulo Coelho’s Blog, 10 SEC Read :  Dialogue

Aku belajar sesuatu dari papaku. Saat mengahadapi mamaku yang marah, ia hanya diam saja. kadang aku bingung, kok bisa ya, ia tahan seperti itu, kok bisa ia ga melawan. sisi positif yang bisa kuambil adalah, berdiam diri itu (Dalam pengertian dan porsi yang tepat) adalah emas. Berdiam disini lebih digambarkan sebagai wujud kesabaran (meski katanya, kesabaran orang itu ada batasnya). Berdiam disini kurasa bukan berarti acuh, namun bagian dari upaya bagaimana kita mencoba mengerti (memahami) apa yang sedang terjadi. Bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar; namun menyadari kesalahan dari diri, sulutan kemarahan, pribadi partner yang sedang emosional itu; dan sadar bahwa sebenarnya marah ini adalah bentuk emosi yang wajar, bisa dikendalikan.

Seperti kisah yang diungkapkan Coelho diatas, papaku juga pernah akhirnya ikut marah dan tersulut emosinya. inilah yang juga aku pelajari, bahwa manusia tidaklah pernah sempurna. Dan pertengkaran itu semakin menjadi. Aku pernah menjadi bagian dari hal itu juga. Aku membiarkan diriku ikut marah dan menyangkal. Tapi ikut-ikutan marah atau terlibat dalam pertengkaran tidak pernah menyelesaikan masalah. Ketika membiarkan diri kita tersulut marah, kita tak pernah bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. kita terus menumpukkan ‘bara’ di hati dan kepala kita masing-masing.

Namun kita juga bisa belajar. Ada masanya aku mencoba mengingat diri, dan melatih diriku untuk mengendalikan egoku. Di saat itulah, aku merasakan damai di hati yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku berusaha mengingat think out of the box; yang biasa digunakan oleh orang-orang dalam proses kreatif. aku merasa ini juga bagian dari proses kreatif kita sebagai manusia, dimana kita diberi kemampuan oleh Sang Pencipta untuk dapat seolah me-freeze-kan waktu dan emosi sesaat kita saat terlibat dalam suatu hal sulit. Berusaha melihat secara lebih makro dan keseluruhan, bahwa kemarahan, emosi negatif, juga memahami setiap porsi kesalahan yang diriku-dirinya-kita bersama buat dalam masalah ini. Menyadari diri kita sepenuhnya, dan belajar membuat  solusi yang tepat  dalam setiap masalah.

Di saat itulah, aku sadar, hanya berpasrah  ke Tuhan, Yang Maha Pengasih dan Penyabar, kita bisa menghadapinya. Aku pribadi merasa diingatkan, bahwa Sang Kuasa memiliki kesabaran dan kasih yang luar biasa bagiku dan bagimu, atas segala tingkah laku kita, yang seringkali buruk. Dan masing-masing dari kita diharapkan belajar, untuk tidak membalas segala sesuatu yang buruk dengan hal buruk juga, namun dengan kasihNya, yang selalu menjadi kontroversi–“aku disakiti, kok diminta mengasihi?”  namun juga selalu menjadi jawaban akhir dari kebesaranNya dalam hidup kita.

Saat aku berdiam diri ketika berkonfrontasi dengan orang yang marah atau menunjukkan emosi negatifnya kepadaku, aku sedemikian rupa bisa memahami porsi kesalahanku, baik versiku, maupun versinya. memahami pikirannya terhadap tingkah lakuku yang menyulutnya untuk marah.

Seketika itupula aku jauh lebih kuat dan damai, meski di luar badai masih mengamuk. Masalah masih tetap ada, namun  hati dan kepala tetap dingin untuk melihat segalanya lebih jelas. Dan aku selalu mencoba mengajaknya berbicara, setelah aku meyakini diriku sudahlah mendingin dan kuat, juga ‘badai’ dalam dirinya mulai mereda. Peace is not the absence of the war, but how you deal with it. Wise people ever said that, and i believe it. Meski masih jatuh bangun, pengalaman dealing with hard people,  buatku, menjadi pengalaman dealing with myself dalam mengolah emosi diri dan mengendalikan diri sendiri–yang begitu berharga buatku. Aku belajar mendengarkan segala kritik, mengenal tipe emosi dan belajar menghadapinya,  belajar menempatkan diriku dari sisi orang lain; dan banyak hal indah lainnya yang membuatku berpikir : tidak ada yang salah dengan setiap hal yang kukira tadinya masalah.

Aku terberkati dari setiap suka dan duka hidupku, dari setiap masalah dan pencapaian dalam hidupku, apapun itu.

The most important thing is, aku semakin tahu bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap masalah yang kita hadapi, dan membantu kita berjalan melaluinya; dengan cara yang begitu indah.

 

# Cinta itu selalu mendengarkan.

on the living room, 12.14 pm.

this image is taken from Paulo Coelho’s Blog. check his another  beautiful pieces on http://www.paulocoelhoblog.com

 

Rindu

aku rindu menyelami hatiku seperti dahulu.

ah, mungkin aku terlalu banyak melompati ruang di luar sana.

kukira tempatku ini dan itu, ya, ini dan itu yang ada di sana.

ternyata

aku rindu berdiam di perbatasan itu

tempatku bisa menjadi diri sendiri.

aku berharap, semakin aku merindukannya

akupun semakin ditarik ke sana.

ya, ke tempat aku bisa menyelami dalam hatiku.

semua sudah disana, tempat aku sejenak lebih lama

bersamaNya.

 

22.15 malam. dan aku masih ingin menulis kembali.