Pepes Ikan dan Pembelajaran kami di Sekolah

Saya mengalami yang namanya… Kegalauan mau masak apa dalam sehari- hari,

Yang saya pikir solusinya adalah membuat perencanaan yang cukup matang namun sederhana untuk membuat menu dalam seminggu.

Tapi di dalam menjalaninya, saya punya kelemahan dalam mengeksekusi secara runut, teratur, untuk memasak sehari- hari dengan sukses. I thought that this is one sign that relates to ADHD syndrome. Saya perlu mencari tahu lebih banyak lagi soal ini.

So, hari ini saya pikir saya mencoba merecord perasaan saya. Saya menamakan ini sebagai ‘perasaan bingung dan lelah dalam memasak yang kreatif dan efektif’.

Tapi hari ini saya mencoba melawan kebingungan saya dengan mengeksekusi masak pepes ikan, resep baru yang selama ini belum pernah saya lakukan seumur hidup hehe. Perasaan bangga hadir di hati sejak saya mengambil daun pisang di ksbun dekat tetangga. Haha funny isn’t it? Belum pernah karena sejak kecil saya belum pernah diajari masak oleh mama saya. Oleh karena itulah saya merasa anak saya harus suka memasak dari hatinya sejak dini. Karena dalam memasak dia pun belajar menggunakan inderanya, mengeksekusi dengan berani bahan-bahan masakan yang ada… Dan punya tujuan akhir : menghasilkan masakan yang enak dan sehat tentunya!

Jadi saya pikir, saya belajar membuat perbedaan juga bagi diri saya dan dirinya.

Anyway, 3 minggu sudah Joslynn dan kami orang tuanya memiliki ritme baru, bersekolah. Saya pikir yang belajar ya orang tuanya juga, karena akhirnya juga melihat pengalaman orang tua dan anak-anak lain, menjalin relasi dan ngobrol sama orang tua lain. Saya pribadi bersyukur buat pengalaman ini, karena kalau saya bersikeras mau me’nahan’ anak untuk smpai tahun depan untuk Bersekolah langsung di TK saja.. Ya.. Saya me’nunda’ juga pengalaman ini untuk tahun depan mungkin.

Bagi Joslynn, saya berharap ini juga mengawali pembelajarannya akan kedisiplinan bersama ‘orang lain’ bukan melulu dia tahu hanya Ibu Bapaknya saja di rumah, tapi dia sekarang kenal sosok Ibu Guru, dan teman-temannya sepantar. Saya pikir, ini juga modal yang baik nanti untuk masuk ke dunia belajar lebih serius, asal saya dan papanya juga serius konsisten menerapkan yang sama dengan yang di sekolah sudah terapkan.

Dari beberapa hari di awal, Joslynn masih menangis takut ditinggal, sampai sekarang sudah melambaikan tangan pada orang tuanya sambil senyum– dari dorongan kami untuknya bisa mandiri dan melepaskan pampers sampai sekarang– buat kami proses sekolah ini proses belajar buat kami bersama.

semoga hal ini bisa berlangsung terus sampai ia belajar ketingkat yang lebih tinggi.

Semoga kami sebagai orang tuanya boleh senantiasa diberikan jalan dan kebahagiaan untuk mendampinginya belajar.

Semoga anak kami boleh senantiasa bahagia untuk mempelajari banyak hal baru dalam hidup.

Amin.

Advertisements

Learning Together

Well, hari ini adalah hari ke 6 nya belajar potty training, hari ke 3 nya ber sekolah di Kelompok Bermain, sekaligus mama ingin bilang, hari kelulusan dia dengan SUNGGUH TENANG PIPIS DAN POOP DI KAMAR MANDI dan belajar lebih mandiri! Uhuy! Tadi sore saat Joslynn mandi, mama mengucapkan secara resmi selamat atas keberhasilannya mempelajari sesuatu yang besar dengan sabar dan berani! Ya! Melepas pampers mungkin bagi anak lain merupakan sesuatu yang mudah.. Tapi bagi kami.. Well.. It’s not really that scary but little bit complicated lho hehee..
Beberapa tips yang bisa saya bagi disini adalah :
1. Saya kira tipe anak-anak dalam menyikapi belajar hal baru pasti berbeda. Nah, belajar melepas poop dan pipis scara natural di kamar mandi itu butuh proses dan melibatkan seluruh sensorik si anak. Kebetulan Joslynn sama dengan mamanya dulu, aktivitas di kamar mandi itu buat dia takut dan maybe jijikan, jadi ga bisa tuh, kita membujuknya untuk berpikir ‘make it simpel saja dong Cin, itu kan cuma ngebuang poop dan pipis mu di wc’ seperti orang dewasa. Joslynn sebenarnya mulai excited melihat mama papanya poop dan pipis.. Tapi kalau dia diajak mulai, sudah takut duluan. Akhirnya memang setelah mama papanya komitmen untuk tak mundur lagi (dulu setelah dia nangis kejer mama ga tega takut dia trauma jadi usaha training gagal dan balik k pampers lagi..) dan dengan doa dan harapan baik, kami bertekad terus maju meski anaknya memberontak di awal.
2. Buat Joslynn, reward system actually works. Dengan sistem stiker, ketegangan teramat sangat dari kegiatan melepas pipis dan poop lumayan terobati. Ada yang ia ‘dapat’ kan saat mencoba berani melewati rasa takutnya. Kini dia sudah fasih melepas celana smpai ke lutut nya, pipis di kamar mandi dengan minim bantuan mamanya, dan poop sudah bisa dilepas dengan reflek yang baik, meski masih di pispot di depan kamar mandi. We’re grateful for this huge progress and actually, her dad and i kinda felt so relieve like a post-partum 😂 hehe.. Masih ada accident ngompol d bed dan lantai, nge plis poop di celana aja, tapi saya sudah bisa lebih santai, senyum, dan mengarahkannya dengan lebih sabar.
3. Ini poin 3 tapi sepertinya ini yang terpenting. Perjuangan ini perlu diawali dengan mama dan papa yang harus kompak dan bertujuan sama :mendukungnya mandiri. Tunjukkan rasa sayang kita sbagai papa dan mamanya yang nyata, seperti memeluk dan menemaninya selalu dengan sabar sambil tersenyum, ber impact skali lho. Her dad and i were showing our impatience and easily getting frustrate in the begining, but at the end, we completely loose and giving her trust to start on her own time, keep pushing her by giving encouragement, but be gentle. Trnyata berhasil! Kami bersyukur karena sebenarnya kami pun diubahkan dalam hal ini. Dan, kepercayaan kita berbuah kepercayaan diri anak yang bikin dia yakin dan mampu bisa melakukannya. Semoga ini jadi catatan dan smangat untuk terus menerus melakukannya smpai nanti.
4. Sepertinya memang mama papa harus di encourage juga dari ‘luar’. Di hari pertama KB, kami masih bingung karena Joslynn masih ber pampers. Di kelasnya, beberapa anak masih mengenakan pampers. Tapi di kelas KB 2, kami melihat beberapa anak sudah berhasil melepasnya. So, ini jadi urgensi juga untuk semangat dan jadi momen ‘kapan lagi’ kami bisa menyemangatinya juga untuk berhasil? Meski ada omongan ‘kan ga mungkin anakmu smpai kuliah masih pakai pampers’.. Tapi ya leih baik kan kalau kita coba pas lebih dini? Mama sudah pernah nyoba pas dia sudah bisa duduk sebenarnya, mungkin waktu itu dia 1.5 atau 2 tahun.. Tapi ada accident yang sepertinya bikin dia trauma brkegiatan poop di toilet, dan karena anaknya nangis, jadi balik lagi pakai pampers. Anyway, anak itu hakikatnya akan mengetes ‘pagar’ yang ortunya buat. Kalau kemarin kita luluh krn tangisan yg dia buat utk mengembalikan dia memakai pampers… Ya kali ini senjatanya ya sama…jadi, Keep trying and dont give up!
5. Sebanyak apapun tips, yang pasti semuanya kembali ke individu ortu dan anak masing-masing.. Yang jelas, saya ingin sharing bahwa ada bawaan dari saya juga pingin nyerah lagi di awal, ‘apa ini blum waktunya ya’.. Apa saya musti pakaikan lagi? Tapi…. Setelah melihat kepercayaan dirinya sekarang, saya tak menyesal saya memulainya dengan nekat sambil berdoa dan bertekad smua untuk kemandirian dan kemajuannya.

Well, sudah dulu deh sharingnya. Besok pengen crita lagi soal Joslynn ber sekolah di KB. Ada crita atau sharing yang mau dibagi? We would love to hear it 🙂

Being a Parent : Beyond Yourself

Sudah 2 hari ini saya mem potty train Joslynn. Yap, sudah 3 tahun 3 bulan, dan dia masih terus ketergantungan pampers. Saya pernah coba di waktu ia masih mungkin 2 tahun, dia sudah menolak untuk poop di toilet, marah, nangis kencang, pernah poop di lantai dan sepertinya itu membuatnya cukup histeris dan trauma. Kami sudah membelikannya bantalan kloset, membacakan buku potty train yang masih jadi favoritnya, mengajaknya tiap kami sendiri pipis dan poop, dan sebagainya, namun saat diajak untuk mencoba, ia tetap tegang. Saya masih berupaya menyuruhnya untuk tidak tegang dan melepaskannya saja, sambil bertanya-tanya, apa ada bujukan yang lebih efektif dan membuatnya berani. 2 hari ini, saya merasa sudah mendapatkan kepercayaannya kembali. Saya pikir, meski papanya sempat bilang ‘pelan-pelan’ saja, ini tak akan berhasil jika tidak ‘perih’ dulu proses awalnya. Karena yang ada saya mundur lagi, kalau anak mulai histeris ga mau dan menolak, saya, juga suami, sambil mengelus dada, mencoba menutup kekhawatiran saya ‘nanti ada saatnya dia akan malu sndiri pakai pampers dan mau lepas’ juga kalimat yang saya pernah baca ‘ga mungkin anak Anda akan pakai pampers smpai kuliah nanti’.. dan memakaikan si pampers kembali. Di dua hari ini, perih dan frustasi rasanya, mendengar teriakan dan penolakan dia. Ada saja penolakannya, takut jeblos, takut ditinggal, takut mama marah, dan sebagainya. Tapi saya niatkan untuk tidak mundur lagi. Saya tahu ini sdh berlangsung sedemikian lama, dan anak hanya mau berusaha memastikan, sampai sejauh mana kali ini ‘pagar’ yang mama papanya buat. Ya, pagar yang dulu di’pasang’tak cukup kuat, dan malah itu membuat dia juga tidak akan aman nantinya karena dia tidak mampu mandiri. Saya coba sabar kembali. Saya cerita soal pengalaman poop saya dulu. Hari ini dia sukses 2 kali pipis d kamar mandi, krn DIA TAK MAMPU MENAHAN PIPISnya lagi. Ya, memang dirinya masih saja menangis dan fokus untuk menolak smpai ia tak bisa tahan lagi. Tapi saya memahami, karena biasanya kalau ditolak bgitu saya akan langsung ‘kasihan’ dan balik pakaikan pampers lagi, sehingga ia pakai cara serupa untuk menggagalkan proses ini. Saya berharap Tuhan bantu supaya anak ini jauh dari infeksi akibat keinginan menahan pipis dan poop yang lebih besar ktimbang mau mencoba. Saya arahkan dia untuk ‘mau mencoba belajar’ dan ‘tidak takut mencoba’ karena saya lihat dia takut mencoba trlebih dahulu. Saat saya menulis ini, saya habis berganti baju karena Joslynn baru saja nangis, kemudian saya raba kalau celananya sdikit basah, saat saya coba peluk untuk menenangkannya dia meminta saya menggendongnya berdiri dan kmudian mengucur deraslah pipisnya. Sampai sekarang alasan yang ia utarakan sama, takut jeblos. Anyway, sebenarnya saya sndiri dulu punya rasa jijik trhadap kegiatan poop dan sering accidentally (maaf) poop di celana saat usia TK atau awal SD saya agak lupa, karena menghindari untuk poop di toilet. Saya pikir, sebenarnya wajar dengan perasaan itu. Bahkan di 2 hari ini, saya mencoba mengalihkan fokusnya dengan sistem reward, dimana saya mengganti tiap kali dia berhasil pipis atau poop dengan stiker, supaya nanti setelah penuh, dia lulus, dan kami bisa jalan-jalan ke puncak, sesuatu yang saya lihat ia suka. Saya akan coba hal ini untuk membuat mood saya pun kembali jika mulai lemas hilang cara dan mengajaknya kembali semangat dan fokus.

Yang pasti, saya tidak mau menyerah dan kembali ke titik awal kemarin. Saya melihat banyak kisah sukses dan mulus para orang tua membujuk anaknya utk potty train dan menciptakan ‘efek positif’ dan ‘menyenangkan’… Namun, jika memang pendekatan untuk Joslynn sdikit brbeda untuk mengajaknya menghadapi rasa takutnya, saya akan coba terus. Dalam hal ini.. Saya mencoba belajar untuk terus konsisten, mendampinginya dengan sabar, berusaha memposisikan diri saya di posisi nya, dan selalu bersemangat, dan tanpa disadari, sayapun belajar untuk tidak mudah menyerah.. Penundaan mengajaknya belajar sampai saat ini juga membuat saya sadar, bahwa saya yang belum memiliki ketegasan diri, keragu-raguan dan keengganan untuk mencoba hal baru juga saya ‘turunkan’ padanya. Untuk itu saya perlu belajar merubah diri juga.

Do you want to share your story maybe? Or, maybe give some other good tips for us? I would love to hear. Thank you.

Confession.

Menyenderkan tubuh sejenak di malam hari selepas anak dan suami tertidur, sambil membaca kembali beberapa halaman buku parenting, lalu acak melihat internet dan mencari pilihan sekolah yang cocok untuk anak, lalu coba merenungkan pencapaian apa yang anakku saat ini–lemah dan lebihnya, juga diriku sendiri sebagai mama.

3 tahun lebih 3 bulan, saya menjadi ibunya. Saya sadar akan beberapa kekurangan saya sampai titik ini :

  1. Saya terlampau khawatir akan perkembangan dan pengasuhan dirinya, terlalu banyak hal dan referensi yang saya cari, hingga saya sulit mencerna dan memutuskan dan percaya akan diri untuk mengasuh dengan gaya yang sesuai dengan kebutuhan diri anak saya. Banyak hal pro kontra yang kamu bisa dapatkan dari berbagai sumber : mulai dari orang tua sendiri, internet, peer kita, dokter anak, suami, tetangga —-tapi ini membuat saya merasa malah bisa menjadi potensi distraksi kamu untuk enjoy every moment dengan anakmu–serta menggunakan insting, feeling, dan rasa kasihmu sebagai Ibu bagi anakmu sendiri, untuk men decide mana yang tepat untuk anakmu. Dan ini membuat saya sadar, bahwa saya perlu lebih percaya pada insting dan hati saya sendiri, meskipun mendengarkan masukan lain juga perlu.
  2. I forget the most important thing : DONT try to be perfect mom, but remember to always try our best to be Her Real Mom every single day. Yang selalu passionate dan cheering her every little development, dirinya apa adanya. Buat pengalaman saya , jangan terlalu sibuk dengan masak dan urusan rumah saja, tapi mencoba cari cara untuk hadir bersamanya setiap hari.
  3. Saya cenderung memaksakan dan sibuk mencari “which method that suits to her” tapi lupa mempersiapkan diri saya sendiri sebagai pendampingnya.  Saya cukup yakin bahwa metode Montessori lah yang tepat untuk dirinya misalkan. Lalu saya mencoba mencari ini dan itu tentang bagaimana saya bisa menerapkan montessori dan mencoba mengembangkan kemandiriannya, lalu saya menemukan beberapa kendala : kadang apa yang kita bawakan kepadanya juga belum tepat saatnya, belum menarik minatnya. Kadang saya tidak mem follow up progress/ perkembangan dirinya dan menghargai prosesnya–malah terlalu sibuk dengan output ideal yang saya sendiri harapkan. Kadang saya hanya berharap “i wish this material would make her occupied or get busy so i could do anything else”. Kadang saya menemukan penolakan dirinya. Kadang saya malah terlalu sibuk mencoba mencari ‘materi’ dengan surfing di internet dan berakhir pada kesibukan untuk membandingkan pencapaian anak lain dengan anak sendiri. That’s ONE BIG SILLY THING : for being unfocus most of the time. Dan..nyatanya saya lupa untuk mempersiapkan diri untuk lebih disiplin, tetatur, konsisten, dan sabar, serta menghormati setiap proses. Nyatanya sejak awal, saya mencoba mengajarkan berbagai hal sesuai pendekatan montessori, sometimes tanpa memahami periode sensitif dari anak saya, dan membawakannya tidak dengan konsisten dan sabar. So, bagaimana kamu bisa mengajar anakmu untuk bersikap sabar dan konsisten jika dirimu tidak melakukannya juga?  Saat ini saya merasa mandek dalam mencari cara — “finding my wayback to be her real and true mom for her”. Namun dalam menjalani peran kita menjadi Ibu dan mengasuh anak, saya tahu tidak bisa ada kata “break dulu” atau “resign”  kan? yang ada adalah bagaimana saya bawa hasil refleksi ini sebagai semangat untuk memulai langkah dan gaya baru yang lebih baik untuk mengubah diri lebih dahulu sebelum dapat mendampingi dan mengasuh anak saya dengan lebih baik lagi.

So, dalam beberapa hari ke depan, rencana mengenai diri saya yang ingin saya jalankan adalah :

  1. Lebih konsisten dalam merawat diri saya sendiri : berdoa, lari, yoga, makan, menulis dengan lebih teratur dan nyata selama 21 hari kedepan. Saya  berharap ini menjadi langkah awal untuk bisa jadi better mama.
  2. Lebih banyak tersenyum dan bersyukur.
  3. Realitis dan terukur dalam membuat rencana.

Mungkin kalau dibaca 2  poin di atas kurang nyambung dengan problem yang ada di atas, tapi buat saya sebenarnya, justru saya lah yang perlu di revisi sebelum going back to the track untuk mengasuh anak. Anyway, ujung dari semua ini adalah tantangan bagi saya untuk belajar konsisten, tegas, dan merawat diri saya sendiri juga sebelum saya mengajarkan dan memberi contoh yang sama yang saya mau putri saya dapat lakukan. Let’s do and see.

Dear Myself

Dear myself,

You’ve been told maybe a thousand times, or more, that you cannot do something.

and you’ve done believe it.

You’ve been told that you are not pretty like the others, and you’ve done believe it.

You’ve been told that you’re not deserve to live, and you’ve done believe it in the past.

it is bad. But God has lead you to not live in it.

Dear myself,

it’s time now to let it go, and forgive the person, and yourself, for letting you believe that.

in fact, they are all cannot define you by what they have said.

and forgive yourself now, for letting you making some mistake, by passing some of the anger and doubt  to your daughter. You doesn’t mean it, it’s just rely on your self-unconscious state of mind, and now you  learn to change it. 

***

In this section of my life, i am learning to change the way i talk about something, about my life, and how my words run for my daughter. Some of the self-doubt, disappointment, and anger that I’ve been pushed way deeper recent years– need to be recognized, even i passed it to my daughter. But i know I CAN CHANGE IT.

So recently, i have read a great book about how Danish folks raising their children called “THE DANISH WAY OF PARENTING”. i tried some of their great tips, and you can learn it too. they have a great website too so we can learn more even though you doesn’t buy the book yet. But trust me, they have a great book to read! that’s one of the great 101 Parenting book nowadays. But this time, i want to share one of their great article that inspired me to start writing this.

Throughout our childhood we learn to use words and sentences to describe our outer and inner reality. The language we use allows us to form mental images and tales about our past, present, hopes and dreams of the future, and to tell others about our lives. We take in a limited number of facts, assumptions, events, moods and currents to us, as long as they make sense to us.
All of these stories and information will be an important part of our sense of identity. If we are exposed to many negatively charged impulses throughout our childhood, our self-image will often bear the mark of this.
Often we develop a “cannot-mentality” if that’s what we have been told throughout our childhood. While if the opposite is a reality, supportive and affirmative impulses give a stronger and less judgmental self-image, where an “I-can-do-it mentality” dominates. We just do not think about it.

As children, we rely on caring and loving adults around us. They help us to regulate and understand our feelings. The way we are spoken to is thus crucial for what self-image we develop.
Sentences like: “She is simply so stubborn and unruly” said to a 3-year-old with a negative and judgmental undertone, the child collects it and connects it to other times, she has received something similar in the same tone. These negative and defined identity stories about “being stubborn and unruly”, she takes into adulthood as a definition of her identity.

Our reality and understanding are created with the language we use. Therefore, all changes will require a change in the language.
Think about whether you speak to yourself or your children in a supportive or inhibitory way. Words like “he is so…” or “I am too…” Are generally negatively defining and stigmatizing phrases that only intend to suppress a positive and supportive self-image.
Reform, redefine or reframe. It’s about shifting the focus from what we think we cannot create an opening for possible change.

How reframing works
Research shows that the ability to reformulate a stressed situation, a family conflict, a negative employee situation or an unhappy hysterical child can change our overall satisfaction and self-image.
Instead of saying: “she can’t”, the same sentence may sound: “she is not there yet.” Or a sentence like: “She is so touchy” can be redefined to: “Be glad, she is so good at tuning in on her own and others’ feelings.”
It opens up for the feeling of being in motion and moving. Your mindset changes the focus from a belief from: “It is just the way it is-status quo feeling” to an: “It’s possible” or “I am sure it will be absolutely fine feeling”. Your state of mind changes with your words. It also goes for our children.

We develop when we believe that our hope and dreams can succeed. We also grow when others believe in us and give us confidence.
Once we master the ability to reformulate or redefine our inhibitory/definitive language usage, we must gather the positive stories in which we succeed. It’s not about eliminating negative events (that’s often misunderstood) – they all come true – it’s just about seeing the same subject in more shades than in just one color.

Iben Sandahl, Jessica Alexander. HOW YOU THINK AND WHAT YOU SAY IS CRUCIAL TO HOW YOU MANAGE LIFE.  June 29,2018.

 

***

Diriku terkasih,

Banyak yang mengatakan, bahkan mungkin seribu kali , bahwa dirimu tak dapat melakukan sesuatu, hingga kau telah mempercayainya di masa lalu.

Dikatakan bahwa kamu tidak cantik, rambutmu sulit diatur, kamu mempercayainya, badanmu tinggi dan besar, dan kamu tumbuh dengan kikuk, dan kamu telah menjalaninya di masa lalu.

Dikatakan bahwa kamu tidak pantas untuk hidup, dan kata-kata yang tidak pantas diucapkan kepadamu, dan kamu sempat terganggu dengan kata-kata itu di masa lalu– semuanya buruk– namun Tuhan telah memandumu untuk keluar dan hidup tidak lagi di dalamnya.

Diriku yang terkasih,

Saatnya untuk melepaskan semuanya, memaafkan semuanya, dan memaafkan dirimu yang telah membuat dirimu sendiri sempat percaya semua hal yang buruk.

Sesungguhnya, semua itu tidak dapat mendefinisikan dirimu yang sebenarnya.

Saatnya untuk memaafkan dirimu sendiri sekarang yang telah menurunkan beberapa rasa ragu, amarah dan kecewa pada diri putrimu. sesungguhnya itu ada dalam alam bawah sadarmu, dan kamu BISA MENGUBAHNYA.

***

Di titik ini saya mencoba belajar untuk mengubah bagaimana cara saya untuk mengatakan sesuatu, terutama dalam hal ini, bagaimana saya menghadapi hidup, mengatakan sesuatu pada diri saya sendiri, dan bagaimana saya berkata-kata pada anak perempuan saya. Banyak keraguan, kekecewaan, amarah, yang ada pada diri sendiri, ditekan dalam dan rindu untuk dikenal dan akhirnya meledak, bahkan malah saya tularkan pada anak saya. dan saya tahu saya MAMPU MENGUBAHNYA JADI LEBIH BAIK.

Sudah lama rasanya tidak  menulis dan berkata-kata pada diri sendiri. And I cannot wait to write more about my progress here.

WhatsApp Image 2018-07-03 at 20.55.24 (1)

 

 

Celoteh Kakak

Kamis, 28 Juni 2018. 15.53 sore.

anak tidur, jadi mama punya  sedikit waktu untuk menulis.

Kemarin setelah mandi, Joslynn bertanya pada mamanya, “mama sayang ga (sama Joslynn red.)?”

Mama kaget, biasanya yang nanya seperti itu adalah saya, “Joslynn sayang ga sama mama?”

“Sayang dong,” jawab saya sambil cari-cari bajunya di laci.

“Emang mama udah mau punya adek lagi?” tanyanya lagi.

Jeng jeng! how cute and smart her question is! saya tertawa dan bertanya, Joslynn kok nanya bgitu, siapa yang ajarin hayo?– saya curiga eyang opanya (siang tadi kami baru main ksana) — tapi saya mau jawabannya.. sambil ciumi dia yang tiduran di tempat tidur, saya katakan kepadanya “belum ada dedek bayi di perut mama, dan mama tetap sayang sama kamu Joslynn.. mau ada adek atau tidak,” “Trus kalau dedek bayi udah kluar perut mama gimana ?” tanyanya lagi. “ya.. kayak balon menggembung kan kalau diisi dedek bayi, selama 9 bulan, lama lho! dan setelah dedek bayi nanti lahir, perut mama awalnya ya menggantung kempes masih gede sdikit,” jawab saya. Sambil saya klitiki dan ciumi dia, saya tanya lagi, hayo siapa yang bilang mama mau punya adek lagi? “Eyang sama opa,” jawabnya. “bilangnya gimana/” tanya saya curious. “Hayoo,, Ocin mau punya adek ya?” dia tiruin cara eyangnya berbicara. hohoho. saya amini saja sebagai doa, karena memang saya tak pernah menunda untuk punya anak kembali. seperti saat saya mendoakan kehadiran Joslynn, saya belajar untuk berpasrah padaNya.

Oh ya, beberapa kali kalau ditanya, Joslynn nanti kalau mau punya adek, minta dipanggil apa? kakak atau cici? “Kakak”.. dan konsisten smpai sekarang.

Dan kalau ditanya, mau punya adek cowok atau cewek, dia bilang, mau cewek biar bisa pakai rok sama baju-baju Joslynn.. dan bisa main sama-sama, kan Joslynn cewek..” trus mau punya adek cowok. (Jadi 2 dong ya Cin?)

Dan dia udah ngerancang kalau tidur nanti di tempat tidur tingkat, adek di bawah, dianya diatas. kamar must be pink color. Diamini dan jadi tugas mama papamu ya sayang…

 

New Chapter : Being a Mother

 

In raising my children, I have lost my mind but i found my soul.

Beberapa hari belakangan di pikiran terbesit selalu quote yang pernah saya baca ini. Saya tidak hafal siapa pengarangnya. Namun saya mengiyakan gagasannya. Menjadi ibu membuatmu tidak lagi memikirkan hanya dirimu sendiri, dan sometimes kamu capek dan saya mencoba mengatakan pada diri sendiri kalau itu manusiawi. Hari ini saya memutuskan untuk mem publish tulisan ini, yang telah saya coba mulai 1 tahun yang lalu, tapi teronggok di draft, menunggu untuk diselesaikan.

Di beberapa tulisan yang terakhir, saya coba mengingat-ingat garis besar tulisan saya saja karena sedang malas saya membukanya, dalah kegalauan saya dalam mencari makna diri saya sendiri untuk hidup. Kini, saya telah berganti title, bukan lagi hanya jadi istri dan (dulu) pernah jadi seorang karyawan– kini saya menjadi seorang ibu dari anak perempuan berusia 3.3 tahun.  I really lost myself back then you know. Kini, saya seperti merasa ada urgensi untuk kembali menulis : saya ingin sekali membuat kenangan dan catatan akan apa yang telah dijalani saya selama menjadi seorang mama, catatan akan niatan, perubahan, dan progress yang saya dan anak jalani bersama. Karena ternyata benar, menjadi seorang Ibu itu seperti kehilangan “diri” sendiri namun sekaligus menemukan”jiwa” baru kita, bertumbuh bersama anak kita. Dan itu anugerah.  Suatu saat, ingin sekali bisa membukukan catatan ini. Someday.

***

Buat saya, menjadi seorang mama itu memunculkan ke sok tauan diri kamu akan ilmu yang kamu peroleh tentang pengasuhan anak, membawa niat dan harapanmu untuk mengasuh dan membesarkan anak yang lebih baik daripada pengasuhan yang kita rasakan dulu,  sekaligus keraguanmu saat ternyata result nya kok ga sesuai dengan yang diharap, serta kekhawatiranmu akan banyak hal yang belum pasti terjadi (tapi mama mana coba yang ga pernah khawatir soal anaknya?). Saya pernah berantem sama mama saya terkait anak saat newborn hingga kami sempat tidak berkomunikasi beberapa lama.  Saya juga pernah merasa sangat-sangat tidak cocok dengan mama mertua untuk mengasuh anak saya. Sejak awal mengasuh anak, saya perlahan menyadari, bahwa saya memang tipe pengkhawatir, rajin mencari ilmu merawat anak,  parenting dan sbagainya, namun lemah dalam mengambil keputusan dengan percaya diri : cara mana yang musti saya adopsi? apa back up plan nya jika yang ini gagal?  dan bagaimana saya bisa bersikap firm baik sama diri sndiri maupun terhadap anak, hingga lingkungan sekitar. Beberapa hal yang saya juga temukan adalah :

  1. Bahwa saya dan anak saya sebenarnya sama-sama keras kepala dan susah dibilangin.
  2. Bahwa saya mengulang “siklus” pola asuh yang saya terima dulu, bahkan yang saya rasa itu buruk untuk diteruskan. especially kemarahan dan regulasi emosi saya.
  3. Bahwa anak saya banyak “serupa” dengan saya di banyak hal.

Di akhir hari, saya sering berefleksi bahwa “urusan” saya yang belum selesai, yaitu “tugas perkembangan dan kematangan emosi” saya pribadi– berefek juga akan ketenangan dan kematangan pribadi dalam menjadi seorang ibu.

Menurut saya, hal terutama yang kini perlu saya selesaikan dan bisa jadi tips untuk yang berencana untuk menikah dan atau memilik anak : selesaikan dulu persoalan mu dengan pribadimu : kemarahan dan luka akan masa lalu, kecenderungan untuk membandingkan diri dengan yang lain, serta luka-luka lainnya, persoalan lain mungkin akan terungkit saat mengasuh anak. Beberapa hal yang saya coba akan bahas di tulisan saya selanjutnya.