Dear Myself

Dear myself,

You’ve been told maybe a thousand times, or more, that you cannot do something.

and you’ve done believe it.

You’ve been told that you are not pretty like the others, and you’ve done believe it.

You’ve been told that you’re not deserve to live, and you’ve done believe it in the past.

it is bad. But God has lead you to not live in it.

Dear myself,

it’s time now to let it go, and forgive the person, and yourself, for letting you believe that.

in fact, they are all cannot define you by what they have said.

and forgive yourself now, for letting you making some mistake, by passing some of the anger and doubt  to your daughter. You doesn’t mean it, it’s just rely on your self-unconscious state of mind, and now you  learn to change it. 

***

In this section of my life, i am learning to change the way i talk about something, about my life, and how my words run for my daughter. Some of the self-doubt, disappointment, and anger that I’ve been pushed way deeper recent years– need to be recognized, even i passed it to my daughter. But i know I CAN CHANGE IT.

So recently, i have read a great book about how Danish folks raising their children called “THE DANISH WAY OF PARENTING”. i tried some of their great tips, and you can learn it too. they have a great website too so we can learn more even though you doesn’t buy the book yet. But trust me, they have a great book to read! that’s one of the great 101 Parenting book nowadays. But this time, i want to share one of their great article that inspired me to start writing this.

Throughout our childhood we learn to use words and sentences to describe our outer and inner reality. The language we use allows us to form mental images and tales about our past, present, hopes and dreams of the future, and to tell others about our lives. We take in a limited number of facts, assumptions, events, moods and currents to us, as long as they make sense to us.
All of these stories and information will be an important part of our sense of identity. If we are exposed to many negatively charged impulses throughout our childhood, our self-image will often bear the mark of this.
Often we develop a “cannot-mentality” if that’s what we have been told throughout our childhood. While if the opposite is a reality, supportive and affirmative impulses give a stronger and less judgmental self-image, where an “I-can-do-it mentality” dominates. We just do not think about it.

As children, we rely on caring and loving adults around us. They help us to regulate and understand our feelings. The way we are spoken to is thus crucial for what self-image we develop.
Sentences like: “She is simply so stubborn and unruly” said to a 3-year-old with a negative and judgmental undertone, the child collects it and connects it to other times, she has received something similar in the same tone. These negative and defined identity stories about “being stubborn and unruly”, she takes into adulthood as a definition of her identity.

Our reality and understanding are created with the language we use. Therefore, all changes will require a change in the language.
Think about whether you speak to yourself or your children in a supportive or inhibitory way. Words like “he is so…” or “I am too…” Are generally negatively defining and stigmatizing phrases that only intend to suppress a positive and supportive self-image.
Reform, redefine or reframe. It’s about shifting the focus from what we think we cannot create an opening for possible change.

How reframing works
Research shows that the ability to reformulate a stressed situation, a family conflict, a negative employee situation or an unhappy hysterical child can change our overall satisfaction and self-image.
Instead of saying: “she can’t”, the same sentence may sound: “she is not there yet.” Or a sentence like: “She is so touchy” can be redefined to: “Be glad, she is so good at tuning in on her own and others’ feelings.”
It opens up for the feeling of being in motion and moving. Your mindset changes the focus from a belief from: “It is just the way it is-status quo feeling” to an: “It’s possible” or “I am sure it will be absolutely fine feeling”. Your state of mind changes with your words. It also goes for our children.

We develop when we believe that our hope and dreams can succeed. We also grow when others believe in us and give us confidence.
Once we master the ability to reformulate or redefine our inhibitory/definitive language usage, we must gather the positive stories in which we succeed. It’s not about eliminating negative events (that’s often misunderstood) – they all come true – it’s just about seeing the same subject in more shades than in just one color.

Iben Sandahl, Jessica Alexander. HOW YOU THINK AND WHAT YOU SAY IS CRUCIAL TO HOW YOU MANAGE LIFE.  June 29,2018.

 

***

Diriku terkasih,

Banyak yang mengatakan, bahkan mungkin seribu kali , bahwa dirimu tak dapat melakukan sesuatu, hingga kau telah mempercayainya di masa lalu.

Dikatakan bahwa kamu tidak cantik, rambutmu sulit diatur, kamu mempercayainya, badanmu tinggi dan besar, dan kamu tumbuh dengan kikuk, dan kamu telah menjalaninya di masa lalu.

Dikatakan bahwa kamu tidak pantas untuk hidup, dan kata-kata yang tidak pantas diucapkan kepadamu, dan kamu sempat terganggu dengan kata-kata itu di masa lalu– semuanya buruk– namun Tuhan telah memandumu untuk keluar dan hidup tidak lagi di dalamnya.

Diriku yang terkasih,

Saatnya untuk melepaskan semuanya, memaafkan semuanya, dan memaafkan dirimu yang telah membuat dirimu sendiri sempat percaya semua hal yang buruk.

Sesungguhnya, semua itu tidak dapat mendefinisikan dirimu yang sebenarnya.

Saatnya untuk memaafkan dirimu sendiri sekarang yang telah menurunkan beberapa rasa ragu, amarah dan kecewa pada diri putrimu. sesungguhnya itu ada dalam alam bawah sadarmu, dan kamu BISA MENGUBAHNYA.

***

Di titik ini saya mencoba belajar untuk mengubah bagaimana cara saya untuk mengatakan sesuatu, terutama dalam hal ini, bagaimana saya menghadapi hidup, mengatakan sesuatu pada diri saya sendiri, dan bagaimana saya berkata-kata pada anak perempuan saya. Banyak keraguan, kekecewaan, amarah, yang ada pada diri sendiri, ditekan dalam dan rindu untuk dikenal dan akhirnya meledak, bahkan malah saya tularkan pada anak saya. dan saya tahu saya MAMPU MENGUBAHNYA JADI LEBIH BAIK.

Sudah lama rasanya tidak  menulis dan berkata-kata pada diri sendiri. And I cannot wait to write more about my progress here.

WhatsApp Image 2018-07-03 at 20.55.24 (1)

 

 

Advertisements

Cinta kita.

aku bersyukur untuk cinta ini.

karena cintamu membuatku sungguh utuh.

kasihmu membantuku untuk berkembang.

cintamu nyata, sayang.

 

cinta kita bukan berpijak dari kesempurnaan,

tapi dari penerimaan terhadap masa yang telah lalu.

kasih kita memupuk harapan baik di masa depan bersama.

tumbuh dalam hal yang sederhana,

cinta kita nyata, sayang.

 

aku tak takut akan hal apapun,

karena cinta kita begitu hangat, dan ini cintaNya untuk kita.

 

kamu menatap mataku lekat  malam ini.

dan aku tersipu malu.

kamu kecup keningku.

dan aku ingin kamu.

 

Oh Tuhan, sungguh kusyukuri rahmat cintaMu untuk kami.

05042011

 

:)

Oh Tuhan,

sepertinya aku menyukai  dia.

atau ini hanya perasaan nyaman dan hangat?

tapi ini indah,

dan aku suka.

rasa ini dariMu, terima kasih Tuhan  : )

 

02032011

 

 

# Cinta itu selalu mendengarkan

Keeping the dialogue alive

Rabbi Iaakov’s wife was always looking for an excuse to argue with her husband. Iaakov never reacted to her provocations.
Until one night when, during a dinner with some friends, the rabbi had a ferocious argument with his wife to the surprise of all at the table.
“What happened?” they asked. “Why did you break your habit of never answering?”

“Because I realized that what bothered my wife the most was the fact that I remained silent. Acting in this way, I remained far from her emotions. My reaction was an act of love: now she understands that I hear her words.”

Paulo Coelho’s Blog, 10 SEC Read :  Dialogue

Aku belajar sesuatu dari papaku. Saat mengahadapi mamaku yang marah, ia hanya diam saja. kadang aku bingung, kok bisa ya, ia tahan seperti itu, kok bisa ia ga melawan. sisi positif yang bisa kuambil adalah, berdiam diri itu (Dalam pengertian dan porsi yang tepat) adalah emas. Berdiam disini lebih digambarkan sebagai wujud kesabaran (meski katanya, kesabaran orang itu ada batasnya). Berdiam disini kurasa bukan berarti acuh, namun bagian dari upaya bagaimana kita mencoba mengerti (memahami) apa yang sedang terjadi. Bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar; namun menyadari kesalahan dari diri, sulutan kemarahan, pribadi partner yang sedang emosional itu; dan sadar bahwa sebenarnya marah ini adalah bentuk emosi yang wajar, bisa dikendalikan.

Seperti kisah yang diungkapkan Coelho diatas, papaku juga pernah akhirnya ikut marah dan tersulut emosinya. inilah yang juga aku pelajari, bahwa manusia tidaklah pernah sempurna. Dan pertengkaran itu semakin menjadi. Aku pernah menjadi bagian dari hal itu juga. Aku membiarkan diriku ikut marah dan menyangkal. Tapi ikut-ikutan marah atau terlibat dalam pertengkaran tidak pernah menyelesaikan masalah. Ketika membiarkan diri kita tersulut marah, kita tak pernah bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. kita terus menumpukkan ‘bara’ di hati dan kepala kita masing-masing.

Namun kita juga bisa belajar. Ada masanya aku mencoba mengingat diri, dan melatih diriku untuk mengendalikan egoku. Di saat itulah, aku merasakan damai di hati yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku berusaha mengingat think out of the box; yang biasa digunakan oleh orang-orang dalam proses kreatif. aku merasa ini juga bagian dari proses kreatif kita sebagai manusia, dimana kita diberi kemampuan oleh Sang Pencipta untuk dapat seolah me-freeze-kan waktu dan emosi sesaat kita saat terlibat dalam suatu hal sulit. Berusaha melihat secara lebih makro dan keseluruhan, bahwa kemarahan, emosi negatif, juga memahami setiap porsi kesalahan yang diriku-dirinya-kita bersama buat dalam masalah ini. Menyadari diri kita sepenuhnya, dan belajar membuat  solusi yang tepat  dalam setiap masalah.

Di saat itulah, aku sadar, hanya berpasrah  ke Tuhan, Yang Maha Pengasih dan Penyabar, kita bisa menghadapinya. Aku pribadi merasa diingatkan, bahwa Sang Kuasa memiliki kesabaran dan kasih yang luar biasa bagiku dan bagimu, atas segala tingkah laku kita, yang seringkali buruk. Dan masing-masing dari kita diharapkan belajar, untuk tidak membalas segala sesuatu yang buruk dengan hal buruk juga, namun dengan kasihNya, yang selalu menjadi kontroversi–“aku disakiti, kok diminta mengasihi?”  namun juga selalu menjadi jawaban akhir dari kebesaranNya dalam hidup kita.

Saat aku berdiam diri ketika berkonfrontasi dengan orang yang marah atau menunjukkan emosi negatifnya kepadaku, aku sedemikian rupa bisa memahami porsi kesalahanku, baik versiku, maupun versinya. memahami pikirannya terhadap tingkah lakuku yang menyulutnya untuk marah.

Seketika itupula aku jauh lebih kuat dan damai, meski di luar badai masih mengamuk. Masalah masih tetap ada, namun  hati dan kepala tetap dingin untuk melihat segalanya lebih jelas. Dan aku selalu mencoba mengajaknya berbicara, setelah aku meyakini diriku sudahlah mendingin dan kuat, juga ‘badai’ dalam dirinya mulai mereda. Peace is not the absence of the war, but how you deal with it. Wise people ever said that, and i believe it. Meski masih jatuh bangun, pengalaman dealing with hard people,  buatku, menjadi pengalaman dealing with myself dalam mengolah emosi diri dan mengendalikan diri sendiri–yang begitu berharga buatku. Aku belajar mendengarkan segala kritik, mengenal tipe emosi dan belajar menghadapinya,  belajar menempatkan diriku dari sisi orang lain; dan banyak hal indah lainnya yang membuatku berpikir : tidak ada yang salah dengan setiap hal yang kukira tadinya masalah.

Aku terberkati dari setiap suka dan duka hidupku, dari setiap masalah dan pencapaian dalam hidupku, apapun itu.

The most important thing is, aku semakin tahu bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap masalah yang kita hadapi, dan membantu kita berjalan melaluinya; dengan cara yang begitu indah.

 

# Cinta itu selalu mendengarkan.

on the living room, 12.14 pm.

this image is taken from Paulo Coelho’s Blog. check his another  beautiful pieces on http://www.paulocoelhoblog.com

 

galau

mencari-cari dalam kotak hati

mutiara yang seharusnya memancar terang

terlalu lama mencarinya di luar

berharap masih memiliki kesempatan yang baik

menemukannya sebelum senja menjelang

berharap senantiasa dapat memberi yang baik

bagi yang lain

 

seperti anak burung ingin segera lepas sarang

berharap orang tuanya tak lagi khawatir dan bersedih

iapun belajar ingin mempercayai dirinya lebih

menikmati luasnya hidup di angkasa luas tanpa takut

karena Sang Pencipta melindungi

 

20 desember 2010.

 

 

hei Angel :)

I’ve got an angel, She doesn’t wear any wings.

She wears a heart that can melt my own
She wears a smile that can make me wanna sing
She gives me presents
With her presence alone
She gives me everything I could wish for

 

 

 

She gives me kisses on the lips just for coming home

She could make angels
I’ve seen it with my own eyes
You gotta be careful when you’ve got good love
Cause the angels will just keep on multiplying

But you’re so busy changing the world
Just one smile can change all of mine
We share the same soul. 🙂

play : Jack Johnson “Angel”. this is a lovely song for me 🙂

Blessed Day, November 12, 2010.

*) this illustration was taken from Google Images, 2010.

ApakahOma sudah pulang?

Hari ini aku membiarkan diriku duduk di kursi paling belakang, karena teman-teman yang biasa kukenal belum hadir. Aku melihat sosok Oma yang biasa dikenal oleh teman-teman yang lain begitu penuh semangat, melihat keterbatasan gerak yang ia alami karena harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Sosoknya kecil dan rapuh. Ia bercerita disampingku hari ini tentang betapa baiknya Tuhan karena ketiga anaknya, yang kini sudah berkeluarga dan tinggal jauh darinya—dapat ia besarkan sendirian tanpa pendampingnya yang lebih memilih menikah lagi. Ia bercerita tentang kegiatan dan semangatnya melayani para penderita kusta di Sitanala hingga tua umurnya, betapa Tuhan lah yang ia layani seumur hidupnya. Berkali-kali saat teman-teman yang mulai berdatangan menyapa dan memberikannya tangan untuk dijabat, ia menolak untuk bersalaman, tanpa kutahu mengapa. Ia tidak menyombongkan diri, ia selalu merendah dengan mengatakan dirinya jelek, tua katanya. Aku tak pernah merasakan memiliki ataupun berjumpa langsung dengan oma yang begitu semangat bercerita, dan di sisa hidupnya, begitu semangat mengikuti kegiatan gereja sepertinya.

Apakah ia sudah pulang sekarang? Suara hatiku berteriak karena langkahku yang begitu salah.

Salah seorang teman yang selalu mengantarkannnya pulang kerumah dengan mobilnya pulang lebih dahulu hari ini. ia mungkin lupa soal oma, mungkin ada masalah mendadak di rumah. Sang oma takut pulang sendiri, padahal katanya, temannya itulah yang suka bilang, agar sang oma tak usah ragu datang, karena nanti dia akan mengantarnya pulang.

Ia bilang padaku, dan aku menatap matany yang penuh kerut. “Oma takut,yang” ia sepertinya kerap memanggil  semua orang dengan sebutan sayang. Ia bisa jalan sendiri menuju tangga waktu acara itu sudah selesai. Kemarin aku sempat membantunya, tidak memapahnya,namun mencoba berjalan lebih di depannya menuruni anak tangga, jika terjadi sesuatu yang buruk, aku berharap aku bisa mencegatnya di depan. Kali  ini suara di hatiku bilang, jika aku tak bisa mengantarnya, karena aku juga dijemput dengan notor, biarlah aku mencarikannya tumpangan. Tapi, suara itu tiba-tiba menghilang. Egois muncul, namun ia tampil elegan. ia tertutupi pernyataan yang lebih halus,

pasti oma bisa mendapatkan pengantar dari salah satu teman-teman yang ada di belakang sana.

Pasti ada kok.

Aku, menuju papaku yang sudah menungguku, pulang, dengan perasaan yang memarahiku yang bertindak setengah-setengah.

Aku percaya Tuhan memakai teman yang lain untuk menolong sang oma disana. But I missed that chance. Bukan membantu karena hanya kewajiban membantu yang tua, tapi suara dari dalam hatiku bagai berteriak. I just missed that chance. suara di hatiku terus menggedor aku, suaranya halus namun tegas. Iman, tanpa perbuatan, adalah mati.

Tuhan, ampunilah aku, padahal Kau pernah berjanji bahwa setiap orang yang mempunyai (semangat untuk berbuat), kepadanya akan diberi (kesempatan). tapi aku masih setengah-setengah.

Tuhan, ampunilah aku.

Apakah  oma sudah pulang?