Pepes Ikan dan Pembelajaran kami di Sekolah

Saya mengalami yang namanya… Kegalauan mau masak apa dalam sehari- hari,

Yang saya pikir solusinya adalah membuat perencanaan yang cukup matang namun sederhana untuk membuat menu dalam seminggu.

Tapi di dalam menjalaninya, saya punya kelemahan dalam mengeksekusi secara runut, teratur, untuk memasak sehari- hari dengan sukses. I thought that this is one sign that relates to ADHD syndrome. Saya perlu mencari tahu lebih banyak lagi soal ini.

So, hari ini saya pikir saya mencoba merecord perasaan saya. Saya menamakan ini sebagai ‘perasaan bingung dan lelah dalam memasak yang kreatif dan efektif’.

Tapi hari ini saya mencoba melawan kebingungan saya dengan mengeksekusi masak pepes ikan, resep baru yang selama ini belum pernah saya lakukan seumur hidup hehe. Perasaan bangga hadir di hati sejak saya mengambil daun pisang di ksbun dekat tetangga. Haha funny isn’t it? Belum pernah karena sejak kecil saya belum pernah diajari masak oleh mama saya. Oleh karena itulah saya merasa anak saya harus suka memasak dari hatinya sejak dini. Karena dalam memasak dia pun belajar menggunakan inderanya, mengeksekusi dengan berani bahan-bahan masakan yang ada… Dan punya tujuan akhir : menghasilkan masakan yang enak dan sehat tentunya!

Jadi saya pikir, saya belajar membuat perbedaan juga bagi diri saya dan dirinya.

Anyway, 3 minggu sudah Joslynn dan kami orang tuanya memiliki ritme baru, bersekolah. Saya pikir yang belajar ya orang tuanya juga, karena akhirnya juga melihat pengalaman orang tua dan anak-anak lain, menjalin relasi dan ngobrol sama orang tua lain. Saya pribadi bersyukur buat pengalaman ini, karena kalau saya bersikeras mau me’nahan’ anak untuk smpai tahun depan untuk Bersekolah langsung di TK saja.. Ya.. Saya me’nunda’ juga pengalaman ini untuk tahun depan mungkin.

Bagi Joslynn, saya berharap ini juga mengawali pembelajarannya akan kedisiplinan bersama ‘orang lain’ bukan melulu dia tahu hanya Ibu Bapaknya saja di rumah, tapi dia sekarang kenal sosok Ibu Guru, dan teman-temannya sepantar. Saya pikir, ini juga modal yang baik nanti untuk masuk ke dunia belajar lebih serius, asal saya dan papanya juga serius konsisten menerapkan yang sama dengan yang di sekolah sudah terapkan.

Dari beberapa hari di awal, Joslynn masih menangis takut ditinggal, sampai sekarang sudah melambaikan tangan pada orang tuanya sambil senyum– dari dorongan kami untuknya bisa mandiri dan melepaskan pampers sampai sekarang– buat kami proses sekolah ini proses belajar buat kami bersama.

semoga hal ini bisa berlangsung terus sampai ia belajar ketingkat yang lebih tinggi.

Semoga kami sebagai orang tuanya boleh senantiasa diberikan jalan dan kebahagiaan untuk mendampinginya belajar.

Semoga anak kami boleh senantiasa bahagia untuk mempelajari banyak hal baru dalam hidup.

Amin.

Advertisements

Dear Myself

Dear myself,

You’ve been told maybe a thousand times, or more, that you cannot do something.

and you’ve done believe it.

You’ve been told that you are not pretty like the others, and you’ve done believe it.

You’ve been told that you’re not deserve to live, and you’ve done believe it in the past.

it is bad. But God has lead you to not live in it.

Dear myself,

it’s time now to let it go, and forgive the person, and yourself, for letting you believe that.

in fact, they are all cannot define you by what they have said.

and forgive yourself now, for letting you making some mistake, by passing some of the anger and doubt  to your daughter. You doesn’t mean it, it’s just rely on your self-unconscious state of mind, and now you  learn to change it. 

***

In this section of my life, i am learning to change the way i talk about something, about my life, and how my words run for my daughter. Some of the self-doubt, disappointment, and anger that I’ve been pushed way deeper recent years– need to be recognized, even i passed it to my daughter. But i know I CAN CHANGE IT.

So recently, i have read a great book about how Danish folks raising their children called “THE DANISH WAY OF PARENTING”. i tried some of their great tips, and you can learn it too. they have a great website too so we can learn more even though you doesn’t buy the book yet. But trust me, they have a great book to read! that’s one of the great 101 Parenting book nowadays. But this time, i want to share one of their great article that inspired me to start writing this.

Throughout our childhood we learn to use words and sentences to describe our outer and inner reality. The language we use allows us to form mental images and tales about our past, present, hopes and dreams of the future, and to tell others about our lives. We take in a limited number of facts, assumptions, events, moods and currents to us, as long as they make sense to us.
All of these stories and information will be an important part of our sense of identity. If we are exposed to many negatively charged impulses throughout our childhood, our self-image will often bear the mark of this.
Often we develop a “cannot-mentality” if that’s what we have been told throughout our childhood. While if the opposite is a reality, supportive and affirmative impulses give a stronger and less judgmental self-image, where an “I-can-do-it mentality” dominates. We just do not think about it.

As children, we rely on caring and loving adults around us. They help us to regulate and understand our feelings. The way we are spoken to is thus crucial for what self-image we develop.
Sentences like: “She is simply so stubborn and unruly” said to a 3-year-old with a negative and judgmental undertone, the child collects it and connects it to other times, she has received something similar in the same tone. These negative and defined identity stories about “being stubborn and unruly”, she takes into adulthood as a definition of her identity.

Our reality and understanding are created with the language we use. Therefore, all changes will require a change in the language.
Think about whether you speak to yourself or your children in a supportive or inhibitory way. Words like “he is so…” or “I am too…” Are generally negatively defining and stigmatizing phrases that only intend to suppress a positive and supportive self-image.
Reform, redefine or reframe. It’s about shifting the focus from what we think we cannot create an opening for possible change.

How reframing works
Research shows that the ability to reformulate a stressed situation, a family conflict, a negative employee situation or an unhappy hysterical child can change our overall satisfaction and self-image.
Instead of saying: “she can’t”, the same sentence may sound: “she is not there yet.” Or a sentence like: “She is so touchy” can be redefined to: “Be glad, she is so good at tuning in on her own and others’ feelings.”
It opens up for the feeling of being in motion and moving. Your mindset changes the focus from a belief from: “It is just the way it is-status quo feeling” to an: “It’s possible” or “I am sure it will be absolutely fine feeling”. Your state of mind changes with your words. It also goes for our children.

We develop when we believe that our hope and dreams can succeed. We also grow when others believe in us and give us confidence.
Once we master the ability to reformulate or redefine our inhibitory/definitive language usage, we must gather the positive stories in which we succeed. It’s not about eliminating negative events (that’s often misunderstood) – they all come true – it’s just about seeing the same subject in more shades than in just one color.

Iben Sandahl, Jessica Alexander. HOW YOU THINK AND WHAT YOU SAY IS CRUCIAL TO HOW YOU MANAGE LIFE.  June 29,2018.

 

***

Diriku terkasih,

Banyak yang mengatakan, bahkan mungkin seribu kali , bahwa dirimu tak dapat melakukan sesuatu, hingga kau telah mempercayainya di masa lalu.

Dikatakan bahwa kamu tidak cantik, rambutmu sulit diatur, kamu mempercayainya, badanmu tinggi dan besar, dan kamu tumbuh dengan kikuk, dan kamu telah menjalaninya di masa lalu.

Dikatakan bahwa kamu tidak pantas untuk hidup, dan kata-kata yang tidak pantas diucapkan kepadamu, dan kamu sempat terganggu dengan kata-kata itu di masa lalu– semuanya buruk– namun Tuhan telah memandumu untuk keluar dan hidup tidak lagi di dalamnya.

Diriku yang terkasih,

Saatnya untuk melepaskan semuanya, memaafkan semuanya, dan memaafkan dirimu yang telah membuat dirimu sendiri sempat percaya semua hal yang buruk.

Sesungguhnya, semua itu tidak dapat mendefinisikan dirimu yang sebenarnya.

Saatnya untuk memaafkan dirimu sendiri sekarang yang telah menurunkan beberapa rasa ragu, amarah dan kecewa pada diri putrimu. sesungguhnya itu ada dalam alam bawah sadarmu, dan kamu BISA MENGUBAHNYA.

***

Di titik ini saya mencoba belajar untuk mengubah bagaimana cara saya untuk mengatakan sesuatu, terutama dalam hal ini, bagaimana saya menghadapi hidup, mengatakan sesuatu pada diri saya sendiri, dan bagaimana saya berkata-kata pada anak perempuan saya. Banyak keraguan, kekecewaan, amarah, yang ada pada diri sendiri, ditekan dalam dan rindu untuk dikenal dan akhirnya meledak, bahkan malah saya tularkan pada anak saya. dan saya tahu saya MAMPU MENGUBAHNYA JADI LEBIH BAIK.

Sudah lama rasanya tidak  menulis dan berkata-kata pada diri sendiri. And I cannot wait to write more about my progress here.

WhatsApp Image 2018-07-03 at 20.55.24 (1)

 

 

Do Not Follow Your Passion. Growing it.

Image

Tulisan ini saya temukan beberapa waktu yang lalu; yup, masih dalam upaya pencarian ke dalam diri , “Apa passion ku sesungguhnya?” yang tidak kunjung habis ini. Dalam hal ini, saya menilai diri saya parno, panikan dan concern serta percaya, bahwa kita, dengan mengetahui, mengenal, dan menjalani pekerjaan yang sesuai dengan passion kita, pasti akan dapat meraih kesuksesan. Saya manggut-manggut saat membaca buku dari Bung Rene Suhardono dalam bukunya Your Job is not Your Career, tanda persetujuan saya akan gagasannya tentang “Following Your Passion”.

Namun, saya kira, pandangan dari Cal Newport ini, melengkapi berbagai pendapat mengenai upaya pencarian terhadap Passion.

Follow a Career Passion? Let It Follow You

By CAL NEWPORT

IN the spring of 2004, during my senior year of college, I faced a hard decision about my future career. I had a job offer from Microsoft and an acceptance letter from the computer science doctoral program at the Massachusetts Institute of Technology. I had also just handed in the manuscript for my first nonfiction book, which opened the option of becoming a full-time writer. These are three strikingly different career paths, and I had to choose which one was right for me.

Cal Newport, a computer science professor at Georgetown, says many people lack a “true calling” but have a sense of fulfillment that grows over time.

For many of my peers, this decision would have been fraught with anxiety. Growing up, we were told by guidance counselors, career advice books, the news media and others to “follow our passion.” This advice assumes that we all have a pre-existing passion waiting to be discovered. If we have the courage to discover this calling and to match it to our livelihood, the thinking goes, we’ll end up happy. If we lack this courage, we’ll end up bored and unfulfilled — or, worse, in law school.

To a small group of people, this advice makes sense, because they have a clear passion. Maybe they’ve always wanted to be doctors, writers, musicians and so on, and can’t imagine being anything else.

But this philosophy puts a lot of pressure on the rest of us — and demands long deliberation. If we’re not careful, it tells us, we may end up missing our true calling. And even after we make a choice, we’re still not free from its effects. Every time our work becomes hard, we are pushed toward an existential crisis, centered on what for many is an obnoxiously unanswerable question: “Is this what I’m really meant to be doing?” This constant doubt generates anxiety and chronic job-hopping.

As I considered my options during my senior year of college, I knew all about this Cult of Passion and its demands. But I chose to ignore it. The alternative career philosophy that drove me is based on this simple premise: The traits that lead people to love their work are general and have little to do with a job’s specifics. These traits include a sense of autonomy and the feeling that you’re good at what you do and are having an impact on the world. Decades of research on workplace motivation back this up. (Daniel Pink’s book “Drive” offers a nice summary of this literature.)

These traits can be found in many jobs, but they have to be earned. Building valuable skills is hard and takes time. For someone in a new position, the right question is not, “What is this job offering me?” but, instead, “What am I offering this job?”

RETURNING to my story, I decided after only minimal deliberation to go to M.I.T. True to my alternative career philosophy, I was confident that all three of my career options could be transformed into a source of passion, and this confidence freed me from worry about making a wrong choice. I ended up choosing M.I.T., mainly because of a slight preference for the East Coast, but I would have been equally content heading out to Microsoft’s headquarters near Seattle. Or, with the advance from my first book, I could have hunkered down in a quiet town to write.

During my initial years as a graduate student, I certainly didn’t enjoy an unshakable sense that I had found my true calling. The beginning of doctoral training can be rough. You’re not yet skilled enough to make contributions to the research literature, which can be frustrating. And at a place like M.I.T., you’re surrounded by brilliance, which can make you question whether you belong.

Had I subscribed to the “follow our passion” orthodoxy, I probably would have left during those first years, worried that I didn’t feel love for my work every day. But I knew that my sense of fulfillment would grow over time, as I became better at my job. So I worked hard, and, as my competence grew, so did my engagement.

Today, I’m a computer science professor at Georgetown University, and I love my job. The most important lesson I can draw from my experience is that this love has nothing to do with figuring out at an early age that I was meant to be a professor. There’s nothing special about my choosing this particular path. What mattered is what I did once I made my choice.

To other young people who constantly wonder if the grass might be greener on the other side of the occupational fence, I offer this advice: Passion is not something you follow. It’s something that will follow you as you put in the hard work to become valuable to the world.

Cal Newport is the author of “So Good They Can’t Ignore You.”

So, saya garis bawahi dan highlight Penemuan saya yang teranyar soal apa yang disebut PASSION ini.

Passion is not something you follow. It’s something that will follow you as you put in the hard work to become valuable to the world.

Dengan bekerja keras untuk melakukan sesuatu yang berharga, bahkan bagi Dunia, maka passion itu tumbuh. Dan yup, mulailah saat ini saya mengevaluasi diri saya mengenai hal tersebut.

Image

Bagaimana denganmu, kawan? sudahkah dirimu menumbuhkan passionmu? menemukannya?

 

Selamat beristirahat, semoga Tuhan memberkati semua hal baik yang kita lakukan.

 

One Day My Soul Just Wake Up.

Image

Sudah lama tidak menulis lagi. Saya merasa dunia saya berjalan begitu cepat. setiap hari sepertinya berpacu dengan waktu : ) duh, sepertinya sok sibuk sekali ya? tapi itu yang saya rasakan. rasanya sampai tidak memiliki waktu untuk merefleksikan diri sendiri, dan apa yang terjadi dalam diri saya pribadi. Seorang teman dan mentor saya dulu (duh, sudah lama tidak bersua dengannya)  mengenalkan saya pada sebuah metode refleksi diri sebagai karunia dari Tuhan untuk mampu bercermin terhadap diri kita sendiri, tentang apa yang terjadi, dan bagaimana ini bisa jadi pelajaran dan satu tali yang mengeratkan kita kembali pada Sang Pencipta yang Maha Kasih.

Di sabtu siang yang mendung saat ini, sambil berusaha menyetrum kembali kabel hidup saya yang dulu dengan saat ini  (kadang saya merasa, hidup saya  yang dulu, mimpi-mimpi saya yang tertulis di dalam pikiran dan hati sedikit banyak nyempil di sudut sana dan tidak sempat lagi terjamah saking padatnya waktu ngantor). saya senang bisa punya waktu yang melimpah untuk menyempatkan diri saya menulis jurnal kembali.

Pikiran saya sering melanglangbuana saat mengalami kejenuhan dengan rutinitas sehari-hari. salah satunya, tentang passion. Saya bekerja di satu instansi yang menekankan pelayanan (service) ke orang lain. bekerja di bagian management nya, saya memang nda begitu terlibat langsung dengan kegiatan utama dari instansi ini. but we serve the human who run for these services. ya, setahun pertama bekerja, saya diberi kesempatan belajar menjadi HRD staff di perusahaan tersebut. saya sambil berpikir, tujuan awal saya mau bekerja disana, karena saya merasa saya punya passion untuk memberikan service untuk orang lain; memiliki kreativitas dan semangat yang sangat cocok untuk instansi yang baru bertumbuh ini. dalam perjalanannya, memang banyak sekali hal yang kupelajari disana. dari bagaimana kita beirnteraksi dengan banyak orang yang berbeda latar belakang, watak, usia, kebiasaan, dan perangainya–hingga ilmu administratif, hukum, hingga keuangan. sifat dan kebiasaanku banyak kutemukan ternyata bentrok dengan dinamika di perusahaan tersebut.sedihnya, kadang saya menemukan, bahwa ini bukan kecintaan saya. mengapa sedih? karena di perusahaan yang mengutamakan pelayanan dan kasih pun, saya sampai saat ini belum merasa menjadi bagian dalam perusahaan ini. passion tidak tumbuh dalam hati ini. Ada sebuah quote yang begitu menarik dari artikel yang saya baca : “Nothing seems like work if we want to do it”.  Hm, faktanya, selama ini saya merasa di push untuk menjalani berbagai tugas kantor. Saya menyadari bahwa saya perlu mengembangkan diri saya lebih banyak tenatang kemampuan praktis dan ilmiah untuk mengerjakan tugas-tugas kantor saya yang sekarang.

Saat ini saya mengambil sisi positif dari pengalaman ini : saya sadar bahwa saya perlu untuk mengetahui dan benar-benar menghidupi passion dalam hidup saya. Saya yakin, bila dimulai dari kecintaan terhadap bidang yang sungguh saya sukai, tentu tidak akan sulit bagi saya untuk berkembang jauh lebih pesat.

Saya sadar sepenuhnya, sifat saya cukup keras untuk mau membuka diri terhadap kritik dan belajar lebih banyak.

ternyata, yang selama ini saya baca, bahwa ada orang yang memang punya sifat keras dan sulit berubah, kecuali berangkat dari dirinya sendiri… ada di dekat saya, ya saya sendiri : )

Luar biasa ya, saya seperti baru menemukan diriku sendiri yang berbeda akhir-akhir ini. ya, mungkin ini adalah proses percepatan belajar. Bos saya, yang cukup concern dengan perkembanganku yang dari fresh graduate dan pontang panting di percepatan pembangunan perusahaan tempatku bekerja agar jadi lebih baik dari hari ke hari, mengatakan perlu sekali diriku dibanting dan dipukul dulu agar bisa jadi lebih baik. saya nyengir, dan mengangguk karena memang saya merasa harus demikian. wah, dikritik orang memang rasanya luar biasa ya!  seringkali saya marah bahkan saat dikritik, rasanya tidak nyaman, seperti ditelanjangi! saya mengatakan hal itu kepada kekasih saya, yang juga menjadi sahabat saya dan begitu tahu saya. seringkali ia bersabar (kadang jadinya ikut marah dan membuat hubungan kami menjadi tidak nyaman) dalam  menghadapi saya yang keras kepalanya minta ampun. ternyata, apa yang saya kira saya tidak suka selama ini : orang yang emosional, mengumpat, berpikiran negatif, juga ada di dalam diri saya. cukup membuat saya sedih dan tertampar.  saya belajar, bahwa tidaklah berguna merasa diri kita sudah oke tanpa adanya kerendahan hati untuk menerima kekurangan diri dan menerima bahwa orang lain bisa tahu diri kita lebih baik dari kita sendiri. terima kasih karena kekasih saya yang setia telah membantu saya hingga saat ini untuk berubah jadi lebih baik.

Saya sangat tersemangati ketika saya membaca kembali artikel dari Rene, ada sebuah quote “How can you really be positive if you don’t even acknowledge negativity?” ada hal yang bisa saya syukuri selalu dalam hidup saya. tentu kita semua bisa merasakannya. Terima kasih Tuhan, saya diberi kesempatan untuk terus merefleksikan diri, menerima kekurangan yang ada, dan mau bangun kembali.

Ada hal yang saya pelajari : jangan melabeli diri kita sendiri sudah cukup belajar, sudah menjadi terbaik, tanpa tahu peta kemampuan diri, passion, dan tujuan hidup kita lalu menutup diri untuk adanya kesempatan belajar, apapun itu.  saya punya satu mimpi yang saya sendiri ragu dan nda punya commitment untuk memulai. saya terus memarahi dri saya sendiri : mau sampai kapan,heh? tentu tidak seperti ada preman yang nagih hutang, namun cukup keras untuk membuat saya mau bangun dari tidur dan being a so-so. Pertanyaan tentang “apa passion saya sesungguhnya?” dan what is the purpose of your life? ini begitu membuat saya merasa sangat menghargai waktu hidup saya. Having goals is NOT the same as having a clear purpose of life, demikian quote di artikel penulis yang saya suka, Rene Suhardono. membahagiakan dan mencintai keluarga seringkali dinyatakan sebagai tujuan hidup. Sangat tersentil saya saat membaca bahwa membahagiakan keluarga itu sebenarnya adalah standar minimum yang bisa dijalankan, dan bagaimana kita memiliki kepedulian yang lebih luas di hati kita untuk memperjuangkan segala sesuatu yang bernilai. apa yang membuat saya tersentil? karena saya merasa untuk standar minimum ini saja, saya belum menjalankannya dengan baik.

Berhenti menyalahkan orang lain tentang apa yang terjadi pada diri kita sampai saat ini. syukuri yang ada, beri tempat dan maaf bagi diri sendiri. saya tengah memulai kembali perjalanan saya dengan Tuhan. ini awal yang baru. saya mau menghargai waktu yang diberikanNya dengan lebih baik. saya merasa saya mau mulai dari nol untuk perubahan ini. kadang merasa seperti robot dalam menjalankan keseharian, dan saya tahu, ini tidak baik. saya harus memberi hati untuk menjalani segalanya.

Saya pernah tergabung dengan satu kelompok penulis Katolik yang beberapa anggotanya saya rasa punya passion besar terhadap bidang penulisan dan jurnalistik. ada yang concern terhadap bidang psikologi dan pendidikan,  ada yang concern terhadap masyarakat dan politik, tergabung dalam kelompok LSM pemerhati tayangan televisi; ada yang menjadi budayawan, wartawan–satu kata buat mereka wow! whenever there’s passion, there is awesome performance. sungguh, masing-masing diberi Tuhan talenta yang begitu mereka kembangkan. Salah satu teman dan senior dari kelompok itu kini telah berpulang kepadaNya, karena kecelakaan Sukhoi di Bogor beberapa waktu lalu. turut berdoa bagi kedamaian dirinya disisi Tuhan saat ini. Saya yakin, (meski tidak pernah mengenal langsung dirinya karena saat pelatihan kami tidak pernah ngobrol bersama) di titik ia memberikan dirinya kembali ke Sang Pencipta, dirinya telah menemukan jalan hidup dan kecintaannya pada bidang jurnalistik dan penulisan. God really loves you, may you rest in peace,dear.  http://bit.ly/JjZK41 , http://bit.ly/MFUA5G .

Saya bahagia pernah mencicipi bergabung bersama mereka walau hanya satu minggu pelatihan, itu juga titik poin bagi saya untuk mulai mencari kembali, dimana hati saya sungguh bahagia dan membuncah? dimana area yang perlu saya kembangkan? karena saya tidak tahu, kapan diri saya diminta kembali kepadaNya, dan ketika talenta yang saya miliki belum mampu saya kembangkan, pasti akan sangat menyedihkan bagiku, dan bagiNya. One Day My Soul Just Wake Up, adalah sebuah judul buku diskon yang saya beli di sebuah toko buku di Depok. isinya belum saya baca keseluruhan, namun judul nya cukup eye catching untuk saya ingat; dan ya, this is the day. my soul have to be wake up early, since i’m still alive. 

I will never leave you, You said.

My Lord God, I have no idea where I am going,

I do not see the road ahead of me.
I cannot know for certain where it will end.

Nor do I really know myself,
and the fact that I think I am following your will
does not mean that I am actually doing so.

But I believe that the desire to please you does in fact please you.
And I hope I have that desire in all that I am doing.

I hope that I will never do anything apart from that desire.
And I know that if I do this you will lead me by the right road,
though I may know nothing about it.

I will not fear, for you are ever with me,
and you will never leave me to face my perils alone.

 

by Paulo Coelho.

it’s lovely to share to you; since i started to pray like this way of surendering to Him =)

(Luke 1:38)

http://www.paulocoelhoblog.com

 

this beautiful image was taken from flicker : http://bit.ly/fbHPM5

hei Angel :)

I’ve got an angel, She doesn’t wear any wings.

She wears a heart that can melt my own
She wears a smile that can make me wanna sing
She gives me presents
With her presence alone
She gives me everything I could wish for

 

 

 

She gives me kisses on the lips just for coming home

She could make angels
I’ve seen it with my own eyes
You gotta be careful when you’ve got good love
Cause the angels will just keep on multiplying

But you’re so busy changing the world
Just one smile can change all of mine
We share the same soul. 🙂

play : Jack Johnson “Angel”. this is a lovely song for me 🙂

Blessed Day, November 12, 2010.

*) this illustration was taken from Google Images, 2010.