Do Not Follow Your Passion. Growing it.

Image

Tulisan ini saya temukan beberapa waktu yang lalu; yup, masih dalam upaya pencarian ke dalam diri , “Apa passion ku sesungguhnya?” yang tidak kunjung habis ini. Dalam hal ini, saya menilai diri saya parno, panikan dan concern serta percaya, bahwa kita, dengan mengetahui, mengenal, dan menjalani pekerjaan yang sesuai dengan passion kita, pasti akan dapat meraih kesuksesan. Saya manggut-manggut saat membaca buku dari Bung Rene Suhardono dalam bukunya Your Job is not Your Career, tanda persetujuan saya akan gagasannya tentang “Following Your Passion”.

Namun, saya kira, pandangan dari Cal Newport ini, melengkapi berbagai pendapat mengenai upaya pencarian terhadap Passion.

Follow a Career Passion? Let It Follow You

By CAL NEWPORT

IN the spring of 2004, during my senior year of college, I faced a hard decision about my future career. I had a job offer from Microsoft and an acceptance letter from the computer science doctoral program at the Massachusetts Institute of Technology. I had also just handed in the manuscript for my first nonfiction book, which opened the option of becoming a full-time writer. These are three strikingly different career paths, and I had to choose which one was right for me.

Cal Newport, a computer science professor at Georgetown, says many people lack a “true calling” but have a sense of fulfillment that grows over time.

For many of my peers, this decision would have been fraught with anxiety. Growing up, we were told by guidance counselors, career advice books, the news media and others to “follow our passion.” This advice assumes that we all have a pre-existing passion waiting to be discovered. If we have the courage to discover this calling and to match it to our livelihood, the thinking goes, we’ll end up happy. If we lack this courage, we’ll end up bored and unfulfilled — or, worse, in law school.

To a small group of people, this advice makes sense, because they have a clear passion. Maybe they’ve always wanted to be doctors, writers, musicians and so on, and can’t imagine being anything else.

But this philosophy puts a lot of pressure on the rest of us — and demands long deliberation. If we’re not careful, it tells us, we may end up missing our true calling. And even after we make a choice, we’re still not free from its effects. Every time our work becomes hard, we are pushed toward an existential crisis, centered on what for many is an obnoxiously unanswerable question: “Is this what I’m really meant to be doing?” This constant doubt generates anxiety and chronic job-hopping.

As I considered my options during my senior year of college, I knew all about this Cult of Passion and its demands. But I chose to ignore it. The alternative career philosophy that drove me is based on this simple premise: The traits that lead people to love their work are general and have little to do with a job’s specifics. These traits include a sense of autonomy and the feeling that you’re good at what you do and are having an impact on the world. Decades of research on workplace motivation back this up. (Daniel Pink’s book “Drive” offers a nice summary of this literature.)

These traits can be found in many jobs, but they have to be earned. Building valuable skills is hard and takes time. For someone in a new position, the right question is not, “What is this job offering me?” but, instead, “What am I offering this job?”

RETURNING to my story, I decided after only minimal deliberation to go to M.I.T. True to my alternative career philosophy, I was confident that all three of my career options could be transformed into a source of passion, and this confidence freed me from worry about making a wrong choice. I ended up choosing M.I.T., mainly because of a slight preference for the East Coast, but I would have been equally content heading out to Microsoft’s headquarters near Seattle. Or, with the advance from my first book, I could have hunkered down in a quiet town to write.

During my initial years as a graduate student, I certainly didn’t enjoy an unshakable sense that I had found my true calling. The beginning of doctoral training can be rough. You’re not yet skilled enough to make contributions to the research literature, which can be frustrating. And at a place like M.I.T., you’re surrounded by brilliance, which can make you question whether you belong.

Had I subscribed to the “follow our passion” orthodoxy, I probably would have left during those first years, worried that I didn’t feel love for my work every day. But I knew that my sense of fulfillment would grow over time, as I became better at my job. So I worked hard, and, as my competence grew, so did my engagement.

Today, I’m a computer science professor at Georgetown University, and I love my job. The most important lesson I can draw from my experience is that this love has nothing to do with figuring out at an early age that I was meant to be a professor. There’s nothing special about my choosing this particular path. What mattered is what I did once I made my choice.

To other young people who constantly wonder if the grass might be greener on the other side of the occupational fence, I offer this advice: Passion is not something you follow. It’s something that will follow you as you put in the hard work to become valuable to the world.

Cal Newport is the author of “So Good They Can’t Ignore You.”

So, saya garis bawahi dan highlight Penemuan saya yang teranyar soal apa yang disebut PASSION ini.

Passion is not something you follow. It’s something that will follow you as you put in the hard work to become valuable to the world.

Dengan bekerja keras untuk melakukan sesuatu yang berharga, bahkan bagi Dunia, maka passion itu tumbuh. Dan yup, mulailah saat ini saya mengevaluasi diri saya mengenai hal tersebut.

Image

Bagaimana denganmu, kawan? sudahkah dirimu menumbuhkan passionmu? menemukannya?

 

Selamat beristirahat, semoga Tuhan memberkati semua hal baik yang kita lakukan.

 

Advertisements

Sisi Terang dan Sisi Gelap Diri kita.

Membaca buku Sisi Terang dan Sisi Gelap, membuat saya perlahan belajar menemukan sisi gelap yang ada di diri; yang cenderung ditekan dalam kehidupan sehari-hari. Hari ini, saya mencoba mensarikan beberapa hal penting yang menjadi permenungan saya pribadi.

Belakangan ini saya merasakan kesulitan untuk mengontrol emosi negatif yang muncul dari dalam diri saya yang timbul akibat bereaksi terhadap sikap buruk rekan kerja atau atasan saya di kantor. Bahkan sebenarnya; saya juga melakukan refleksi diri; melihat ke belakang; dan menemukan kenyataan bahwa emosi negatif yang saya pribadi alami bahkan sejak saya kecil dan remaja dulu.

Being a nice person versus becoming Hulk. 

Is there a Hulk inside you?
Menjadi orang baik merupakan harapan yang dibebankan oleh masyarakat, agama, orang tua, guru, bahkan nusa dan bangsa meski kita di kala kecil belum paham benar seberapa luas dan besar tanggung jawab tersebut. Pada jalannya, dalam proses pendewasaan kita,  kadang “harapan mulia” tersebut, suka disalahartikan kita sendiri  (baca : saya pribadi) dengan bersikap nrimo tanpa mau berjuang buat keadilan dan keseimbangan diri kita sendiri. Bersikap baik dan menekan sisi diri kita yang malas, pemberontak, liar, tidak mau diatur, vokal, dan sebagainya, 
Dalam bukunya,  Pater Wolfgang menulis :
“supaya tampilan diri kita sungguh-sungguh mempersonakan, kita menggeser bagian-bagian dan sisi-sisi lain yang tidak sesuai dengan gambaran diri yang bagus itu. Hal-hal yang tergeserkan itu lambat laun menumpuk menjadi sisi gelap.”  p-11.
Beberapa tahun bertumbuh sebagai pribadi yang cenderung nrimo, berupaya untuk selalu mengalah, rupa-rupanya membuat saya seperti seseorang yang memiliki wajah baru, saya menemukan diri saya memiliki jiwa pemberontak dan amarah juga. Mungkin ada diantara teman-teman yang menyadarinya jauh lebih awal ketimbang saya, dan mungkin ada yang belum menemukannya.

Saya baru menyadari bahwa saya juga punya keterbatasan, dan emosi negatif yang sudah menumpuk dalam hati ini akhirnya mendobrak keluar dan BRAK ! sehingga amarah saya keluar tanpa bisa terkontrol lagi. 

Berhadapan dengan diri saya yang marah nampaknya menjadikan diri saya seperti seseorang yang tidak saya kenali.
Bahkan ketika saya belum menyadari  energi negatif yang membuncah dari dalam diri; saya mengeluarkan emosi negatif justru pada orang-orang terdekat. inilah yang membuat hubungan saya dengan orang terdekat justru memburuk. Suami saya bahkan mengandaikannya seperti ini “kamu kalau marah dengan meledak tuh bahaya,  kamu biasanya terlihat tenang, namun kalau kesenggol dikit emosimu, mungkin kamu bisa membunuh orang 1 mall dengan kamu dikasih senapan mungkin”. Dug. Pertama kali saya mendengarnya, saya hampir menyangkal lagi. Ah, saya tidak seperti itu! 
Namun sepertinya ada benarnya. Saya temukan juga setahun belakangan ini saya sering menekan stress saya hingga menjadi migrain dan kemarahan saya kepada suami menjadi muncul untuk hal-hal sepele karena persoalan kantor. Saya menyesali kemarahan saya, telah melukai orang yang justru paling mensupport saya. Namun ternyata menyesal tidaklah cukup jika tidak tahu bahwa seharusnya kita bersahabat dengan si sisi gelap saya itu, yang dikatakan oleh Pater  Wolfgang Bock, SJ  sebagai bagian dalam diri yang  tidak dapat dihilangkan dan dibuang dari diri kita, namun bisa diolah dan diajak turut serta dalam diri kita, diarahkan seperti seorang adik kecil kita, kita tuntun bersama-sama.
 
” Umpan balik jujur dari mereka yang mengenal kita cukup baik, sangat berharga untuk mengenal ciri-ciri khas, bentuk, rupa, tabiat, dan sifat sisi gelap kita; biarpun cara itu mungkin sangat tidak kita sukai. Bisa jadi kita memandang dengan marah serta berkata : “apa maksudmu, aku bukanlah orang semacam itu!” Namun tawaran umpan balik semacam itu membuka peluang untuk mengubah diri dan menjadi semakin peka terhadap proyeksi-proyeksi ke atas diri kita. Maka DIRI kita akan serta merta menolak; sedangkan JATI DIRI kita akan menyahut, ” Kalau demikian, aku mau memperhatikan hal itu. terima kasih.” p- 68.
 
Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati?

Pandangan atau pendekatan ilmu  relasi manusia yang serupa tentunya telah ditemukan oleh para Ahli, Psikolog, dan sebagainya untuk mengungkap emosi manusia, ego, dan dampaknya.
Namun saya suka gagasan yang dibawa oleh Pater Wolfgang Bock, SJ mengenai sisi Gelap dan Sisi Terang manusia. Dalam bukunya, Pater menegaskan pentingnya memiliki “kebugaran emosi” dan tidak memendam rasa atau menjadi agresif terpendam; melainkan belajar proaktif untuk mengolah energi dari sisi gelap kita yang ingin ‘tampil’ juga untuk menjadi lebih asertif, cerdik seperti ular, namun tetap tulus seperti merpati, yang elegan, tenang, tidak terburu nafsu. Tentu dengan menyadari jika kita menjadikan diri kita terlalu sabar misalkan, dengan tidak memberi ruang dan pengertian bahwa kita juga punya rasa amarah, ketidaksukaan, berusaha mengalahkan rasa itu semua; malah akan merugikan kita sendiri.  

Saya kira teman-teman juga pernah merasakannya. Kita di satu sisi berusaha sempurna tanpa cela dan emosi negatif, berusaha “do the best” di sisi itu; namun melupakan sisi atau bagian diri kita yang juga ingin beristirahat, ingin lebih santai (leha-leha) dan punya waktu, ingin hal lain ketimbang formalitas dan terlibat misalnya ke dalam politik kantor yang penuh hal-hal yang kita tidak sukai; atau bahkan sejak masa kecil cenderung ditekan oleh lingkungan sekitar kita, seperti orang tua, guru, misalnya ” heh, jangan males jadi anak! nanti udah gede kamu mau jadi apa!” ” heh, kamu bodoh skali!” “ih, kamu kayak banci!” 

 
 
Proyeksi sisi gelap dalam keluarga amat sering terjadi. Misalnya, orang tua melempar sisi gelapnya ke atas anak-anaknya karena mereka ibarat kambing hitam yang selalu tersedia dan tidak mampu membela diri.  Bahkan kita dapat menyimpulkan sejumlah watak dan sifat orang tua dari tingkah laku anak-anaknya. Anak menjadi jelmaan dan resapan sisi gelap orang tua dan memainkannya di depan sesama. Dengan bertumbuhnya anak menjadi seorang remaja, tertumpuklah padanya segala hal yang bukan orang tua, karena persona orang tua yang umumnya sangat positif, misalnya terhormat, sopan, jujur, setia, taat pada aturan; sedangkan sifat-sifat sisi gelap, terpantulkan pada anak-anak adalah yang negatif, misalnya kurang ajar, ribut, dan suka melawan. p- 66.
 
Mungkin pemahaman mengenai Sisi Terang, dan Sisi Gelap, bisa merupakan salah satu jawaban yang bisa diterapkan dari tingkat indvidu sampai ke hal-hal yang menjadi masalah di masyarakat. Mungkin saja, kasus pembunuhan dari Alm. Ade Irma terjadi akibat  tersangka Hafiz ternyata benar tertekan sisi gelap sang Ayah yang adalah seorang Dokter Kandungan yang pernah tersangkut kasus Aborsi; dimana citra sang Ayah memiliki sikap baik dan ramah di mata tetangga sekitar misalnya. Dalam hal ini, saya mencoba berhipotesis dengan sumber yang saya yakini. Namun yang saya katakan ini tentu saja tidak bermaksud untuk ikut menyimpulkan kasus itu, hanya dengan membaca buku ini.
 
Tahun awal pernikahan, dimana saya dan suami juga baru saling mengenal lebih dalam sifat dan sikap satu sama lain; membuat saya juga baru menyadari; bahwa sisi gelap saya cenderung sudah tidak dapat tertutupi lagi di depan mata suami. ini membuat saya cenderung merasa tidak nyaman rasanya. 
 
Wow. namun saat saya akhirnya menceritakan sedemikian rupa maksud dan apa yang terjadi dalam diri saya kepada orang terdekat dalam hidup saya, yaitu suami saya, saya seperti seolah sedang bercerita dan meminta pengertian kepada diri saya sendiri untuk menerima dan bersahabat dengan bagian gelap dari dalam diri kita itu. Sama halnya dengan suami saya. Ini yang membuat kami semakin saling percaya dan mengenal diri seutuhnya.
 
Biasanya kita menjumpai sisi gelap secara tidak langsung, misalnya pada kelakuan tidak sedap, di luar sana, dimana kita lebih aman mengamatinya.
Apabila kita bereaksi keras, entah terhadap sifat, sikap, atau gejala, terhadap kemalasan atau kebodohan, dan reaksi kita mendadak kagum atau benci, itulah sat sisi gelap kita menunjukkan diri. Sisi gelap perorangan mengandung segala macam kemampuan yang belum berkembang dan kekuatan yang belum terolah maupun terasah. 
Dia adalah bagian bawah sadar yang melengkapi dan mengimbangi Diri kita, serta mewakilkan unsur-unsur dan ciri khas yang tidak diakui oleh kepribadian sadar, sehingga seringkali ditelantarkan, dipendam, dilupakan. Namun, ia muncul dalam perjumpaan berhadapan muka, misalnya dalam perselisihan, dan pertentangan dengan sesama kita. Biarpun kita tidak bisa menatap sisi gelap secara langsung, ia muncul dalam aneka kesempatan dalam hidup sehari-hari, dalam dagelan atau dalam lelucon kasar, yang mengungkapkan perasaan dan sikap rendah mutu serta kurang ajar. Apabila dengan seksama kita meneliti apa yang menyebabkan kita tertawa, kita tahu kawan kita yang gelap itu sedang beraksi.
 
Ada berbagai macam cara dan kesempatan untuk kita dapat berjumpa dengan bayangan gelap diri kita, antara lain :
* Dalam perasaan dan tanggapan yang berlebihan (Aku tak mengira kau bisa berbuat demikian buruk).
* Dalam umpan balik negatif dari sesama (Ini ketiga kalinya, Anda datang terlambat”).
* Dalam reaksi beberapa orang mengenai hal yang sama. (“Kami bertiga merasa, Anda tidak terus terang waktu memberikan laporan.”)
* Kalau kita bereaksi karena sangat direndahkan dalam situasi tertentu (“Aku merasa malu sekali atas cara aku diperlakukan disini.”)
* Dalam kemarahan berlebihan atas kesalahan orang lain (“Masak, ia tidak mampu menyelesaikan pekerjaan itu pada waktunya?”) p-188-189
 
Di akhir bukunya, Pater Wolfgang menuliskan beberapa hal penting yang perlu kita ingat.
* Sisi Gelap, merupakan bagian integral diri manusia, maka perlu kita terima dan kita persatukan.
* Semakin mampu kita menerima diri kita apa adanya (namun dalam hal ini, secara mendalam, bukan terbatas
   pada nrimo seperti yang dijelaskan oleh saya diatas); semakin sedikitlah kita harus berpura-pura dan
   cenderung membuat kesan bahwa kita menjadi orang yang benar.
* Semakin kita bersedia memandang diri kita dengan segala ketidaksempurnaan, kita juga akan semakin
   mampu menerima sesama dengan ketidaksempurnaan mereka.
 
Saya pun tidak merasa sudah bersahabat baik dan mengenal lebih dalam lagi sisi gelap saya, dan pergi membawanya serta kepada Sang Terang. Namun saya bersyukur masih diberi waktu untuk membaca, merenungi, dan mudah-mudahan, bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Amin.
 
Selamat Hari Nyepi bagi kawan-kawan yang merayakan.
 
Tulisan ini tidak dimaksudkan menjadi resensi dari Buku yang menjadi inspirasi penulis dalam menulis artikel ini. Beberapa paragraf yang dituliskan penulis diambil langsung dari Buku tersebut, yang berjudul
Sisi Terang Sisi Gelap, karya Pater Wolfgang Bock, SJ, Penerbit OBOR, 2009.
Image

Why Generation Y Yuppies Are Unhappy ?

I found this article, and i’m getting more understand about myself, my generation, Y generation.Many thanks to the writer.

i hope yourself too, reader. Happy reading : )

                                                                                    ***

Say hi to Lucy.

2013-09-15-Geny1.jpg

Lucy is part of Generation Y, the generation born between the late 1970s and the mid 1990s. She’s also part of a yuppie culture that makes up a large portion of Gen Y.

I have a term for yuppies in the Gen Y age group — I call them Gen Y Protagonists & Special Yuppies, or GYPSYs. A GYPSY is a unique brand of yuppie, one who thinks they are the main character of a very special story.

So Lucy’s enjoying her GYPSY life, and she’s very pleased to be Lucy. Only issue is this one thing:

Lucy’s kind of unhappy.

To get to the bottom of why, we need to define what makes someone happy or unhappy in the first place. It comes down to a simple formula:

2013-09-15-Geny2.jpg

 

It’s pretty straightforward — when the reality of someone’s life is better than they had expected, they’re happy. When reality turns out to be worse than the expectations, they’re unhappy.

To provide some context, let’s start by bringing Lucy’s parents into the discussion:

2013-09-15-Geny3.jpg

Lucy’s parents were born in the ’50s — they’re Baby Boomers. They were raised by Lucy’s grandparents, members of the G.I. Generation, or “the Greatest Generation,” who grew up during the Great Depression and fought in World War II, and were most definitely not GYPSYs.

2013-09-15-Geny4.jpg

 

Lucy’s Depression Era grandparents were obsessed with economic security and raised her parents to build practical, secure careers. They wanted her parents’ careers to have greener grass than their own, and Lucy’s parents were brought up to envision a prosperous and stable career for themselves. Something like this:

2013-09-15-Geny5.jpg

They were taught that there was nothing stopping them from getting to that lush, green lawn of a career, but that they’d need to put in years of hard work to make it happen.

2013-09-15-Geny6.jpg

After graduating from being insufferable hippies, Lucy’s parents embarked on their careers. As the ’70s, ’80s, and ’90s rolled along, the world entered a time of unprecedented economic prosperity. Lucy’s parents did even better than they expected to. This left them feeling gratified and optimistic.

2013-09-15-Geny7.jpg

With a smoother, more positive life experience than that of their own parents, Lucy’s parents raised Lucy with a sense of optimism and unbounded possibility. And they weren’t alone. Baby Boomers all around the country and world told their Gen Y kids that they could be whatever they wanted to be, instilling the special protagonist identity deep within their psyches.

This left GYPSYs feeling tremendously hopeful about their careers, to the point where their parents’ goals of a green lawn of secure prosperity didn’t really do it for them. A GYPSY-worthy lawn has flowers.

2013-09-15-Geny8.jpg

This leads to our first fact about GYPSYs:

GYPSYs Are Wildly Ambitious

2013-09-15-Geny9.jpg

The GYPSY needs a lot more from a career than a nice green lawn of prosperity and security. The fact is, a green lawn isn’t quite exceptional or unique enough for a GYPSY. Where the Baby Boomers wanted to live The American Dream, GYPSYs want to live Their Own Personal Dream.

Cal Newport points out that “follow your passion” is a catchphrase that has only gotten going in the last 20 years, according to Google’s Ngram viewer, a tool that shows how prominently a given phrase appears in English print over any period of time. The same Ngram viewer shows that the phrase “a secure career” has gone out of style, just as the phrase “a fulfilling career” has gotten hot.

2013-09-15-Geny10.jpg

 

2013-09-15-geny11.jpg

 

To be clear, GYPSYs want economic prosperity just like their parents did — they just also want to be fulfilled by their career in a way their parents didn’t think about as much.

But something else is happening too. While the career goals of Gen Y as a whole have become much more particular and ambitious, Lucy has been given a second message throughout her childhood as well:

2013-09-15-Geny12.jpg

This would probably be a good time to bring in our second fact about GYPSYs:

GYPSYs Are Delusional

“Sure,” Lucy has been taught, “everyone will go and get themselves some fulfilling career, but I am unusually wonderful and as such, my career and life path will stand out amongst the crowd.” So on top of the generation as a whole having the bold goal of a flowery career lawn, each individual GYPSY thinks that he or she is destined for something even better —

A shiny unicorn on top of the flowery lawn. 

2013-09-15-Geny13.jpg

 

So why is this delusional? Because this is what all GYPSYs think, which defies the definition of special:

spe-cial | ‘speSHel |
adjective
better, greater, or otherwise different from what is usual.

 

According to this definition, most people are not special — otherwise “special” wouldn’t mean anything.

Even right now, the GYPSYs reading this are thinking, “Good point… but I actually am one of the few special ones” — and this is the problem.

A second GYPSY delusion comes into play once the GYPSY enters the job market. While Lucy’s parents’ expectation was that many years of hard work would eventually lead to a great career, Lucy considers a great career an obvious given for someone as exceptional as she, and for her it’s just a matter of time and choosing which way to go. Her pre-workforce expectations look something like this:

2013-09-15-Geny14.jpg

 

Unfortunately, the funny thing about the world is that it turns out to not be that easy of a place, and the weird thing about careers is that they’re actually quite hard. Great careers take years of blood, sweat and tears to build — even the ones with no flowers or unicorns on them — and even the most successful people are rarely doing anything that great in their early or mid-20s.

But GYPSYs aren’t about to just accept that.

Paul Harvey, a University of New Hampshire professor and GYPSY expert, has researched this, finding that Gen Y has “unrealistic expectations and a strong resistance toward accepting negative feedback,” and “an inflated view of oneself.” He says that “a great source of frustration for people with a strong sense of entitlement is unmet expectations. They often feel entitled to a level of respect and rewards that aren’t in line with their actual ability and effort levels, and so they might not get the level of respect and rewards they are expecting.”

For those hiring members of Gen Y, Harvey suggests asking the interview question, “Do you feel you are generally superior to your coworkers/classmates/etc., and if so, why?” He says that “if the candidate answers yes to the first part but struggles with the ‘why,’ there may be an entitlement issue. This is because entitlement perceptions are often based on an unfounded sense of superiority and deservingness. They’ve been led to believe, perhaps through overzealous self-esteem building exercises in their youth, that they are somehow special but often lack any real justification for this belief.”

And since the real world has the nerve to consider merit a factor, a few years out of college Lucy finds herself here:

2013-09-15-Geny15.jpg

Lucy’s extreme ambition, coupled with the arrogance that comes along with being a bit deluded about one’s own self-worth, has left her with huge expectations for even the early years out of college. And her reality pales in comparison to those expectations, leaving her “reality – expectations” happy score coming out at a negative.

And it gets even worse. On top of all this, GYPSYs have an extra problem that applies to their whole generation:

GYPSYs Are Taunted

Sure, some people from Lucy’s parents’ high school or college classes ended up more successful than her parents did. And while they may have heard about some of it from time to time through the grapevine, for the most part they didn’t really know what was going on in too many other peoples’ careers.

Lucy, on the other hand, finds herself constantly taunted by a modern phenomenon:Facebook Image Crafting.

Social media creates a world for Lucy where A) what everyone else is doing is very out in the open, B) most people present an inflated version of their own existence, and C) the people who chime in the most about their careers are usually those whose careers (or relationships) are going the best, while struggling people tend not to broadcast their situation. This leaves Lucy feeling, incorrectly, like everyone else is doing really well, only adding to her misery:

2013-09-15-Geny16.jpg

So that’s why Lucy is unhappy, or at the least, feeling a bit frustrated and inadequate. In fact, she’s probably started off her career perfectly well, but to her, it feels very disappointing.

Here’s my advice for Lucy:

1) Stay wildly ambitious. The current world is bubbling with opportunity for an ambitious person to find flowery, fulfilling success. The specific direction may be unclear, but it’ll work itself out — just dive in somewhere.

2) Stop thinking that you’re special. The fact is, right now, you’re not special. You’re another completely inexperienced young person who doesn’t have all that much to offer yet. You can become special by working really hard for a long time.

3) Ignore everyone else. Other people’s grass seeming greener is no new concept, but in today’s image crafting world, other people’s grass looks like a glorious meadow. The truth is that everyone else is just as indecisive, self-doubting, and frustrated as you are, and if you just do your thing, you’ll never have any reason to envy others.

this article posted in Hufftington Post,2013.

 http://www.huffingtonpost.com/wait-but-why/generation-y-unhappy_b_3930620.html