Tags

, , , , ,

Image

Sudah lama tidak menulis lagi. Saya merasa dunia saya berjalan begitu cepat. setiap hari sepertinya berpacu dengan waktu : ) duh, sepertinya sok sibuk sekali ya? tapi itu yang saya rasakan. rasanya sampai tidak memiliki waktu untuk merefleksikan diri sendiri, dan apa yang terjadi dalam diri saya pribadi. Seorang teman dan mentor saya dulu (duh, sudah lama tidak bersua dengannya)  mengenalkan saya pada sebuah metode refleksi diri sebagai karunia dari Tuhan untuk mampu bercermin terhadap diri kita sendiri, tentang apa yang terjadi, dan bagaimana ini bisa jadi pelajaran dan satu tali yang mengeratkan kita kembali pada Sang Pencipta yang Maha Kasih.

Di sabtu siang yang mendung saat ini, sambil berusaha menyetrum kembali kabel hidup saya yang dulu dengan saat ini  (kadang saya merasa, hidup saya  yang dulu, mimpi-mimpi saya yang tertulis di dalam pikiran dan hati sedikit banyak nyempil di sudut sana dan tidak sempat lagi terjamah saking padatnya waktu ngantor). saya senang bisa punya waktu yang melimpah untuk menyempatkan diri saya menulis jurnal kembali.

Pikiran saya sering melanglangbuana saat mengalami kejenuhan dengan rutinitas sehari-hari. salah satunya, tentang passion. Saya bekerja di satu instansi yang menekankan pelayanan (service) ke orang lain. bekerja di bagian management nya, saya memang nda begitu terlibat langsung dengan kegiatan utama dari instansi ini. but we serve the human who run for these services. ya, setahun pertama bekerja, saya diberi kesempatan belajar menjadi HRD staff di perusahaan tersebut. saya sambil berpikir, tujuan awal saya mau bekerja disana, karena saya merasa saya punya passion untuk memberikan service untuk orang lain; memiliki kreativitas dan semangat yang sangat cocok untuk instansi yang baru bertumbuh ini. dalam perjalanannya, memang banyak sekali hal yang kupelajari disana. dari bagaimana kita beirnteraksi dengan banyak orang yang berbeda latar belakang, watak, usia, kebiasaan, dan perangainya–hingga ilmu administratif, hukum, hingga keuangan. sifat dan kebiasaanku banyak kutemukan ternyata bentrok dengan dinamika di perusahaan tersebut.sedihnya, kadang saya menemukan, bahwa ini bukan kecintaan saya. mengapa sedih? karena di perusahaan yang mengutamakan pelayanan dan kasih pun, saya sampai saat ini belum merasa menjadi bagian dalam perusahaan ini. passion tidak tumbuh dalam hati ini. Ada sebuah quote yang begitu menarik dari artikel yang saya baca : “Nothing seems like work if we want to do it”.  Hm, faktanya, selama ini saya merasa di push untuk menjalani berbagai tugas kantor. Saya menyadari bahwa saya perlu mengembangkan diri saya lebih banyak tenatang kemampuan praktis dan ilmiah untuk mengerjakan tugas-tugas kantor saya yang sekarang.

Saat ini saya mengambil sisi positif dari pengalaman ini : saya sadar bahwa saya perlu untuk mengetahui dan benar-benar menghidupi passion dalam hidup saya. Saya yakin, bila dimulai dari kecintaan terhadap bidang yang sungguh saya sukai, tentu tidak akan sulit bagi saya untuk berkembang jauh lebih pesat.

Saya sadar sepenuhnya, sifat saya cukup keras untuk mau membuka diri terhadap kritik dan belajar lebih banyak.

ternyata, yang selama ini saya baca, bahwa ada orang yang memang punya sifat keras dan sulit berubah, kecuali berangkat dari dirinya sendiri… ada di dekat saya, ya saya sendiri : )

Luar biasa ya, saya seperti baru menemukan diriku sendiri yang berbeda akhir-akhir ini. ya, mungkin ini adalah proses percepatan belajar. Bos saya, yang cukup concern dengan perkembanganku yang dari fresh graduate dan pontang panting di percepatan pembangunan perusahaan tempatku bekerja agar jadi lebih baik dari hari ke hari, mengatakan perlu sekali diriku dibanting dan dipukul dulu agar bisa jadi lebih baik. saya nyengir, dan mengangguk karena memang saya merasa harus demikian. wah, dikritik orang memang rasanya luar biasa ya!  seringkali saya marah bahkan saat dikritik, rasanya tidak nyaman, seperti ditelanjangi! saya mengatakan hal itu kepada kekasih saya, yang juga menjadi sahabat saya dan begitu tahu saya. seringkali ia bersabar (kadang jadinya ikut marah dan membuat hubungan kami menjadi tidak nyaman) dalam  menghadapi saya yang keras kepalanya minta ampun. ternyata, apa yang saya kira saya tidak suka selama ini : orang yang emosional, mengumpat, berpikiran negatif, juga ada di dalam diri saya. cukup membuat saya sedih dan tertampar.  saya belajar, bahwa tidaklah berguna merasa diri kita sudah oke tanpa adanya kerendahan hati untuk menerima kekurangan diri dan menerima bahwa orang lain bisa tahu diri kita lebih baik dari kita sendiri. terima kasih karena kekasih saya yang setia telah membantu saya hingga saat ini untuk berubah jadi lebih baik.

Saya sangat tersemangati ketika saya membaca kembali artikel dari Rene, ada sebuah quote “How can you really be positive if you don’t even acknowledge negativity?” ada hal yang bisa saya syukuri selalu dalam hidup saya. tentu kita semua bisa merasakannya. Terima kasih Tuhan, saya diberi kesempatan untuk terus merefleksikan diri, menerima kekurangan yang ada, dan mau bangun kembali.

Ada hal yang saya pelajari : jangan melabeli diri kita sendiri sudah cukup belajar, sudah menjadi terbaik, tanpa tahu peta kemampuan diri, passion, dan tujuan hidup kita lalu menutup diri untuk adanya kesempatan belajar, apapun itu.  saya punya satu mimpi yang saya sendiri ragu dan nda punya commitment untuk memulai. saya terus memarahi dri saya sendiri : mau sampai kapan,heh? tentu tidak seperti ada preman yang nagih hutang, namun cukup keras untuk membuat saya mau bangun dari tidur dan being a so-so. Pertanyaan tentang “apa passion saya sesungguhnya?” dan what is the purpose of your life? ini begitu membuat saya merasa sangat menghargai waktu hidup saya. Having goals is NOT the same as having a clear purpose of life, demikian quote di artikel penulis yang saya suka, Rene Suhardono. membahagiakan dan mencintai keluarga seringkali dinyatakan sebagai tujuan hidup. Sangat tersentil saya saat membaca bahwa membahagiakan keluarga itu sebenarnya adalah standar minimum yang bisa dijalankan, dan bagaimana kita memiliki kepedulian yang lebih luas di hati kita untuk memperjuangkan segala sesuatu yang bernilai. apa yang membuat saya tersentil? karena saya merasa untuk standar minimum ini saja, saya belum menjalankannya dengan baik.

Berhenti menyalahkan orang lain tentang apa yang terjadi pada diri kita sampai saat ini. syukuri yang ada, beri tempat dan maaf bagi diri sendiri. saya tengah memulai kembali perjalanan saya dengan Tuhan. ini awal yang baru. saya mau menghargai waktu yang diberikanNya dengan lebih baik. saya merasa saya mau mulai dari nol untuk perubahan ini. kadang merasa seperti robot dalam menjalankan keseharian, dan saya tahu, ini tidak baik. saya harus memberi hati untuk menjalani segalanya.

Saya pernah tergabung dengan satu kelompok penulis Katolik yang beberapa anggotanya saya rasa punya passion besar terhadap bidang penulisan dan jurnalistik. ada yang concern terhadap bidang psikologi dan pendidikan,  ada yang concern terhadap masyarakat dan politik, tergabung dalam kelompok LSM pemerhati tayangan televisi; ada yang menjadi budayawan, wartawan–satu kata buat mereka wow! whenever there’s passion, there is awesome performance. sungguh, masing-masing diberi Tuhan talenta yang begitu mereka kembangkan. Salah satu teman dan senior dari kelompok itu kini telah berpulang kepadaNya, karena kecelakaan Sukhoi di Bogor beberapa waktu lalu. turut berdoa bagi kedamaian dirinya disisi Tuhan saat ini. Saya yakin, (meski tidak pernah mengenal langsung dirinya karena saat pelatihan kami tidak pernah ngobrol bersama) di titik ia memberikan dirinya kembali ke Sang Pencipta, dirinya telah menemukan jalan hidup dan kecintaannya pada bidang jurnalistik dan penulisan. God really loves you, may you rest in peace,dear.  http://bit.ly/JjZK41 , http://bit.ly/MFUA5G .

Saya bahagia pernah mencicipi bergabung bersama mereka walau hanya satu minggu pelatihan, itu juga titik poin bagi saya untuk mulai mencari kembali, dimana hati saya sungguh bahagia dan membuncah? dimana area yang perlu saya kembangkan? karena saya tidak tahu, kapan diri saya diminta kembali kepadaNya, dan ketika talenta yang saya miliki belum mampu saya kembangkan, pasti akan sangat menyedihkan bagiku, dan bagiNya. One Day My Soul Just Wake Up, adalah sebuah judul buku diskon yang saya beli di sebuah toko buku di Depok. isinya belum saya baca keseluruhan, namun judul nya cukup eye catching untuk saya ingat; dan ya, this is the day. my soul have to be wake up early, since i’m still alive. 

Advertisements