Aku menemukan artikel ini dari website kesukaanku, Psychology Today. terima kasih karena teman lamaku dari sebuah komunitas penulis telah banyak memberikan link-link dari website ini juga; juga blog nya yang inspiratif.

tulisan di artikel ini membuatku mendorong diriku sendiri, untuk sejenak menekan tombol ‘pause’ dari rutinitas yang aku jalani dari hari ke hari. aku mencoba menyediakan waktu untukku sendiri untuk kembali mengenal diriku sendiri, hal-hal apa yang kurasakan dapat kutingkatkan (i think it’s better to called this is a blessing so we can continue shaping our life with uniqueness, make a better life to share, and helping people with this things) so, aku mencoba membagikannya untuk kamu disini.

Mistakes Introverts Make

We are all so very wonderful and yet–I’m sorry, but it must be said–we are not perfect. This blog has focused mostly on staking out turf in our culture for introverts, but now it’s time to consider some things related to our introversion that might be interfering with our relationships and accomplishments. Many or most of us have probably made some of these mistakes at one time or another. I certainly have.

Isolating: Sure, some people need more social interaction than others, but we all need some. Too much isolation is not healthy. I know it’s time to leave the house when I start feeling gloomy in my solitude, or like I’m getting weird. Weird is subjective, but when going to the supermarket feels like a major excursion, when I start worrying that I may have lost the ability to converse, when I get furious at  -strangers in my online social networks, I know it’s time to for face time. I call a friend, do lunch, attend a party…anything to get my social gears cranking again. It needn’t be anything deep and meaningful. Just a little something to reconnect me.

 

Not returning phone calls: Yes, we hate the phone, and it’s OK to ask that people respect and honor this. But that doesn’t give us carte blanche to ignore phone calls. When someone you care about calls–even if you let it go to voicemail to deal with later–you really should respond at some point. If necessary, drop an e-mail and schedule the call. Otherwise, pick up the phone and dial. You can do it.

OK, if someone obstinately refuses any other form of communication and insists on frequent time-sucking phone calls, then you get some leeway to make your point. Otherwiseku, be nice. (I learned this lesson after hurting the feelings of a very dear friend.)

Plunging into the deep end: As much as we prefer deep conversation, plunging straight into your worldview over the onion dip at a party can be off-putting to others. Start shallow and ease into the deep if the conversation continues. If you’re looking for friends, remember that insta-friendships are rare, and rushing the conversation isn’t a shortcut. Friendships build incrementally, and they start with small talk.

Letting your mouth run away with you: Ah, the dreaded babble. It happens. Lots of us chatter when we’re nervous. Shy introverts might be prone to this. It’s like running down a hill; once you get started, it’s hard to slow down. But it also might happen when the subject is something you are particularly passionate about. Either you get caught up in your own enthusiasm, or you burrow deep into your own knowledge and forget to check audience reaction.

If you suddenly realize you’ve careened into a long monologue, take a breath and look around. Do people appear rapt? Then continue. Do they look slightly pained? My favorite line at that point is, “But don’t get me started….” Cue laughter, everything’s fine.

Confusing introversion and fear: We all must do things we don’t like. That’s life. But if you find that you can’t bring yourself to do certain things-return a phone call, attend a gathering, join a conversation-then what you’re feeling may be fear, not introversion. Fear is a useful emotion, of course, with deep evolutionary roots. But if it interferes with your life and you find yourself regretting things not done, maybe it’s time to rummage around in your psyche (one of our favorite activities!) to figure out what you’re scared of and how to change that.

Judging: Some introverts insist that parties are pointless, chit-chat is a waste of time, and extroverts are shallow. I neither share nor endorse those opinions. Parties can be joyous, and community ritual has been important throughout history. Chit-chat connects us and greases the gears of society. And while I’m sure some extroverts are shallow, as I’m sure some introverts are (thinking deeply about yourself only does not make you a deep person), a blanket dismissal of extroverts is bigoted and, well, shallow.

Just ’cause I don’t like something doesn’t mean it’s bad.

******
Ya, di akhir hari, aku sadari bahwa aku cenderung lebih suka kegiatan menyendiri. aku suka melakukan semua kegiatan tanpa kehadiran orang-orang lain. menulis, membaca buku, membuat refleksi. kadang aku menolak mengangkat telepon atau menjawab sms dari teman-temanku. tapi aku tahu, bahwa ini tidaklah baik juga.
tentunya, kebutuhan diriku juga untuk hadir di tengah orang-orang yang kucintai, keluarga, juga kekasihku, kini kurasakan juga menjadikan diriku lebih bermakna. aku melihat dari sisi berbeda, bahwa kebutuhan ku untuk menyendiri mungkin bisa dilihat bagi orang-orang terdekat disekitar ku malah menjadi kesombongan. duh, dasarnya introvert dan feeling, perasaan nda enakkan yang aku miliki pun kadang-kadang dikatakan adikku sebagai sesuatu yang berlebihan. yang jelas, aku harus lebih take control  terhadap alokasi waktuku, dan tidak melihat keterbatasan yang ada bagiku untuk bergerak maju.
Beberapa bulan belakangan; aku rindu akan komunikasi yang berkualitas diantara mama, papa, dan adik perempuanku di rumah. sepertinya, kami berempat tidaklah lagi memiliki waktu yang banyak untuk menceritakan isi hati kami sebenarnya satu sama lain. kami berempat menjalani rutinitas yang terpola sama setiap hari–dan kembali di malam hari dalam keadaan yang cukup lelah. Diriku pribadi baru saja menjalani bulan awalku untuk bekerja. suasana di tempat kerjaku sedang sibuk-sibuknya–aku bekerja di sebuah kantor proyek rumah sakit yang akan running beberapa minggu lagi.
Terkadang atau seringkali, rasa lelah yang kami bawa masing-masing menyebabkan emosi negatif yang membuat antar individu sering terlibat perselisihan. aku yakin ini jamak sekali terjadi di dalam keluarga yang masing-masing memiliki kesibukan di luar.
Satu hal yang tak terlupa adalah; aku begitu  bersyukur , bahwa saat ini,  aku diberikan Tuhan seorang kekasih yang begitu menyayangiku, dan mendukungku selalu dalam menghadapi hal ini. ada satu hari dimana, aku ditekan oleh banyak emosi negatif. masalah di rumah membuatku begitu letih, dan di kantor, di hari yang sama, akupun mengalami cukup banyak kegiatan yang membuatku lelah secara psikis dan fisik. Kekasihku, yang saat itu di luar kota, tidaklah tahu bahwa aku tengah menghadapi semuanya itu, dan aku pribadi merasa, bahwa dia tak perlu tahu agar tidak menmbah kekhawatirannya. namun aku sungguh bersyukur, di tengah kalutnya hatiku, dia selalu menjadi pendengar yang baik. dia yang harusnya mungkin juga bete karena di hari itu aku tak banyak merespon pesannya, dan tidak begitu memberikan perhatian, tak disangka malah hadir untuk memberikan waktu dan menenangkanku.
akupun dapat berpikir lebih tenang, dan merasa bahwa aku tak mungkin menelan semua yang pahit sendirian. aku yang lelah secara fisik, mungkin jadi lebih cepat lelah juga secara psikis. Diapun terus menyemangatiku untuk menjadi lebih semangat dan lebih berinisiatif. setelah aku juga menyediakan waktuku untuk sendiri, dan mengingat bahwa betapa aku melupakan waktuku untuk berdoa dan mendekatkan diriku padaNya; membuatku sadar; bahwa aku terlalu mengandalkan diri sendiri.
Ya, aku harus optimis dan semangat, antusias seperti dulu.
Setiap hari, aku harus memiliki tekad dan semangat untuk menjadi solusi, lebih mengendalikan diriku sendiri, bersikap asertif, namun tetap  tahu akan batasan kemampuan diri.
aku menuliskan doa ini sebagai ungkapan syukurku.
Oh Tuhan, aku bersyukur untuk hari yang baru ini.
aku sadar bahwa aku tengah Kau bentuk lewat setiap persoalan dalam hidup;
dan aku merindukan saat-saat aku bisa memaknai setiap langkahku,
merefleksikan semuanya, dan menemukan langkah baru.
aku bersyukur buat setiap keterbatasan diriku,
yang membuatku bisa selalu mengingat akan kebesaranMu dalam hidupku.
aku mohon berkatMu, untuk setiap orang yang aku cintai,
agar cinta dan kasihMu tetap berada di tengah-tengah kami,
Kasih yang selalu membuat kami hidup.
kami tahu, masalah tidak akan pernah berhenti.
namun kami juga tahu pasti, Tuhan tak pernah meninggalkan kami sendirian.
good night, dear reader!
22 April 2011, di ruang tamuku.
Advertisements