Confession.

Menyenderkan tubuh sejenak di malam hari selepas anak dan suami tertidur, sambil membaca kembali beberapa halaman buku parenting, lalu acak melihat internet dan mencari pilihan sekolah yang cocok untuk anak, lalu coba merenungkan pencapaian apa yang anakku saat ini–lemah dan lebihnya, juga diriku sendiri sebagai mama.

3 tahun lebih 3 bulan, saya menjadi ibunya. Saya sadar akan beberapa kekurangan saya sampai titik ini :

  1. Saya terlampau khawatir akan perkembangan dan pengasuhan dirinya, terlalu banyak hal dan referensi yang saya cari, hingga saya sulit mencerna dan memutuskan dan percaya akan diri untuk mengasuh dengan gaya yang sesuai dengan kebutuhan diri anak saya. Banyak hal pro kontra yang kamu bisa dapatkan dari berbagai sumber : mulai dari orang tua sendiri, internet, peer kita, dokter anak, suami, tetangga —-tapi ini membuat saya merasa malah bisa menjadi potensi distraksi kamu untuk enjoy every moment dengan anakmu–serta menggunakan insting, feeling, dan rasa kasihmu sebagai Ibu bagi anakmu sendiri, untuk men decide mana yang tepat untuk anakmu. Dan ini membuat saya sadar, bahwa saya perlu lebih percaya pada insting dan hati saya sendiri, meskipun mendengarkan masukan lain juga perlu.
  2. I forget the most important thing : DONT try to be perfect mom, but remember to always try our best to be Her Real Mom every single day. Yang selalu passionate dan cheering her every little development, dirinya apa adanya. Buat pengalaman saya , jangan terlalu sibuk dengan masak dan urusan rumah saja, tapi mencoba cari cara untuk hadir bersamanya setiap hari.
  3. Saya cenderung memaksakan dan sibuk mencari “which method that suits to her” tapi lupa mempersiapkan diri saya sendiri sebagai pendampingnya.  Saya cukup yakin bahwa metode Montessori lah yang tepat untuk dirinya misalkan. Lalu saya mencoba mencari ini dan itu tentang bagaimana saya bisa menerapkan montessori dan mencoba mengembangkan kemandiriannya, lalu saya menemukan beberapa kendala : kadang apa yang kita bawakan kepadanya juga belum tepat saatnya, belum menarik minatnya. Kadang saya tidak mem follow up progress/ perkembangan dirinya dan menghargai prosesnya–malah terlalu sibuk dengan output ideal yang saya sendiri harapkan. Kadang saya hanya berharap “i wish this material would make her occupied or get busy so i could do anything else”. Kadang saya menemukan penolakan dirinya. Kadang saya malah terlalu sibuk mencoba mencari ‘materi’ dengan surfing di internet dan berakhir pada kesibukan untuk membandingkan pencapaian anak lain dengan anak sendiri. That’s ONE BIG SILLY THING : for being unfocus most of the time. Dan..nyatanya saya lupa untuk mempersiapkan diri untuk lebih disiplin, tetatur, konsisten, dan sabar, serta menghormati setiap proses. Nyatanya sejak awal, saya mencoba mengajarkan berbagai hal sesuai pendekatan montessori, sometimes tanpa memahami periode sensitif dari anak saya, dan membawakannya tidak dengan konsisten dan sabar. So, bagaimana kamu bisa mengajar anakmu untuk bersikap sabar dan konsisten jika dirimu tidak melakukannya juga?  Saat ini saya merasa mandek dalam mencari cara — “finding my wayback to be her real and true mom for her”. Namun dalam menjalani peran kita menjadi Ibu dan mengasuh anak, saya tahu tidak bisa ada kata “break dulu” atau “resign”  kan? yang ada adalah bagaimana saya bawa hasil refleksi ini sebagai semangat untuk memulai langkah dan gaya baru yang lebih baik untuk mengubah diri lebih dahulu sebelum dapat mendampingi dan mengasuh anak saya dengan lebih baik lagi.

So, dalam beberapa hari ke depan, rencana mengenai diri saya yang ingin saya jalankan adalah :

  1. Lebih konsisten dalam merawat diri saya sendiri : berdoa, lari, yoga, makan, menulis dengan lebih teratur dan nyata selama 21 hari kedepan. Saya  berharap ini menjadi langkah awal untuk bisa jadi better mama.
  2. Lebih banyak tersenyum dan bersyukur.
  3. Realitis dan terukur dalam membuat rencana.

Mungkin kalau dibaca 2  poin di atas kurang nyambung dengan problem yang ada di atas, tapi buat saya sebenarnya, justru saya lah yang perlu di revisi sebelum going back to the track untuk mengasuh anak. Anyway, ujung dari semua ini adalah tantangan bagi saya untuk belajar konsisten, tegas, dan merawat diri saya sendiri juga sebelum saya mengajarkan dan memberi contoh yang sama yang saya mau putri saya dapat lakukan. Let’s do and see.

Advertisements

Dear Myself

Dear myself,

You’ve been told maybe a thousand times, or more, that you cannot do something.

and you’ve done believe it.

You’ve been told that you are not pretty like the others, and you’ve done believe it.

You’ve been told that you’re not deserve to live, and you’ve done believe it in the past.

it is bad. But God has lead you to not live in it.

Dear myself,

it’s time now to let it go, and forgive the person, and yourself, for letting you believe that.

in fact, they are all cannot define you by what they have said.

and forgive yourself now, for letting you making some mistake, by passing some of the anger and doubt  to your daughter. You doesn’t mean it, it’s just rely on your self-unconscious state of mind, and now you  learn to change it. 

***

In this section of my life, i am learning to change the way i talk about something, about my life, and how my words run for my daughter. Some of the self-doubt, disappointment, and anger that I’ve been pushed way deeper recent years– need to be recognized, even i passed it to my daughter. But i know I CAN CHANGE IT.

So recently, i have read a great book about how Danish folks raising their children called “THE DANISH WAY OF PARENTING”. i tried some of their great tips, and you can learn it too. they have a great website too so we can learn more even though you doesn’t buy the book yet. But trust me, they have a great book to read! that’s one of the great 101 Parenting book nowadays. But this time, i want to share one of their great article that inspired me to start writing this.

Throughout our childhood we learn to use words and sentences to describe our outer and inner reality. The language we use allows us to form mental images and tales about our past, present, hopes and dreams of the future, and to tell others about our lives. We take in a limited number of facts, assumptions, events, moods and currents to us, as long as they make sense to us.
All of these stories and information will be an important part of our sense of identity. If we are exposed to many negatively charged impulses throughout our childhood, our self-image will often bear the mark of this.
Often we develop a “cannot-mentality” if that’s what we have been told throughout our childhood. While if the opposite is a reality, supportive and affirmative impulses give a stronger and less judgmental self-image, where an “I-can-do-it mentality” dominates. We just do not think about it.

As children, we rely on caring and loving adults around us. They help us to regulate and understand our feelings. The way we are spoken to is thus crucial for what self-image we develop.
Sentences like: “She is simply so stubborn and unruly” said to a 3-year-old with a negative and judgmental undertone, the child collects it and connects it to other times, she has received something similar in the same tone. These negative and defined identity stories about “being stubborn and unruly”, she takes into adulthood as a definition of her identity.

Our reality and understanding are created with the language we use. Therefore, all changes will require a change in the language.
Think about whether you speak to yourself or your children in a supportive or inhibitory way. Words like “he is so…” or “I am too…” Are generally negatively defining and stigmatizing phrases that only intend to suppress a positive and supportive self-image.
Reform, redefine or reframe. It’s about shifting the focus from what we think we cannot create an opening for possible change.

How reframing works
Research shows that the ability to reformulate a stressed situation, a family conflict, a negative employee situation or an unhappy hysterical child can change our overall satisfaction and self-image.
Instead of saying: “she can’t”, the same sentence may sound: “she is not there yet.” Or a sentence like: “She is so touchy” can be redefined to: “Be glad, she is so good at tuning in on her own and others’ feelings.”
It opens up for the feeling of being in motion and moving. Your mindset changes the focus from a belief from: “It is just the way it is-status quo feeling” to an: “It’s possible” or “I am sure it will be absolutely fine feeling”. Your state of mind changes with your words. It also goes for our children.

We develop when we believe that our hope and dreams can succeed. We also grow when others believe in us and give us confidence.
Once we master the ability to reformulate or redefine our inhibitory/definitive language usage, we must gather the positive stories in which we succeed. It’s not about eliminating negative events (that’s often misunderstood) – they all come true – it’s just about seeing the same subject in more shades than in just one color.

Iben Sandahl, Jessica Alexander. HOW YOU THINK AND WHAT YOU SAY IS CRUCIAL TO HOW YOU MANAGE LIFE.  June 29,2018.

 

***

Diriku terkasih,

Banyak yang mengatakan, bahkan mungkin seribu kali , bahwa dirimu tak dapat melakukan sesuatu, hingga kau telah mempercayainya di masa lalu.

Dikatakan bahwa kamu tidak cantik, rambutmu sulit diatur, kamu mempercayainya, badanmu tinggi dan besar, dan kamu tumbuh dengan kikuk, dan kamu telah menjalaninya di masa lalu.

Dikatakan bahwa kamu tidak pantas untuk hidup, dan kata-kata yang tidak pantas diucapkan kepadamu, dan kamu sempat terganggu dengan kata-kata itu di masa lalu– semuanya buruk– namun Tuhan telah memandumu untuk keluar dan hidup tidak lagi di dalamnya.

Diriku yang terkasih,

Saatnya untuk melepaskan semuanya, memaafkan semuanya, dan memaafkan dirimu yang telah membuat dirimu sendiri sempat percaya semua hal yang buruk.

Sesungguhnya, semua itu tidak dapat mendefinisikan dirimu yang sebenarnya.

Saatnya untuk memaafkan dirimu sendiri sekarang yang telah menurunkan beberapa rasa ragu, amarah dan kecewa pada diri putrimu. sesungguhnya itu ada dalam alam bawah sadarmu, dan kamu BISA MENGUBAHNYA.

***

Di titik ini saya mencoba belajar untuk mengubah bagaimana cara saya untuk mengatakan sesuatu, terutama dalam hal ini, bagaimana saya menghadapi hidup, mengatakan sesuatu pada diri saya sendiri, dan bagaimana saya berkata-kata pada anak perempuan saya. Banyak keraguan, kekecewaan, amarah, yang ada pada diri sendiri, ditekan dalam dan rindu untuk dikenal dan akhirnya meledak, bahkan malah saya tularkan pada anak saya. dan saya tahu saya MAMPU MENGUBAHNYA JADI LEBIH BAIK.

Sudah lama rasanya tidak  menulis dan berkata-kata pada diri sendiri. And I cannot wait to write more about my progress here.

WhatsApp Image 2018-07-03 at 20.55.24 (1)

 

 

Celoteh Kakak

Kamis, 28 Juni 2018. 15.53 sore.

anak tidur, jadi mama punya  sedikit waktu untuk menulis.

Kemarin setelah mandi, Joslynn bertanya pada mamanya, “mama sayang ga (sama Joslynn red.)?”

Mama kaget, biasanya yang nanya seperti itu adalah saya, “Joslynn sayang ga sama mama?”

“Sayang dong,” jawab saya sambil cari-cari bajunya di laci.

“Emang mama udah mau punya adek lagi?” tanyanya lagi.

Jeng jeng! how cute and smart her question is! saya tertawa dan bertanya, Joslynn kok nanya bgitu, siapa yang ajarin hayo?– saya curiga eyang opanya (siang tadi kami baru main ksana) — tapi saya mau jawabannya.. sambil ciumi dia yang tiduran di tempat tidur, saya katakan kepadanya “belum ada dedek bayi di perut mama, dan mama tetap sayang sama kamu Joslynn.. mau ada adek atau tidak,” “Trus kalau dedek bayi udah kluar perut mama gimana ?” tanyanya lagi. “ya.. kayak balon menggembung kan kalau diisi dedek bayi, selama 9 bulan, lama lho! dan setelah dedek bayi nanti lahir, perut mama awalnya ya menggantung kempes masih gede sdikit,” jawab saya. Sambil saya klitiki dan ciumi dia, saya tanya lagi, hayo siapa yang bilang mama mau punya adek lagi? “Eyang sama opa,” jawabnya. “bilangnya gimana/” tanya saya curious. “Hayoo,, Ocin mau punya adek ya?” dia tiruin cara eyangnya berbicara. hohoho. saya amini saja sebagai doa, karena memang saya tak pernah menunda untuk punya anak kembali. seperti saat saya mendoakan kehadiran Joslynn, saya belajar untuk berpasrah padaNya.

Oh ya, beberapa kali kalau ditanya, Joslynn nanti kalau mau punya adek, minta dipanggil apa? kakak atau cici? “Kakak”.. dan konsisten smpai sekarang.

Dan kalau ditanya, mau punya adek cowok atau cewek, dia bilang, mau cewek biar bisa pakai rok sama baju-baju Joslynn.. dan bisa main sama-sama, kan Joslynn cewek..” trus mau punya adek cowok. (Jadi 2 dong ya Cin?)

Dan dia udah ngerancang kalau tidur nanti di tempat tidur tingkat, adek di bawah, dianya diatas. kamar must be pink color. Diamini dan jadi tugas mama papamu ya sayang…

 

New Chapter : Being a Mother

 

In raising my children, I have lost my mind but i found my soul.

Beberapa hari belakangan di pikiran terbesit selalu quote yang pernah saya baca ini. Saya tidak hafal siapa pengarangnya. Namun saya mengiyakan gagasannya. Menjadi ibu membuatmu tidak lagi memikirkan hanya dirimu sendiri, dan sometimes kamu capek dan saya mencoba mengatakan pada diri sendiri kalau itu manusiawi. Hari ini saya memutuskan untuk mem publish tulisan ini, yang telah saya coba mulai 1 tahun yang lalu, tapi teronggok di draft, menunggu untuk diselesaikan.

Di beberapa tulisan yang terakhir, saya coba mengingat-ingat garis besar tulisan saya saja karena sedang malas saya membukanya, dalah kegalauan saya dalam mencari makna diri saya sendiri untuk hidup. Kini, saya telah berganti title, bukan lagi hanya jadi istri dan (dulu) pernah jadi seorang karyawan– kini saya menjadi seorang ibu dari anak perempuan berusia 3.3 tahun.  I really lost myself back then you know. Kini, saya seperti merasa ada urgensi untuk kembali menulis : saya ingin sekali membuat kenangan dan catatan akan apa yang telah dijalani saya selama menjadi seorang mama, catatan akan niatan, perubahan, dan progress yang saya dan anak jalani bersama. Karena ternyata benar, menjadi seorang Ibu itu seperti kehilangan “diri” sendiri namun sekaligus menemukan”jiwa” baru kita, bertumbuh bersama anak kita. Dan itu anugerah.  Suatu saat, ingin sekali bisa membukukan catatan ini. Someday.

***

Buat saya, menjadi seorang mama itu memunculkan ke sok tauan diri kamu akan ilmu yang kamu peroleh tentang pengasuhan anak, membawa niat dan harapanmu untuk mengasuh dan membesarkan anak yang lebih baik daripada pengasuhan yang kita rasakan dulu,  sekaligus keraguanmu saat ternyata result nya kok ga sesuai dengan yang diharap, serta kekhawatiranmu akan banyak hal yang belum pasti terjadi (tapi mama mana coba yang ga pernah khawatir soal anaknya?). Saya pernah berantem sama mama saya terkait anak saat newborn hingga kami sempat tidak berkomunikasi beberapa lama.  Saya juga pernah merasa sangat-sangat tidak cocok dengan mama mertua untuk mengasuh anak saya. Sejak awal mengasuh anak, saya perlahan menyadari, bahwa saya memang tipe pengkhawatir, rajin mencari ilmu merawat anak,  parenting dan sbagainya, namun lemah dalam mengambil keputusan dengan percaya diri : cara mana yang musti saya adopsi? apa back up plan nya jika yang ini gagal?  dan bagaimana saya bisa bersikap firm baik sama diri sndiri maupun terhadap anak, hingga lingkungan sekitar. Beberapa hal yang saya juga temukan adalah :

  1. Bahwa saya dan anak saya sebenarnya sama-sama keras kepala dan susah dibilangin.
  2. Bahwa saya mengulang “siklus” pola asuh yang saya terima dulu, bahkan yang saya rasa itu buruk untuk diteruskan. especially kemarahan dan regulasi emosi saya.
  3. Bahwa anak saya banyak “serupa” dengan saya di banyak hal.

Di akhir hari, saya sering berefleksi bahwa “urusan” saya yang belum selesai, yaitu “tugas perkembangan dan kematangan emosi” saya pribadi– berefek juga akan ketenangan dan kematangan pribadi dalam menjadi seorang ibu.

Menurut saya, hal terutama yang kini perlu saya selesaikan dan bisa jadi tips untuk yang berencana untuk menikah dan atau memilik anak : selesaikan dulu persoalan mu dengan pribadimu : kemarahan dan luka akan masa lalu, kecenderungan untuk membandingkan diri dengan yang lain, serta luka-luka lainnya, persoalan lain mungkin akan terungkit saat mengasuh anak. Beberapa hal yang saya coba akan bahas di tulisan saya selanjutnya.

I Started a (NO) Joke.

26 Juni 2018. Pukul 05 pagi.

Hari ini saya memutuskan kembali menulis. melihat tanggal postingan sebelumnya, 2015, berarti sudah 3 tahun lamanya. Rasanya kaku dan aneh untuk memulai kembali, tapi di pagi ini saya terbangun, dan dalam pikiran seperti meminta saya untuk tidak lagi menunda keinginan untuk menulis blog. Sometimes it was hard for me to wake up early, dan memfokuskan diri untuk langsung menulis. since i became a MOM, kalau bisa bangun pagi, pinginnya bisa langsung masak dan beresin smua. But let me tell you, kadang itu cuma angan, karena seringkali, saya bangun bareng anak, atau bisa pagi-pagi  tapi cuma anak sebentar kemudian bangun dan saya memulai semua : bikin sarapan –ngejar2 anak untuk sarapan krn fokusnya cuma langsung maen —  mulai masak–dst.dst.  Ada kesempatan di sore hari saat anak tidur (tapi saya trlalu menunggu waktu yang sempurna, dimana ada segelas teh hijau Kepala Jenggot di sebelah saya, kue kering, rumah yang sudah beres, dan waktu tenang yang lama bagi saya untuk memulai kembali menulis). Dan, here it is, 3 years old dan waktu trnyata berjalan cepat sekali, dan tidak ada waktu yang benar-benar sempurna. Sangat sering saya merasa ga bisa cukup waktu untuk membuka komputer dan mulai menulis di blog ini,  seperti saya merasa dalam 3 tahun ini juga ga mulai-mulai olahraga atau yoga di rumah dengan teratur. lalu saya coba mengingat, masa sih saya ga pernah nulis2 lagi selama 3 tahun belakangan? dan trnyata tulis-tulisan saya ada, hanya saja cuma mampir di draft .. jumlahnya 13…dan ga selesai. How randomly myself and my thoughts, and my life.  So,. saya pikir, jika hari ini saya memulainya kembali dengan lebih ber ITIKAD untuk one post at one time, NOW, dan ber tenggat waktu, saya pikir akan lebih sukses.

Oh ya, pernah menonton film Julie & Julia? saya terinspirasi untuk kembali menulis blog karena Julia Powell memulai menulis blog dengan tenggat waktu tentang sesuatu–write for something in her life, write to helping herself. And i started curious about ADD (Attention Deficit Disorder) yang disebutkan dirinya dalam dialog–yang kesulitan menyelesaikan apa yang sudah dia mulai, karena seringkali menunggu semuanya SEMPURNA, yang kesulitan dalam mengerjakan household chores, dan sebagainya–dari ciri-ciri itu, saya bisa bilang “ITU SAYA BANGET”. Apakah itu benar beberapa ciri ADD person? i really want to know more about ADD too.

it feels good to start writing again, you know, to write your thoughts at one time, dan memulai merefleksikan diri lagi. Di dalam film, Julie Powell memberikan tenggat waktu baginya untuk memulis blog tentang  bagaimana dia mencoba resep-resep dari Buku pemasak Julia Child selama 365 hari dengan 524 resep. Kalau saya, akan mencoba kembali menulis about my life, kejadian sehari-hari yang saya alami, dan pikiran-pikiran saya–juga melawan keinginan untuk menunggu timing yang perfect–karena timing yang perfect itu buat saya tidak pernah ada kalau kita ga mencoba menciptakannya.

 

{Kembali} ke Titik Awal bersama.

Pernah kudengar seseorang mengatakan, bahwa kehamilan mengubah hidup kita sebagai seorang wanita.
Dan sekarang aku diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk merasakannya sendiri.
Ya benar, rasanya sungguh merupakan pengalaman yang mengubah hidupku.

Seperti halnya pernikahan yang telah kujalani dua tahun bersama suamiku, dimana aku merasakan seperti masuk ke ruang kelas kehidupan yang baru : kini aku kini tengah mempersiapkan diri menjadi seorang Ibu; sebuah pengalaman baru yang sangat menakjubkan!

Menjadi Ibu bagiku rasanya belajar menjadi superhero yang harus melepaskan ego kita dan (segera akan) belajar untuk merawat anak yang Tuhan percayakan pada kita, yang begitu tergantung dengan kita.

Seperti start dari nol kembali rasanya. Anehnya, hidupku malah lebih mantap menapak, seperti punya tujuan baru. Aku dan dia, sama-sama dari awal. aku dari awal menjadi seorang Ibu, dan dia mengarungi awal kehidupannya di bumi. : ) Terima kasih Tuhan untuk karuniaMu.

Aku begitu mensyukuri pengalaman hidupku saat ini.

Kini usia kehamilanku beranjak menuju ke 38 minggu. 2-3 minggu lagi, anak kami akan lahir.
Oh Tuhan, aku akan jadi Ibu!

Kusiapkan perlahan perlengkapan bayiku sejak usia kandunganku lepas dari 28 minggu. Tak sabar kami menantinya hadir. Aku bersyukur punya suami yang begitu supportif dan menyayangiku. Begitu juga dengan orang tua dan keluarga kami.

Anakku, mama papa tak sabar menantimu sayang : )

Mengapa “follow your passion” adalah saran yang menyesatkan

Mengapa “follow your passion” adalah saran yang menyesatkan.

Rebloging from Paramita Mohamad blog.

Lagi, dan lagi, sebuah artikel yang bagus dari Paramita Mohamad (yang sebenarnya telah saya temukan sebelum menemukan tulisan Cal Newport mengenai Passion). Enjoy reading it again and again, while i re-thinking and concerned about my truest calling of life, pursuit of happiness, and purpose of my life.

Enjoy it.