Tags

, , , ,

Membaca buku Sisi Terang dan Sisi Gelap, membuat saya perlahan belajar menemukan sisi gelap yang ada di diri; yang cenderung ditekan dalam kehidupan sehari-hari. Hari ini, saya mencoba mensarikan beberapa hal penting yang menjadi permenungan saya pribadi.

Belakangan ini saya merasakan kesulitan untuk mengontrol emosi negatif yang muncul dari dalam diri saya yang timbul akibat bereaksi terhadap sikap buruk rekan kerja atau atasan saya di kantor. Bahkan sebenarnya; saya juga melakukan refleksi diri; melihat ke belakang; dan menemukan kenyataan bahwa emosi negatif yang saya pribadi alami bahkan sejak saya kecil dan remaja dulu.

Being a nice person versus becoming Hulk. 

Is there a Hulk inside you?
Menjadi orang baik merupakan harapan yang dibebankan oleh masyarakat, agama, orang tua, guru, bahkan nusa dan bangsa meski kita di kala kecil belum paham benar seberapa luas dan besar tanggung jawab tersebut. Pada jalannya, dalam proses pendewasaan kita,  kadang “harapan mulia” tersebut, suka disalahartikan kita sendiri  (baca : saya pribadi) dengan bersikap nrimo tanpa mau berjuang buat keadilan dan keseimbangan diri kita sendiri. Bersikap baik dan menekan sisi diri kita yang malas, pemberontak, liar, tidak mau diatur, vokal, dan sebagainya, 
Dalam bukunya,  Pater Wolfgang menulis :
“supaya tampilan diri kita sungguh-sungguh mempersonakan, kita menggeser bagian-bagian dan sisi-sisi lain yang tidak sesuai dengan gambaran diri yang bagus itu. Hal-hal yang tergeserkan itu lambat laun menumpuk menjadi sisi gelap.”  p-11.
Beberapa tahun bertumbuh sebagai pribadi yang cenderung nrimo, berupaya untuk selalu mengalah, rupa-rupanya membuat saya seperti seseorang yang memiliki wajah baru, saya menemukan diri saya memiliki jiwa pemberontak dan amarah juga. Mungkin ada diantara teman-teman yang menyadarinya jauh lebih awal ketimbang saya, dan mungkin ada yang belum menemukannya.

Saya baru menyadari bahwa saya juga punya keterbatasan, dan emosi negatif yang sudah menumpuk dalam hati ini akhirnya mendobrak keluar dan BRAK ! sehingga amarah saya keluar tanpa bisa terkontrol lagi. 

Berhadapan dengan diri saya yang marah nampaknya menjadikan diri saya seperti seseorang yang tidak saya kenali.
Bahkan ketika saya belum menyadari  energi negatif yang membuncah dari dalam diri; saya mengeluarkan emosi negatif justru pada orang-orang terdekat. inilah yang membuat hubungan saya dengan orang terdekat justru memburuk. Suami saya bahkan mengandaikannya seperti ini “kamu kalau marah dengan meledak tuh bahaya,  kamu biasanya terlihat tenang, namun kalau kesenggol dikit emosimu, mungkin kamu bisa membunuh orang 1 mall dengan kamu dikasih senapan mungkin”. Dug. Pertama kali saya mendengarnya, saya hampir menyangkal lagi. Ah, saya tidak seperti itu! 
Namun sepertinya ada benarnya. Saya temukan juga setahun belakangan ini saya sering menekan stress saya hingga menjadi migrain dan kemarahan saya kepada suami menjadi muncul untuk hal-hal sepele karena persoalan kantor. Saya menyesali kemarahan saya, telah melukai orang yang justru paling mensupport saya. Namun ternyata menyesal tidaklah cukup jika tidak tahu bahwa seharusnya kita bersahabat dengan si sisi gelap saya itu, yang dikatakan oleh Pater  Wolfgang Bock, SJ  sebagai bagian dalam diri yang  tidak dapat dihilangkan dan dibuang dari diri kita, namun bisa diolah dan diajak turut serta dalam diri kita, diarahkan seperti seorang adik kecil kita, kita tuntun bersama-sama.
 
” Umpan balik jujur dari mereka yang mengenal kita cukup baik, sangat berharga untuk mengenal ciri-ciri khas, bentuk, rupa, tabiat, dan sifat sisi gelap kita; biarpun cara itu mungkin sangat tidak kita sukai. Bisa jadi kita memandang dengan marah serta berkata : “apa maksudmu, aku bukanlah orang semacam itu!” Namun tawaran umpan balik semacam itu membuka peluang untuk mengubah diri dan menjadi semakin peka terhadap proyeksi-proyeksi ke atas diri kita. Maka DIRI kita akan serta merta menolak; sedangkan JATI DIRI kita akan menyahut, ” Kalau demikian, aku mau memperhatikan hal itu. terima kasih.” p- 68.
 
Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati?

Pandangan atau pendekatan ilmu  relasi manusia yang serupa tentunya telah ditemukan oleh para Ahli, Psikolog, dan sebagainya untuk mengungkap emosi manusia, ego, dan dampaknya.
Namun saya suka gagasan yang dibawa oleh Pater Wolfgang Bock, SJ mengenai sisi Gelap dan Sisi Terang manusia. Dalam bukunya, Pater menegaskan pentingnya memiliki “kebugaran emosi” dan tidak memendam rasa atau menjadi agresif terpendam; melainkan belajar proaktif untuk mengolah energi dari sisi gelap kita yang ingin ‘tampil’ juga untuk menjadi lebih asertif, cerdik seperti ular, namun tetap tulus seperti merpati, yang elegan, tenang, tidak terburu nafsu. Tentu dengan menyadari jika kita menjadikan diri kita terlalu sabar misalkan, dengan tidak memberi ruang dan pengertian bahwa kita juga punya rasa amarah, ketidaksukaan, berusaha mengalahkan rasa itu semua; malah akan merugikan kita sendiri.  

Saya kira teman-teman juga pernah merasakannya. Kita di satu sisi berusaha sempurna tanpa cela dan emosi negatif, berusaha “do the best” di sisi itu; namun melupakan sisi atau bagian diri kita yang juga ingin beristirahat, ingin lebih santai (leha-leha) dan punya waktu, ingin hal lain ketimbang formalitas dan terlibat misalnya ke dalam politik kantor yang penuh hal-hal yang kita tidak sukai; atau bahkan sejak masa kecil cenderung ditekan oleh lingkungan sekitar kita, seperti orang tua, guru, misalnya ” heh, jangan males jadi anak! nanti udah gede kamu mau jadi apa!” ” heh, kamu bodoh skali!” “ih, kamu kayak banci!” 

 
 
Proyeksi sisi gelap dalam keluarga amat sering terjadi. Misalnya, orang tua melempar sisi gelapnya ke atas anak-anaknya karena mereka ibarat kambing hitam yang selalu tersedia dan tidak mampu membela diri.  Bahkan kita dapat menyimpulkan sejumlah watak dan sifat orang tua dari tingkah laku anak-anaknya. Anak menjadi jelmaan dan resapan sisi gelap orang tua dan memainkannya di depan sesama. Dengan bertumbuhnya anak menjadi seorang remaja, tertumpuklah padanya segala hal yang bukan orang tua, karena persona orang tua yang umumnya sangat positif, misalnya terhormat, sopan, jujur, setia, taat pada aturan; sedangkan sifat-sifat sisi gelap, terpantulkan pada anak-anak adalah yang negatif, misalnya kurang ajar, ribut, dan suka melawan. p- 66.
 
Mungkin pemahaman mengenai Sisi Terang, dan Sisi Gelap, bisa merupakan salah satu jawaban yang bisa diterapkan dari tingkat indvidu sampai ke hal-hal yang menjadi masalah di masyarakat. Mungkin saja, kasus pembunuhan dari Alm. Ade Irma terjadi akibat  tersangka Hafiz ternyata benar tertekan sisi gelap sang Ayah yang adalah seorang Dokter Kandungan yang pernah tersangkut kasus Aborsi; dimana citra sang Ayah memiliki sikap baik dan ramah di mata tetangga sekitar misalnya. Dalam hal ini, saya mencoba berhipotesis dengan sumber yang saya yakini. Namun yang saya katakan ini tentu saja tidak bermaksud untuk ikut menyimpulkan kasus itu, hanya dengan membaca buku ini.
 
Tahun awal pernikahan, dimana saya dan suami juga baru saling mengenal lebih dalam sifat dan sikap satu sama lain; membuat saya juga baru menyadari; bahwa sisi gelap saya cenderung sudah tidak dapat tertutupi lagi di depan mata suami. ini membuat saya cenderung merasa tidak nyaman rasanya. 
 
Wow. namun saat saya akhirnya menceritakan sedemikian rupa maksud dan apa yang terjadi dalam diri saya kepada orang terdekat dalam hidup saya, yaitu suami saya, saya seperti seolah sedang bercerita dan meminta pengertian kepada diri saya sendiri untuk menerima dan bersahabat dengan bagian gelap dari dalam diri kita itu. Sama halnya dengan suami saya. Ini yang membuat kami semakin saling percaya dan mengenal diri seutuhnya.
 
Biasanya kita menjumpai sisi gelap secara tidak langsung, misalnya pada kelakuan tidak sedap, di luar sana, dimana kita lebih aman mengamatinya.
Apabila kita bereaksi keras, entah terhadap sifat, sikap, atau gejala, terhadap kemalasan atau kebodohan, dan reaksi kita mendadak kagum atau benci, itulah sat sisi gelap kita menunjukkan diri. Sisi gelap perorangan mengandung segala macam kemampuan yang belum berkembang dan kekuatan yang belum terolah maupun terasah. 
Dia adalah bagian bawah sadar yang melengkapi dan mengimbangi Diri kita, serta mewakilkan unsur-unsur dan ciri khas yang tidak diakui oleh kepribadian sadar, sehingga seringkali ditelantarkan, dipendam, dilupakan. Namun, ia muncul dalam perjumpaan berhadapan muka, misalnya dalam perselisihan, dan pertentangan dengan sesama kita. Biarpun kita tidak bisa menatap sisi gelap secara langsung, ia muncul dalam aneka kesempatan dalam hidup sehari-hari, dalam dagelan atau dalam lelucon kasar, yang mengungkapkan perasaan dan sikap rendah mutu serta kurang ajar. Apabila dengan seksama kita meneliti apa yang menyebabkan kita tertawa, kita tahu kawan kita yang gelap itu sedang beraksi.
 
Ada berbagai macam cara dan kesempatan untuk kita dapat berjumpa dengan bayangan gelap diri kita, antara lain :
* Dalam perasaan dan tanggapan yang berlebihan (Aku tak mengira kau bisa berbuat demikian buruk).
* Dalam umpan balik negatif dari sesama (Ini ketiga kalinya, Anda datang terlambat”).
* Dalam reaksi beberapa orang mengenai hal yang sama. (“Kami bertiga merasa, Anda tidak terus terang waktu memberikan laporan.”)
* Kalau kita bereaksi karena sangat direndahkan dalam situasi tertentu (“Aku merasa malu sekali atas cara aku diperlakukan disini.”)
* Dalam kemarahan berlebihan atas kesalahan orang lain (“Masak, ia tidak mampu menyelesaikan pekerjaan itu pada waktunya?”) p-188-189
 
Di akhir bukunya, Pater Wolfgang menuliskan beberapa hal penting yang perlu kita ingat.
* Sisi Gelap, merupakan bagian integral diri manusia, maka perlu kita terima dan kita persatukan.
* Semakin mampu kita menerima diri kita apa adanya (namun dalam hal ini, secara mendalam, bukan terbatas
   pada nrimo seperti yang dijelaskan oleh saya diatas); semakin sedikitlah kita harus berpura-pura dan
   cenderung membuat kesan bahwa kita menjadi orang yang benar.
* Semakin kita bersedia memandang diri kita dengan segala ketidaksempurnaan, kita juga akan semakin
   mampu menerima sesama dengan ketidaksempurnaan mereka.
 
Saya pun tidak merasa sudah bersahabat baik dan mengenal lebih dalam lagi sisi gelap saya, dan pergi membawanya serta kepada Sang Terang. Namun saya bersyukur masih diberi waktu untuk membaca, merenungi, dan mudah-mudahan, bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Amin.
 
Selamat Hari Nyepi bagi kawan-kawan yang merayakan.
 
Tulisan ini tidak dimaksudkan menjadi resensi dari Buku yang menjadi inspirasi penulis dalam menulis artikel ini. Beberapa paragraf yang dituliskan penulis diambil langsung dari Buku tersebut, yang berjudul
Sisi Terang Sisi Gelap, karya Pater Wolfgang Bock, SJ, Penerbit OBOR, 2009.
Image
Advertisements