I Started a (NO) Joke.

26 Juni 2018. Pukul 05 pagi.

Hari ini saya memutuskan kembali menulis. melihat tanggal postingan sebelumnya, 2015, berarti sudah 3 tahun lamanya. Rasanya kaku dan aneh untuk memulai kembali, tapi di pagi ini saya terbangun, dan dalam pikiran seperti meminta saya untuk tidak lagi menunda keinginan untuk menulis blog. Sometimes it was hard for me to wake up early, dan memfokuskan diri untuk langsung menulis. since i became a MOM, kalau bisa bangun pagi, pinginnya bisa langsung masak dan beresin smua. But let me tell you, kadang itu cuma angan, karena seringkali, saya bangun bareng anak, atau bisa pagi-pagi  tapi cuma anak sebentar kemudian bangun dan saya memulai semua : bikin sarapan –ngejar2 anak untuk sarapan krn fokusnya cuma langsung maen —  mulai masak–dst.dst.  Ada kesempatan di sore hari saat anak tidur (tapi saya trlalu menunggu waktu yang sempurna, dimana ada segelas teh hijau Kepala Jenggot di sebelah saya, kue kering, rumah yang sudah beres, dan waktu tenang yang lama bagi saya untuk memulai kembali menulis). Dan, here it is, 3 years old dan waktu trnyata berjalan cepat sekali, dan tidak ada waktu yang benar-benar sempurna. Sangat sering saya merasa ga bisa cukup waktu untuk membuka komputer dan mulai menulis di blog ini,  seperti saya merasa dalam 3 tahun ini juga ga mulai-mulai olahraga atau yoga di rumah dengan teratur. lalu saya coba mengingat, masa sih saya ga pernah nulis2 lagi selama 3 tahun belakangan? dan trnyata tulis-tulisan saya ada, hanya saja cuma mampir di draft .. jumlahnya 13…dan ga selesai. How randomly myself and my thoughts, and my life.  So,. saya pikir, jika hari ini saya memulainya kembali dengan lebih ber ITIKAD untuk one post at one time, NOW, dan ber tenggat waktu, saya pikir akan lebih sukses.

Oh ya, pernah menonton film Julie & Julia? saya terinspirasi untuk kembali menulis blog karena Julia Powell memulai menulis blog dengan tenggat waktu tentang sesuatu–write for something in her life, write to helping herself. And i started curious about ADD (Attention Deficit Disorder) yang disebutkan dirinya dalam dialog–yang kesulitan menyelesaikan apa yang sudah dia mulai, karena seringkali menunggu semuanya SEMPURNA, yang kesulitan dalam mengerjakan household chores, dan sebagainya–dari ciri-ciri itu, saya bisa bilang “ITU SAYA BANGET”. Apakah itu benar beberapa ciri ADD person? i really want to know more about ADD too.

it feels good to start writing again, you know, to write your thoughts at one time, dan memulai merefleksikan diri lagi. Di dalam film, Julie Powell memberikan tenggat waktu baginya untuk memulis blog tentang  bagaimana dia mencoba resep-resep dari Buku pemasak Julia Child selama 365 hari dengan 524 resep. Kalau saya, akan mencoba kembali menulis about my life, kejadian sehari-hari yang saya alami, dan pikiran-pikiran saya–juga melawan keinginan untuk menunggu timing yang perfect–karena timing yang perfect itu buat saya tidak pernah ada kalau kita ga mencoba menciptakannya.

 

Advertisements

eccitato!

Apakah kamu pernah merasakan, excited untuk menambah sesuatu dalam hidupmu, dalam hari-harimu, atau sekedar menambahkan tulisan dari dalam benakmu, seperti yang kulakukan saat ini?

 

hai Oktober!

Hai!

sudah Oktober 2011. saya kira, saya perlu melihat bagaimana saya menggunakan hari-hari saya hingga saat ini.

Ternyata, saya menemukan diri saya belum memperluas pola pikir dan bagaimana saya mengolah waktu saya dalam keseharian.

Saya banyak mengulur waktu dan menunda pekerjaan. saya rasa, saya banyak belajar dalam tahun ini, lewat pekerjaan yang saya jalani, lewat jalinan hubungan yang saya jalani dengan orang-orang terkasih, dengan diri saya sendiri, dan tentunya, dengan Yang Maha Kuasa. saya merasa tertegur dengan timbulnya kesulitan yang ternyata karena kebiasaan buruk saya : menunda-nunda!

Saya belum juga bisa menentukan prioritas saya dalam melakukan segala sesuatunya. saya membiarkan hidup saya berlalu tanpa membuat perencanaan dengan baik. hm. sepertinya tidaklah baik jika hal ini terus saja terjadi.

bisa saja, setelah ini saya memang masih menjalani hal yang sama. (toh seharusnya malam ini saya lebih baik tidur ketimbang menulis jurnal ini; karena besok saya harus masuk kerja). but i guess, this is worth it to write on my path. Dan ya, saya perlu untuk segera mengambil alih hidup saya sendiri dari kesemena-menaan dan nyeleneh nya saya dalam menjalaninya dengan begitu cuek. duh.

so, bagaimana sekarang? banyak hal tertunda yang saya lakukan dengan dalih ingin menunggu saat yang baik untuk melakukannya. tuh, saya sendiri sepertinya tahu solusinya. ya, kasus menunda yang sangat kronis ini saya pikir perlu untuk digerus sedikit demi sedikit; sebelum apa yang justru saya tahu saya inginkan begitu rupa menguap karena tertelan waktu yang terus berjalan.

dan saya bisa.

saya pasti bisa.

ijinkan saya untuk tetap mengucap syukur karena seberapapun saya jauh dariNya, Tuhan tetap memberikan begitu banyak rahmat bagiku untuk memulai segala sesuatu yang baru. untuk bersyukur, bahwa hidup saya tidak sebegitu runyam yang saya pikirkan. saya ikut doa rosario lingkungan mungkin hanya saat rumah saya kebagian waktu sebagai tempat doa para umat. malam ini, saya membuka buku renungan harian Doa Rosario Oktober dan menemukan gambar anak-anak busung lapar; dan mengingat dengan sangat jelas : aku selalu mengeluh hal yang tidak jelas tanpa membuka mata terhadap hal ini.

Saya marah-marah dengan mama saya, kadang cuek dengan papa, tanpa saya sadari bahwa berkat Tuhan terus tersedia ke rumah kami dan betapa aku bersyukur punya keluarga utuh dan penuh berkatNya.

Saya marah-marah terhadap kekasih saya, mengungkapkan kata-kata negatif tentang diri saya sendiri dan terus mempermasalahkan hal kecil. namun dia terus begitu sabar mendampingi saya dan membantu saya mendefinisikan apa yang saya lalui ini. dia berusaha membuktikan, dengan kelemahan dan hatinya, dia begitu mencintai saya, apa adanya.

Saya begitu bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan saya dengan kekasih hatiku.

 

Meski punya banyak lemah, saya juga kuat. meski saya lemah, saya terus dikuatkan dan diperbaharui.Terima kasih Tuhan.

 

Baik. selesai sudah tulisan ini untuk malam ini. saya bertekd melakukan satu hal baru yang tak kutunda lagi dalam hidupku.

sampai besok ya.

Selamat malam dunia.

 

 

 

Mengenal diriku sendiri.



Aku menemukan artikel ini dari website kesukaanku, Psychology Today. terima kasih karena teman lamaku dari sebuah komunitas penulis telah banyak memberikan link-link dari website ini juga; juga blog nya yang inspiratif.

tulisan di artikel ini membuatku mendorong diriku sendiri, untuk sejenak menekan tombol ‘pause’ dari rutinitas yang aku jalani dari hari ke hari. aku mencoba menyediakan waktu untukku sendiri untuk kembali mengenal diriku sendiri, hal-hal apa yang kurasakan dapat kutingkatkan (i think it’s better to called this is a blessing so we can continue shaping our life with uniqueness, make a better life to share, and helping people with this things) so, aku mencoba membagikannya untuk kamu disini.

Mistakes Introverts Make

We are all so very wonderful and yet–I’m sorry, but it must be said–we are not perfect. This blog has focused mostly on staking out turf in our culture for introverts, but now it’s time to consider some things related to our introversion that might be interfering with our relationships and accomplishments. Many or most of us have probably made some of these mistakes at one time or another. I certainly have.

Isolating: Sure, some people need more social interaction than others, but we all need some. Too much isolation is not healthy. I know it’s time to leave the house when I start feeling gloomy in my solitude, or like I’m getting weird. Weird is subjective, but when going to the supermarket feels like a major excursion, when I start worrying that I may have lost the ability to converse, when I get furious at  -strangers in my online social networks, I know it’s time to for face time. I call a friend, do lunch, attend a party…anything to get my social gears cranking again. It needn’t be anything deep and meaningful. Just a little something to reconnect me.

I will never leave you, You said.

My Lord God, I have no idea where I am going,

I do not see the road ahead of me.
I cannot know for certain where it will end.

Nor do I really know myself,
and the fact that I think I am following your will
does not mean that I am actually doing so.

But I believe that the desire to please you does in fact please you.
And I hope I have that desire in all that I am doing.

I hope that I will never do anything apart from that desire.
And I know that if I do this you will lead me by the right road,
though I may know nothing about it.

I will not fear, for you are ever with me,
and you will never leave me to face my perils alone.

 

by Paulo Coelho.

it’s lovely to share to you; since i started to pray like this way of surendering to Him =)

(Luke 1:38)

http://www.paulocoelhoblog.com

 

this beautiful image was taken from flicker : http://bit.ly/fbHPM5

# Cinta itu selalu mendengarkan

Keeping the dialogue alive

Rabbi Iaakov’s wife was always looking for an excuse to argue with her husband. Iaakov never reacted to her provocations.
Until one night when, during a dinner with some friends, the rabbi had a ferocious argument with his wife to the surprise of all at the table.
“What happened?” they asked. “Why did you break your habit of never answering?”

“Because I realized that what bothered my wife the most was the fact that I remained silent. Acting in this way, I remained far from her emotions. My reaction was an act of love: now she understands that I hear her words.”

Paulo Coelho’s Blog, 10 SEC Read :  Dialogue

Aku belajar sesuatu dari papaku. Saat mengahadapi mamaku yang marah, ia hanya diam saja. kadang aku bingung, kok bisa ya, ia tahan seperti itu, kok bisa ia ga melawan. sisi positif yang bisa kuambil adalah, berdiam diri itu (Dalam pengertian dan porsi yang tepat) adalah emas. Berdiam disini lebih digambarkan sebagai wujud kesabaran (meski katanya, kesabaran orang itu ada batasnya). Berdiam disini kurasa bukan berarti acuh, namun bagian dari upaya bagaimana kita mencoba mengerti (memahami) apa yang sedang terjadi. Bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar; namun menyadari kesalahan dari diri, sulutan kemarahan, pribadi partner yang sedang emosional itu; dan sadar bahwa sebenarnya marah ini adalah bentuk emosi yang wajar, bisa dikendalikan.

Seperti kisah yang diungkapkan Coelho diatas, papaku juga pernah akhirnya ikut marah dan tersulut emosinya. inilah yang juga aku pelajari, bahwa manusia tidaklah pernah sempurna. Dan pertengkaran itu semakin menjadi. Aku pernah menjadi bagian dari hal itu juga. Aku membiarkan diriku ikut marah dan menyangkal. Tapi ikut-ikutan marah atau terlibat dalam pertengkaran tidak pernah menyelesaikan masalah. Ketika membiarkan diri kita tersulut marah, kita tak pernah bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. kita terus menumpukkan ‘bara’ di hati dan kepala kita masing-masing.

Namun kita juga bisa belajar. Ada masanya aku mencoba mengingat diri, dan melatih diriku untuk mengendalikan egoku. Di saat itulah, aku merasakan damai di hati yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku berusaha mengingat think out of the box; yang biasa digunakan oleh orang-orang dalam proses kreatif. aku merasa ini juga bagian dari proses kreatif kita sebagai manusia, dimana kita diberi kemampuan oleh Sang Pencipta untuk dapat seolah me-freeze-kan waktu dan emosi sesaat kita saat terlibat dalam suatu hal sulit. Berusaha melihat secara lebih makro dan keseluruhan, bahwa kemarahan, emosi negatif, juga memahami setiap porsi kesalahan yang diriku-dirinya-kita bersama buat dalam masalah ini. Menyadari diri kita sepenuhnya, dan belajar membuat  solusi yang tepat  dalam setiap masalah.

Di saat itulah, aku sadar, hanya berpasrah  ke Tuhan, Yang Maha Pengasih dan Penyabar, kita bisa menghadapinya. Aku pribadi merasa diingatkan, bahwa Sang Kuasa memiliki kesabaran dan kasih yang luar biasa bagiku dan bagimu, atas segala tingkah laku kita, yang seringkali buruk. Dan masing-masing dari kita diharapkan belajar, untuk tidak membalas segala sesuatu yang buruk dengan hal buruk juga, namun dengan kasihNya, yang selalu menjadi kontroversi–“aku disakiti, kok diminta mengasihi?”  namun juga selalu menjadi jawaban akhir dari kebesaranNya dalam hidup kita.

Saat aku berdiam diri ketika berkonfrontasi dengan orang yang marah atau menunjukkan emosi negatifnya kepadaku, aku sedemikian rupa bisa memahami porsi kesalahanku, baik versiku, maupun versinya. memahami pikirannya terhadap tingkah lakuku yang menyulutnya untuk marah.

Seketika itupula aku jauh lebih kuat dan damai, meski di luar badai masih mengamuk. Masalah masih tetap ada, namun  hati dan kepala tetap dingin untuk melihat segalanya lebih jelas. Dan aku selalu mencoba mengajaknya berbicara, setelah aku meyakini diriku sudahlah mendingin dan kuat, juga ‘badai’ dalam dirinya mulai mereda. Peace is not the absence of the war, but how you deal with it. Wise people ever said that, and i believe it. Meski masih jatuh bangun, pengalaman dealing with hard people,  buatku, menjadi pengalaman dealing with myself dalam mengolah emosi diri dan mengendalikan diri sendiri–yang begitu berharga buatku. Aku belajar mendengarkan segala kritik, mengenal tipe emosi dan belajar menghadapinya,  belajar menempatkan diriku dari sisi orang lain; dan banyak hal indah lainnya yang membuatku berpikir : tidak ada yang salah dengan setiap hal yang kukira tadinya masalah.

Aku terberkati dari setiap suka dan duka hidupku, dari setiap masalah dan pencapaian dalam hidupku, apapun itu.

The most important thing is, aku semakin tahu bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap masalah yang kita hadapi, dan membantu kita berjalan melaluinya; dengan cara yang begitu indah.

 

# Cinta itu selalu mendengarkan.

on the living room, 12.14 pm.

this image is taken from Paulo Coelho’s Blog. check his another  beautiful pieces on http://www.paulocoelhoblog.com

 

Rindu

aku rindu menyelami hatiku seperti dahulu.

ah, mungkin aku terlalu banyak melompati ruang di luar sana.

kukira tempatku ini dan itu, ya, ini dan itu yang ada di sana.

ternyata

aku rindu berdiam di perbatasan itu

tempatku bisa menjadi diri sendiri.

aku berharap, semakin aku merindukannya

akupun semakin ditarik ke sana.

ya, ke tempat aku bisa menyelami dalam hatiku.

semua sudah disana, tempat aku sejenak lebih lama

bersamaNya.

 

22.15 malam. dan aku masih ingin menulis kembali.